26.12.12

Racauan Pasca Natal (2)

1. Saya suka dengan hubungan Long Distance Relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh. Menurut saya itu menguji keseriusan hubungan seseorang, mau gak mati-matian mempertahankan hubungan yang memiliki jarak.

2. Skin-ship dalam sebuah hubungan itu penting. Penting sekali. Entah sekedar genggaman tangan, pelukan erat, cuddling, atau ciuman hangat.

3. Saya pernah berpikir untuk memiliki anak tapi tanpa suami. Iya, adopsi.

4. Pacaran (lagi) belum menjadi prioritas saya. Tidak tahu ya, mungkin untuk sekarang berteman tanpa batas lebih terdengar menyenangkan.

5. Saya bisa menghabiskan aktu lebih dari 12 jam di depan layar laptop atau komputer.

6. Saya pemaaf, tapi selalu ingat apa pun yang orang lain pernah lakukan terhadap saya. Sekecil apa pun. Seperti dulu, saya punya teman yang sekarang menjadi salah satu orang terdekat saya. Padahal dulu pada saat masa orientasi kuliah, dia tidak pernah berpikir untuk mengajak saya kenalan. Iya, dia lebih memilih untuk berkenalan dengan perempuan di sebelah saya yang lebih cantik.

7. Kalau saya tanpa sengaja melihat orang yang saya tahu namun tidak dekat di suatu tempat, saya akan memilih untuk kabur atau sembunyi. Saya malah berbasa-basi.

8. Saya suka sekali makan. Saya makan bukan karena lapar, tapi karena saya mau.

9. Saya orangnya gak suka kerja di luar petunjuk. Males nyari cara lain sebenarnya dan itu bikin saya sering dimarahin. Katanya "Inisiatif dong kamu.." Yeah~~

10. Penunda pekerjaan sejati. Lagi berusaha untuk membenahi hal ini, karena ternyata akibatnya buruk sekali.

11. Gak percaya sama ramalan, tapi percaya kalau orang yang memiliki bintang yang sama memiliki kepribadian yang mirip. Gak tau sih, tapi kebanyakan benarnya.

Racauan Pasca Natal

Gak tahu sih mau menulis apa, sepertinya akan meracau saja hari ini. Meracau tentang apa yang memang ada di pikiran. Sekarang saya sedang di rumah yang ada di Tangerang Selatan, rumah orang tua saya. Iya, saya sedang liburan karena Natal dan Tahun baru. Oh iya, Selamat natal bagi kia semua dan semoga Tuhan Yesus selalu menyertai kita dimana pun kita semua berada.

Senang sekali natal kali ini saya bisa merayakannya bersama keluarga besar, walaupun keluarga saya bukan tipe yang akan makan duduk bersama  dan berdoa bersama. Hal ini disebabkan karena, sederhananya, keluarga kecil saya tidak lagi merayakan Natal. Ada alasan sendiri di balik hal tersebut. Namun, saya pribadi sangat menyukai suasana natal dan merayakannya secara pribadi. Jadi malam natal, atau yang dikenal sebagian besar orang sebagai "Christmas Eve" tahun ini saya merayakannya dengan teman-teman gereja saya di rumah salah satu penatua gereja. Saya bertemu sahabat saya Madeline yang memang selalu saya rindukan karena sebagian besar tempat bercerita saya ya dia. Pada saat makan malam kami bercerita banyak hal. Tentang kandasnya cerita cinta Madeline yang berhasil dia atasi dengan sangat baik (I'm proud of you, Fab) dan tentang problematika cinta saya sendiri. Biasalah, perempuan kalau sudah bertemu apalagi kalau bukan curhat.

Di tengah-tengah curhatan saya, saya melontarkan pernyataan bahwa saya gak percaya kalau dalam sebuah hubungan tanpa status, yang banyak ruginya itu perempuan. Banyak orang berpikir kalau dalam hubungan tanpa status perempuan banyak ruginya, istilah kasarnya "dimanfaatkan" oleh laki-laki, entah dari segi perasaan maupun hubungan seksual. Menurut saya, si perempuan juga sama memanfaatkannya dengan si laki-laki. Si perempuan juga sama-sama dapat kepuasan kan? Kalau pun ada perasaaan dimanfaatkan, mungkin karena orang hanya melihat dari satu sudut pandang aja. Mungkin. Atau pendapat "dimanfaatkan" itu justru berasala dari orang lain, bukan dari kedua pihak yang terlibat? Tidak tahu juga sih.

Kalau menurut kamu, bagaimana?

12.12.12

Suara

Bagaimana bisa mendengar suara seseorang melalui lagu yang ia nyanyikan dapat membuat air mata kita langsung menggenang? Seakan suara itu benar-benar berbisik tepat di kuping kita. Seolah-olah suara tersebut memang terucap untuk kita dan menciptakan kata hanya untuk kita.

Bagaimana bisa suara itu terasa begitu dekat padahal ia berada ratusan kilometer jauhnya? Seakan sang pemilik suara berada tepat di depan kita. Seolah-olah ia sedang berada di hadapan kita dan menyanyikan lagu tersebut hanya untuk kita.

Bagaimana bisa pemilik suara itu kamu? Kamu siapa sehingga bisa membuat saya menangis? Entah karena bahagia atau merindu.

10.12.12

Yes, you are...


You are the sugar to my black coffee that make it better than ever.
You are the blueberry jam to my toast that I will never resist.
You are the ink to my pen that help me to create those beautiful words.
You are the lights to my Christmas tree that make it more beautiful and mesmerizing.
And finally, you are the blanket to my bed that I can count on when I’m cold and keep me comfortable.
You complete me.

6.12.12

I don't know

Am I going to make the same path again? The same mistake? Or is it going to be a mistake only if I see it as a mistake? I do not know. As far as I know, I like what happened to me. Whatever..

2.12.12

Halo, Desember!

Merasakan jatuh cinta, lalu patah hati. Merasakan bagaimana harus bertahan dan mengendalikan diri sendiri. Merasakan rasanya jauh dari teman-teman terdekat, lalu menemukan sahabat-sahabat baru. Merasakan bagaimana rasanya berjuang sendiri, lalu merasakan juga rasanya didukung oleh orang-orang yang di luar perkiraan. Merasakan bagaimana rasanya ditolak, lalu ada yang memeluk dengan tangan terbuka. Merasakan bagaimana rasanya dibohongi, lalu dihujani dengan kejujuran dari banyak orang. Merasakan sakitnya jatuh karena ditinggal, lalu ada saja yang kembali mengulurkan tangannya untuk mengangkat kembali tubuh ini. Merasakan bagaimana jatuh cinta lagi, patah hati lagi, jatuh cinta lagi, dan patah lagi. Merasakan luka di hati, lalu ada yang membalut luka itu sehingga tidak tersisa kepahitan. Merasakan bagaimana menjauh dari Tuhan, lalu kembali ditarik supaya mendekkat. Tapi dalam segala perkara, aku tidak pernah dibiarkan-Nya sampai tergeletak.

Terima kasih, Bapa Sorgawi telah mengantarkan aku sampai bulan Desember ini. Biarlah semua itu terjadi, menjadi pembelajaran bagiku dan menguatkan aku lebih lagi. :))

Surat Seruni


Sehari setelah kejadian itu, aku menemukan beberapa lembar surat dalam laci meja belajarnya.  Dalam setiap suratnya, aku dapat merasakan sakit hati yang ia rasakan. Setiap lembarnya telah aku baca. Setiap katanya telah aku ingat. Hanya menangis yang dapat kulakukan setelah aku mengetahui betapa anakku membenciku. Betapa ia memendam dendam yang begitu dalam kepadaku, begitu lamanya. Semua itu memang karena kesalahanku , kesalahan yang telah menyakiti hatinya dan hati ayahnya. Kembali kubaca surat yang ditulisnya pada hari dimana hal itu terjadi…
***

Aroma cokelat yang tercium dari ruang tamu mengingatkan aku akan masa kecilku. Wanginya yang manis dan menyegarkan membawaku kembali ke masa dimana ayah selalu memanjakan aku dengan sekotak coklat Toblerone yang lembut dan caramel yang banyak. Menyenangkan. Karena itu aku mengutuk hari ini, esok, dan seterusnya.
 Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, namun aku memang sudah muak akan dunia ini. Nasibku yang begitu malang dan segala impianku yang hancur membuatku ingin berhenti sepenuhnya. Sepenuhnya. Terutaman dengan suara yang selalu memanggilku di pagi hari.
“Seruni, makan! Sarapan, nak.”
Suara yang membuat aku muak, membuat aku merinding. Suara ibuku. Aku tidak mengerti mengapa suara ibuku bisa berubah menjadi memuakan seperti itu. Padahal, dulu ketika aku masih kecil suara ibuku terdengar seperti suara malaikat dari surga. Dulu ketika ia membangunkan aku di pagi hari dengan suaranya yang lembut itu, aku pun terbangun dengan semangat melewati hari. Namun sekarang, mendengar suaranya saja membuat aku ingin membunuhnya. Ya, membunuhnya. Rasanya ingin aku mencekik tenggorokannya itu, sehingga tak akan ada lagi suara yang keluar dari mulutnya. Hal yang seharusnya kulakukan dari dulu. Tepat setelah suaranya berubah menjadi memuakan.
Perempuan itu menyiapkan secangkir coklat panas dan dua buah roti panggang. Menu yang telah kujalani selama 17 tahun. Bosan, sehingga aku mulai mengutuk hari ini. Kuteguk coklat panas itu sedikit demi sedikit, namun kubiarkan saja dua lembar roti itu di atas piring.
“Rotinya tidak kau habiskan, nak?”
“Tidak. Aku bosan. Lebih baik kau bersihkan saja.”
“Ibu. Kau seharusnya memanggilku ‘ibu’, Seruni.”
Namun aku tidak menghiraukan apa yang perempuan itu katakan. Ia membereskan piringku dan piring-piring kotor lainnya. Lalu ia pergi ke dapur dan aku hanya dapat melihat punggungnya dari sini. Punggungnya bergetar. Aku mulai membereskan perlengkapan sekolahku karena sebentar lagi aku harus berangkat. Kuikat tali sepatuku dan aku mulai melangkah keluar rumah, namun suara memuakan itu memanggilku.
“Seruni, ini. Jangan lupa bawa bekalmu.”
“Tidak perlu. Aku tidak mau.” Aku menjawab tanpa menoleh dan pergi dengan membanting pintu. Mungkin kalian menganggap aku anak yang durhaka, kurang ajar dan sebagainya. Namun aku mempunyai alasan yang bagus untuk bersikap seperti ini. Hitung-hitung sebagai hukuman untuk perempuan itu, dan sepertinya perempuan itu pun mengerti akan sikapku ini. Hah! Perempuan yang pengertian.

Perempuan yang pengertian. Begitulah anggapan Seruni terhadapku. Padahal aku tidak mengerti mengapa Seruni dapat berbuat senekat itu, seakan setiap perbuatanku tidak ada artinya. Sia-sia. Seruni, ayahnya, semuanya. Mereka semua tidak lagi menganggap aku benar. Tidak ada juga yang membelaku.  Ketika dulu aku bekerja demi menambah penghasilan keluarga, bekerja dengan sekuat tenaga, tidak ada juga yang menghargaiku. Ayah Seruni, yang amat dikagumi oleh Seruni, nyatanya tetap menganggap aku kurang bekerja keras. Namun bukannya bekerja sama kerasnya denganku, ia lebih memilih untuk menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang tidak berguna. Alkohol. Aku pun sudah lupa, semenjak ketergantungannya dengan minuman keras itu, seberapa sering ia benar-benar bercinta denganku. Jarang. Ia juga tidak segan-segan pulang dengan keadaan mabuk dan melayangkan beberapa tamparan padaku di waktu ia kesal. Seruni kecil tentu saja tidak menyadari perbuatan ayahnya, dan ia tetap mengidolakan ayahnya.
Setelah membaca sebagian isi surat ini, aku dapat merasakan betapa tersiksanya Seruni ada di dekatku. Tapi apakah ia juga dapat merasakan betapa aku juga tertekan dengan segala perlakuannya terhadapku? Segala perlakuan ayahnya terhadapku! Maka pada saat itu aku sempat benar-benar tidak peduli dengan rumah tanggaku. Aku ingat pertama kalinya aku bertemu dengan Harry, seorang pengusaha yang baik. Kami bertemu pada saat makan siang, dimana pada saat itu aku harus menemaninya makan siang karena ia adalah salah satu klien penting perusahaan tempat aku bekerja.  Semua berjalan dengan baik saja sampai suatu hari aku melakukan kesalahan besar yang akhirnya diketahui oleh suamiku. Mental suamiku yang memang sudah terganggu karena ketergantungannya akan alkohol, tidak dapat menerima bahwa aku berpaling ke pria lain. Pada akhirnya, ia meninggalkan aku dan Seruni karena serangan jantung. Seruni, andai kau tahu bangaimana dulu ayahmu memperlakukanku, mungkin pada saat ini kau tidak akan memperlakukan ibu seperti itu. Mungkin kau masih ada bersama-sama dengan ibu.

Sepanjang perjalanan aku baru menyadari bahwa jalan basah. Ternyata semalam hujan.  Kuinjak genangan air sisa hujan semalam. Aku suka bermain air, mengingatkan aku akan ayah.  Ayah yang baik. Sekolah akhirnya kelihatan di ujung jalan. Aku sebenarnya suka sekolah, namun… menjadi tidak menyenangkan karena suatu hal. Kelas pertama adalah fisika. Menyenangkan, kalau saja sang guru tidak terlalu banyak menyebut namaku di depan kelas. Dia terlalu cerewet, terlalu mengumbar kata-kata yang tidak penting. Ia selalu berkata, “Seruni coba kerjakan…” atau, “Coba kalian seperti Seruni..”. Cerewet! Kali ini ia menyuruhku mengerjakan soal di papan tulis dan senang berlebihan ketika aku bisa menyelesaikannya dengan benar. Setelah kelas berakhir, ia menghampiriku.
“Seruni, kamu akan ibu sertakan dalam Olimpiade Fisika Tingkat Nasional tahun ini. Besok kita mulai latihan soal-soal.”
“Tapi bu….”
“Saya harap tidak ada argumen dari kamu. Kamu adalah harapan terbesar ibu, Seruni.” Ia pun melangkah pergi. Suara sepatunya yang keras membuatku ingin mematahkan kedua kakinya itu, agar tidak lagi terdengar. Sejenak aku memikirkan kata-katanya tadi. Ingin rasanya aku menyumpal mulutnya sehingga ia diam dan berhenti mengaturku. Atau haruskah aku membunuhnya juga?

Tidak terasa sudah waktunya pulang. Tandanya aku harus berhadapan lagi dengan perempuan itu. Menyebalkan. Dan ternyata genangan airnya sudah kering. Jarak antara rumahku dan sekolah cukup dekat, dan aku pasti melewati sebuah toko kue kecil. Aku selalu mampir untuk membeli sebuah blueberry cheesecake setiap hari. Setidaknya ada satu hal menyenangkan setiap harinya.
“Blueberry Cheesecake lagi, nak?”
“Iya.”
“Kau benar-benar menyukainya ya? Ini. Hari ini gratis. Karena kau pelangganku yang paling setia.”
“Terimakasih.”
Aku keluar dari toko itu. Bibi yang benar-benar baik. Aku pun berhenti sejenak di taman untuk melihat kueku. Cantik dan menggiurkan. Tapi aku tahan nafsuku untuk memakannya. Akan kumakan di rumah. Memakannya di rumah dapat memberikan aku kebahagiaan di tengah suasana yang menyebalkan.
Sesampainya aku di rumah, aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Kusantap blueberry cheesecake dengan perlahan. Menikmati segala kelezatan yang ada. Ketika sudah hampir habis, tiba-tiba perempuan itu mengetuk pintu kamarku. Dasar pengganggu.
“Seruni? Kau sudah pulang nak?” seru perempuan itu. Namun aku tidak menjawab. “Seruni? Bisa tolong keluar sebentar?”
Aku membuka pintu kamar setelah sejenak aku berpikir. Aku menatapnya, tetap diam.
“Seruni, ibu tadi ditelepon oleh pihak sekolah. Mereka mengatakan bahwa prestasimu menurun drastis semester ini. Ada apa nak?”
“TIdak ada apa-apa.”
“Nak, kalau ada yang perlu kamu bicarakan kamu bisa bilang pada ibu.”
“Tidak ada apa-apa. Sekarang boleh aku kembali ke kamar?”. Aku mulai beranjak ke kamar ketika tiba-tiba perempuan itu menarik lenganku. Rasanya ingin kutampar dia. Bagaimana bisa ia menyentuhku dengan tangannya yang kotor itu? Aku sadar sekarang aku menatapnya dengan sangat bengis dan aku tidak peduli.
“Kau tidak sepantasnya melakukan ini pada ibu. Apa salah ibu, nak? Sehingga kau selalu bertindak seolah ibu tidak ada di depanmu? ”
“’Apa salah ibu?’? Kau malah tidak tahu salahmu apa? Kau tidak ingat apa yang kau perbuat terhadap ayah dulu?”. Perempuan itu tercengang mendengar jawabanku ini. Matanya terbelalak, dan mulutnya seperti dibungkam oleh sesuatu sehingga tidak dapat membalas perkataanku.
“Kau.. kau masih mempermasalahkan hal itu, nak? Setelah sekian lama ibu sudah… ”
“Meminta maaf? Bagiku, kesalahanmu adalah untuk selamanya. Dan aku sudah memutuskan bahwa mungkin dengan begini, dengan menganggapmu sebagai angin lalu, itu dapat menjadi hukuman yang pantas untukmu. Kau lah penyebab dari kematian ayah!”.
Plak! Kurasakan panas di pipiku. Ternyata perempuan itu menamparku. Huh.
“Tidak seharusnya kau menyalahkan ibu atas kematian ayahmu. Tolong mengertilah, Seruni… ”. Perempuan itu mulai menitikkan air mata. Air mata buaya, pembohong. Dulu perempuan itu juga pernah berbohong. Berbohong kepadaku dan ayah. Dasar perempuan yang tidak setia!
“Tidak ada gunanya menangis. Kau memang bersalah. Dan aku akan selalu mengingatnya,”.
“Seruni, kau adalah satu-satunya yang ibu miliki di dunia ini. Jangan kau seperi ini, nak. Kau satu-satunya harapan ibu.”
“Jangan pernah mengucapkan satu kata lagi dari mulutmu! Kalau kau tetap berbicara, aku akan membunuhmu! Ya, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu sekarang! Suatu saat aku pasti akan membunuhmu. Jadi, lebih baik kau diam!” Dengan cepat aku masuk ke dalam kamar.
Akan aku bunuh semua! Semuanya! Hari ini juga, akan aku bunuh semuanya!

Kupandangi lagi surat itu. Setiap kata yang ia tulis sama dengan apa yang diucapkannya dan yang aku ucapkan. Aku kembali mengingat bagaimana pagi itu aku menemukannya di dalam kamar. Dimana hilanglah harapan hidupku pada saat itu juga…

Pagi ini telah kusiapkan coklat panas dan dua lembar roti panggang seperti biasanya. Aku tahu pada akhirnya Seruni hanya akan meminum coklat panasnya.
“Seruni, makan! Sarapan, nak!” Itulah kata-kata yang aku ucapkan setiap pagi. Kulihat jarum pada jam dinding, dan tidak biasanya Seruni begitu lama keluar kamar setelah kupanggil untuk sarapan. Kuberanikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya. Jujur, aku merasa sangat terluka dengan  segala perkataan Seruni kemarin. Setelah pertengakaran kemarin siang, Seruni tidak keluar lagi dari kamar. Kupanggil beberapa kali untuk makan malam, namun ia tidak menjawab. Seperi sekarang ini.
“Seruni, makan nak. Sarapannya sudah siap. Nanti kau terlambat sekolah kalau tidak dimakan sekarang.” Tidak ada jawaban. Akhirnya aku mencoba membuka pintu kamarnya dan ternyata tidak dikunci. Kuintip dahulu, takut Seruni tidak suka akan perbuatanku ini. Kenapa kamar ini begitu gelap? Apa dia masih tidur? Aku pun masuk untuk menyalakan lampu. Namun aku menginjak sesuatu yang aneh, sesuatu yang basah, hangat dan agak kental. Aku pun cepat-cepat menyalakan lampu dan apa yang kulihat adalah pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupku. Seruni, dengan memakai daster putih pemberian terakhir ayahnya, disimbahi oleh darah yang mengalir dari pergelangan tangan kirinya. Aku histeris. Kupeluk dirinya yang yang berwajab pucat kebiru-biruan dan tubuh penuh darah. Di dekat tangan kanannya terdapat secarik kertas dan potongan sisa blueberry cheesecake. Aku membacanya.
“Aku sudah membunuh kalian. Lihat, aku sudah membunuh kalian semua. Aku sudah membunuh harapan kalian padaku. Sudah kubunuh semuanya.” –S.

Kukumpulkan surat-surat itu dan kukembalikan ke dalam laci meja belajarnya. Surat Seruni. Maafkan ibu, nak. Maafkan ibu…

5.11.12

Pesona Pagi

Ketika cahaya matahari menembus tirai jendela, memberikan pancarannya yang hangat langsung menuju kedua kelopak mata, aku pun tersentak bangun. Mungkin bukan tersentak, namun secara sadar aku bangun. Aku bangun dari istirahat panjangku. Aku bangun dari tidurku yang lelap. Aku bangun dari mimpi-mimpi yang membuai sepanjang aku memejamkan mata. Aku bangun dari setumpuk khayalan.

Oh....kenyataan. Kenapa juga aku harus terbangun? Kenapa juga aku harus meninggalkan mimpi-mimpiku semalam? Kenapa? Haaaah...lelah. Lalu kutengok jendela di sebelah tempat tidurku, yang menyelipkan jutaan cahaya matahari, yang menyebabkan aku terbangun, yang menyebabkan aku harus menjalankan kembali rutinitasku. Sejenak aku hendak mengumpat, memarahi sang jendela yang mengijinkan cahaya-cahaya itu rembes melalu tirai. Sejenak aku hendak memaki! Namun ketika aku menajamkan penglihatanku ke luar jendela sana, terlihat burung-burung berkicau di atas genting rumah tetangga. Mereka melompat-lompat kecil, bercengkrama layaknya kerabat yang saling bertanya kabar. Ha ha, mereka terlihat gembira ya? Kulongokkan lagi kepalaku, lebih menjulur dari sebelumnya. Kau tahu apa yang aku lihat? Seekor kucing sedang merebahkan badannya diatas teras rumah yang tersiram cahaya matahari. Kau boleh bilang aku berhalusinasi, tapi mulut kucing itu benar-benar membentuk senyum. Senyum! Ha ha ha.. Kucing itu terlihat nyaman dan bahagia sekali tidur di bawah hujan cahaya matahari.

Lalu, kutengadahkan kepalaku ke langit untuk melihat matahari itu sendiri. Silau! Matahari, kenapa kamu begitu egois? Seakan-akan tidak ada yang boleh menantangmu, bahkan ketika hanya lewat pandangan. Kalaupun memang boleh, seakan-akan kau menantang semua orang untuk melawanmu. Melawanmu dengan senyum, marah, gelisah, sedih, apapun..

Banyak yang mengutuk pagi karena merasa harus melakukan hal yang sama lagi, karena harus menuntaskan sesuatu, atau hanya karena terlalu takut menjalani hal-hal baru. Tapi ketika kulihat semua hal-hal kecil tadi, pikiranku berubah dan penilaianku terhadap pagi. Pagi tidak seburuk yang kubayangkan. Kamu tahu, ternyata cahayanya dapat memberikan semangat yang belum tentu orang-orang sekitarmu dapat berikan. Memang pesonanya tidak semeriah siang. Ia juga tidak semabukkan senja dan tidak seanggun malam, tapi ketika semburat kuningnya memacar, maka kamu tidak dapat lagi mengelak untuk tetap tinggal di dalam mimpi. Itulah bentuk kegoisannya. Cahayanya akan menemani kamu untuk bangun dan menjalani hari sampai kamu menemui cahaya yang lain. Dia awalmu di setiap pagi. Dia pendukung nomor satu dan teman pertama dalam menjalani hari. Terima kasih, pagi.. :)

27.9.12

Sekedar Tulus

Saya kembali belajar tentang hal yang sebenarnya tidak terlalu baru namun hari ini saya diingatkan untuk kesekian kalinya bahwa hal tersebut itu penting. Masalah hari ini adalah tentang ketulusan. Sering kali atau bahkan dari kecil saya sudah diajarkan untuk berlaku tulus di dalam hidup. Saya sempat bingung apa sebenarnya berlaku tulus itu. Apakah sekedar melakukan sesuatu yang kita inginkan? Kalau begitu banyak sekali hal yang saya lakukan dari dulu tanpa ketulusan. Namun hari ini saya merasa ditegur kembali oleh kenyataan bahwa apapun yang kamu lakukan HARUS BERDASARKAN KETULUSAN.

Sore ini ada salah satu teman saya yang mengeluh tentang usulan penelitiannya yang ternyata memiliki ide yang sama dengan temannya yang lain. Ia merasa kesal karena ia merasa idenya telah dicuri. Lalu masalah itu akhirnya terdengar juga oleh salah satu dosen saya yang kebetulan ada di ruangan yang sama. Setelah mendengar pokok permasalahannya, ada pendapat yang menarik yang beliau kemukakan. Dosen saya bilang, ketulusan mereka dalam mengerjakan skripsi itu berbeda. Yang satu memiliki ide itu karena ia merasa penting untung membahasnya, tapi yang satu memiliki ide tersebut karena berpikir itu adalah syarat untuk lulus.

Terus beliau memberi contoh lainnya. Misalkan kita lapar dan untuk itu kita makan mie ayam. Lalu ada orang lain yang bilang, "Kok makan mie ayam? Kenapa gak makan nasi?". Bukannya kalau kita makan nasi, nanti kita makannya tidak akan setulus waktu kita makan mie ayam? Jadi alasan mengapa kita makan mie ayam, ya karena kita ingin makan mie ayam, tanpa tujuan tertentu. Sama halnya apabila kita memberi hadiah untuk seseorang, bukan agar orang tersebut senang atau membalas hadiah kita, tapi ya karena ingin memberi hadiah saja. Terdengar mudah dan sederhana, tapi masih sering gagal dalam hal ketulusan.

Jadi, yang saya dapatkan pada hari ini adalah untuk berlaku tulus, kita cukup melakukan apa yang kita inginkan, tanpa mendambakan balasan apa pun. Sulit, karena balasan itu terdengar indah. Tapi mau bagaimana juga balasan belum tentu selalu datang, kan? Jadi memang sebaiknya tidak mengharapkan apa-apa, ya kan?


p.s. semoga saya bisa mengerjakan skripsi saya dengan tulus ya, teman-teman. sepertinya itu menjadi dasar yang penting untuk menuntaskannya...

8.9.12

Sang Penari (2)

Gesekan kaki di lantai sudah mulai terdengar. Selendang yang tadinya teronggok di sudut ruangan sudah kembali diikat di panggul. Rambut yang telah lama terurai acak kini kembali terikat kencang rapi, membentuk sanggulan kecil di bagian mahkota kepala. Tubuh yang sempat hanya duduk lesu di tengah panggung, sepertinya sudah siap menciptakan gerakan-gerakan khasnya, yang dulu banyak memikat orang. Lihat! Ia sudah mulai bergerak! Gerakannya semakin mantap, jauh lebih baik dari pada gerakannya yang terdahulu.

Musik? Kenapa ruangan ini sunyi? Kenapa tidak ada alunan musik? Dulu bukannya ia baru mau menari apabila ada iringan musik dari pemusik kesayangannya? Lalu mengapa sekarang ia malah menari-nari dengan riangnya tanpa sedikit pun dentingan nada, seakan musiknya ada, tetapi hanya ia yang bisa mendengar?

Aku, sang penari, yang dulu tergolek tanpa daya ketika tahu pemusikku pergi mengembara entah kemana dan entah mengapa. Aku, sang penari, yang dulu kerap menunggu pemusik kesayanganku  datang kembali ketika aku tahu ia menghilang. Aku, sang penari, yang telah bosan dengan segala ketergantunganku akan pemusik, pemusik mana pun. Aku, sang penari, yang akhirnya sadar bahwa bukan si pemusik yang menciptakan tarianku, tetapi aku yang memukau orang-orang dengan lenggokku.

Aku akan ciptakan lagi melodiku sendiri. Aku akan mulai lagi semua dari awal, dari sebelum aku memiliki ketergantungan akan pemusik. Musik untuk tarianku akan berasal dari diriku sendiri, bukan dari yang lain. Musikku akan berasal dari suara angin, suara hujan, suara daun-daun bergesekan satu sama lain. Musikku akan berasal dari suara tepuk tangan penonton, suara sorak-sorai mereka, suara ketika mereka meminta aku untuk menari kembali. Musikku akan berasal dari suara gesekan kursi di lantai, suara pintu terbanting, atau bahkan suara gelas kaca yang beradu dengan marmer.

Aku, Sang Penari, akan menciptakan tarian solo, yang diiringi musik ciptaanku sendiri. Bukan berarti aku tidak rindu pemusikku, tapi ini panggungku.


21.7.12

Masyarakat Tutu Bersenang-senang

Sekitar pukul tujuh malam, saya mulai membuka lemari pakaian dan merenung sejenak, "Pakaian apa yang akan saya bawa ya?" Banyak hal yang saya khawatirkan. Apakan baju yang saya bawa akan terlalu sedikit? Apakah akan terlalu banyak? Cukupkah? Layakkah? Mungkin hal sederhana dan sebenarnya tidak perlu dipusingkan, tapi buat saya (dan mungkin sebagian perempuan) ini hal penting. Akhirnya setelah memilah-milah, dan sudah pukul delapan, rampung juga bawaan saya yang terdiri dari satu ransel dan satu tas jinjing. Group di BBM sudah mulai ramai dengan janji jam berapa akan berkumpul di Vandani, kostan Hanna. Jam 9, katanya... :)

Jam 9 akhirnya saya ke Vandani, dan...belum ada siapa-siapa. Saya menunggu yang lain datang dengan (sok) membaca novel di ruang tamu. Ada kejadian yang menyenangkan tapi biar saya saja yang tahu. Ha ha ha. Akhirnya Aya, Desi, dan Uti datang, disusul Ady, Eja, dan Jati. Yang terakhir sampai itu Rara dan Yudha. Malam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, dan akhirnya kami berangkat ke pool primajasa di Rancaekek, Sumedang. Rencananya, kami akan naik bus primajasa jurusan Tasik-Jakarta, sampai di Cililitan, kami akan carter angkot ke Muara Angke. Tapi apa daya, setelah menunggu hampir satu jam, bus yang ada hanya jurusan Tasik-Lebak Bulus. Mau tidak mau kami akhirnya naik bus tersebut. Rute berikutnya kami rancang di bus saja...

us. waiting for the bus.

Pukul setengah 1, akhirnya bus kami datang dan kami dapat bangku yang agak belakang. Saya cuma bisa senyum-senyum karena rata-rata yang ada di bus itu bapak-bapak perkasa. S aya berasa kuli..atau memang iya? :O Saya, Hanna, dan Aya tertidur pulas dan cantik di bus sementara yang lain sibuk mencari rute angkot untuk perjalanan berikutnya. Maafkan kami ceman-ceminsss. Sudah pukul berapa ini? Yak! Setengah 3 subuh sudah dan kami tiba di Pasar Rebo. 

us. waiting for the angkot to be fixed.

Akhirnya setelah berunding beberapa saat, kami memutuskan untuk naik angkot dari Pasar Rebo ke Grogol. Lalu nanti dari Grogol, kami baru naik angkot lagi sampai Muara Angke. Agak panjang memang perjalanan kami. Bahkan kami sempat terluntang lantung juga di Grogol karena sebenarnya ingin menunggu sejenak di 7eleven, namun apa daya 7elevennya JAUH ya, Yudha. :D

Pukul setengan 5 pagi kami tiba di Muara Angke. Yes, akhirnyaaa. Tapi sebenarnya kami tuh mau kemana sih? Yang jelas bukan mau belanja ikan atau mancing ikan. YA! Kami bersebelas (Saya, Hanna, Aya, Desi, Rara, Nanda, Uti, Ady, Jati, Eja, dan Yudha) akan berlibur ke.....TIDUNG!!! He he he.. Ini pertama kalinya kami bersebelas berlibur bersama. Saya pribadi sih agak deg-degan apakah liburan ini akan seru dan menyenangkan. Doa terus dipanjatkan. *iye tau, lebay* Singkat cerita, akhirnya kami berangkat pukul 7 atau setengah 8, dan akhirnya setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami tiba di Pulau Tidung juga. AKHIRNYA!
Apa coba reaksi kami pertama sampai? Mengeluh. Mengeluh akan panasnya matahari. Ya mau bagaimana lagi, mataharinya begitu terik dan kami belum terbiasa. Tapi setelah beberapa saat kami sudah menikmati semburan angin pantai..

BANANAAAA~~


setelah banana boat.

desi, dengan airnya.

US

desi - jati - uti - rara

hanna - ady. gowes sore-sore.

uti - eja. jembatan cinta.

eja - desi - hanna - aya

pertama kali menemukan pantai!

Hari pertama kami habiskan dengan bermain-main. Kami bersepeda menuju jembatan cinta yang konon bila terjun dari jembatan tersebut, cintanya akan lancar atau langgeng. Meureuuun.. HAHA! Kami menyusuri jembatan sampai ke Pulau Tidung Kecil. Rasanya nikmat sekali merasakan liburan sejenak, jauh dari hiruk-pikuk rutinitas. Dan iya, kami bersebelas sedang benar-benar butuh liburan. Malam itu ditutup dengan tenang. Kami bercerita, bersenda gurau sampai tak kenal waktu, tahu-tahu sudah pukul 1? 

Esok paginya kami bersiap-siap untuk kegiatan berikutnya yang paling kami tunggu-tunggu, SNORKELING! Saya baru kali ini snorkeling dan semangat sekali untuk berenang di laut. Perjalanan menuju pulau pertama memakan waktu kurang lebih satu jam. Lama dan perut mulai mual. Ehemm, saya mabuk laut.. T__T 
Tapi segala perasaan mual itu terbayar dengan eksotika bawah laut yang...luar biasa. Saya langsung berpikir, Tidung saja sudah begini bagusnya, bagaimana dengan Karimun Jawa? Bagaimana dengan Gili Trawangan? Bagaimana dengan... Raja Ampat?! Kami langsung seru sendiri dengan kegiatan snorkeling kami. Ada yang sibuk foto-foto dan ada yang sibuk melang-lang buana dengan air. 

Setelah kurang lebih 30 menit kami habiskan di pulau yang pertama, kami pindah ke pulau yang kedua. Sekali lagi saya mual dan mual itu terbayar dengan keindahan karang dan ikan-ikan di bawah laut sana. Saya langsung merasa bahwa saya sebenarnya putri duyung yang tertukar. Atau ikan duyung? :| Sayang sekali, kali ini Ady tidak ikut snorkeling karena tidak enak badan. Ada yang seru dari kegiatan snorkeling di pulau kedua ini, yaitu ketika anak-anak perempuan mulai belajar untuk traven atau mengambang di air. Wajah-wajah panik berharga segera didokumentasikan dan pemenangnya adalah AYA! :3

nanda - aya - desi - uti

jati - hanna

snorkeling time!

woohoo! 

yudha. sun bathing.

ikannya berenang-renang.

uti, si master berenang :) 


aya cekalang udah jago anet ngambang ;P

Setelah setengah hari kami lelah ber-snorkeling ria, kami beristirahat sejenak di penginapan karena sore ini kami akan mengayuh sepeda kami agak jauh untuk mengejar matahari terbenam. Entah apa yang ada di pikiran anak-anak perempuan, tapi sore itu kami benar-benar dressed up untuk melihat sunset. Sekitar jam setengah 5 sore kami mulai mengayuh sepeda kami. Rute yang kami lewati ternyata benar-benar jauh. Setengah jam mungkin dengan bersepeda. Yang lain bersepeda dengan santai dan lancar, sedangkan saya...harus nyusruk tiga kali. I am a bad cyclist. Tapi saya menyalahkan keadaan yang jalannya sempit, ramai orang, dan sepedanya tua. Nyeh! Ha ha ha.

desi - hanna

rara, the sunset girl.

jati - ady

eja - desi - aya - audrey

ady - aya - audrey. *eh, A3!*

jati - uti

uti - nanda - desi - rara - hanna - audrey - aya

Puas menikmati matahari terbenam, kami kembali ke penginapan (yang artinya harus mengayuh sepeda jarak jauh lagi) karena nanti malam kami akan BBQ. Lalala yeyeye~~ Ada yang mengejutkan sewaktu perjalanan pulang. Secara kebetulan, saya bertemu dengan Dito, teman SMA saya yang katanya sedang syuting untuk filmnya Dhira. Ha ha ha.. *mesem-mesem*
Baiklah, abaikan. Setelah sampai penginapan, anak-anak laki ingin keluar untuk makan indomie dan seperti biasa, hanna nitip TUTU TOTAT. Bagi kalian yang bingung apa itu tutu totat, itu maksudnya susu coklat. Si hanna emang gila susu coklatnya ultra. -___- Nah, dari situ lah kami menemukan istilah "masyarakat tutu" untuk identitas kami. Ha ha ha..sok identitas.

Malamnya kami beranjak ke taman dekat kecamatan Tidung karena di sanalah kami akan BBQ. Sesampainya di sana, saya sih agak...kecewa karena saya pikir kami akan bakar ikan bersama-sama, namun ternyata ikannya dan cuminya sudah dibakar duluan. Tapi, selama kami bersama, semuanya tetap terasa nikmat.. :) Dan kalau sudah gelap, sudah pasti teman kami, Jati, yang jadi bulan-bulanan. Tapi kami semua tetap sayang Jati koooook.. :)

jati - audrey

jati - hanna

Malamnya kami bermain truth or truth, yang akhirnya malah berubah menjadi All About Jati. Ha ha ha, entah kenapa Jati malam itu yang jadi bintangnya. Akhirnya kami malah sibuk bertanya-tanya tentang Jati, tentang kenapa putus, kenapa Jati sabar banget jadi orang, dan kenapa Jati item banget... Enggak deng, yang terakhir bohong.. :p
Waktunya tidur karena besok kami harus siap-siap untuk pulang kembali ke Jakarta, lalu ke Jatinangor. Seperti sudah bisa ditebak sebelumnya, kami semua tidur nyenyak, kecuali Nanda dan Jati yang sampai subuh tak berhenti bicara. Ada apa sih dengan kalian? *eheeem*

Pukul delapan kami bangun dan sarapan sudah tersedia. Rara si ratu tahu kegirangan karena menu sarapan pagi ini ada tahunya. Setelah sarapan, mandi, dan beberes, kami siap meninggalkan Pulau Tidung. Cuaca Pulau Tidung tidak berubah semenjak kami datang, tetap cerah dan terik. Tapi yang baru kami sadari, pagi-pagi sekali sebelum kami bangun, Tidung disiram hujan yang sangat deras. Apa mungkin Tidung pun tidak rela kalau kami harus pulang? Mungkin.. :"))

Terima kasih, Tidung, telah mengijinkan kami singgah sejenak untuk melepaskan penat dan kebosanan akan rutinitas. Ayo, Masyrakat Tutu, kemana perjalanan kita selanjutnya? Lombok, yes? :))

hanna and her tutu totat sitter, jati :)

senyuuum.. :))

tidung di kala senja

snap snap snap!

yudha dan pikirannya

asin teu air lautna?

Hanna Patricia Sondang Limbong

6.7.12

Nama Belakang


  • Pak Ari: Jadi nama kamu itu Audrey Gabriella Si...

  • Audrey: Udah STOP! Nama saya Audrey Gabriella. Titik.

  • Pak Ari: Audrey Gabriella Sianakyangbelumngerjaintugasdrama

  • Audrey: Haduh bapaaaak... *hening* Eh tapi kalo saya udah ngerjain nama saya berubah kan pak?

  • Pak Ari: Iya. Jadi Audrey Gabriella Siyangbenerajabarungumpulinsekarang

Situasi: 
Saya bernama Audrey Gabriella. Berhubung saya keturunan batak, jadi saya punya nama keluarga yaitu Sibagariang. Namun berhubung di akta kelahiran nama keluarga tersebut tidak dicantumkan, jadi sampai sekarang saya bersikeras kalau nama saya sekedar Audrey Gabriella.  Satu lagi, saya belum menyelesaikan tugas mata kuliah Drama di semester 5, sedangkan sekarang sudah mau semester 7. Sekian.

18.6.12

Percakapan Ibu dan Anak Perempuannya

Audrey: Mah, kalau misalnya aku punya pacar, kira-kira boleh aku bawa ke rumah ga?

Mamah: Boleeeeeh...

Audrey: Kalau misalnya jalan bareng? Makan bareng keluarga?

Mamah: Oh..kalau yang kayak gitu sih masih lama, harus yang udah deket banget..

Audrey: Mmmm.. baiklah.

Mamah: Oh! Kalo sampe udah mau jalan bareng mah musti yang bule kak, atau yang fasih bahasa inggris..

Audrey: Haah?

Mamah: Iyaaa, biar bisa nyambung ngobrol sama mamahnya..

12.6.12

Angan tentang Masa Depan

Jika kamu diberikan kesempatan untuk berangan-angan tentang masa depan kamu, apa yang akan muncul di pikiran kamu? Pernah tidak berencana nantinya kamu akan kerja sebagai apa? Pernah tidak kamu berimajinasi tentang bagaimana rumah kamu nantinya? Pernah tidak kamu berpikir bagaimana hari tua kamu akan seperti apa? Kalau saya ditanya hal-hal tersebut, saya bisa menjabarkannya dengan penuh semangat. Di benak saya sudah tergambarkan berbagai cerita yang akan saya tulis di hidup saya. Sang pemimpi, mungkin cocok untuk jadi nama panggilan saya.

Ketika membicarakan tentang masa depan, pikiran saya langsung liar berkelana. Kalau diibaratkan kanvas putih yang masih bersih, kanvas itu langsung penuh dengan coretan cat warna-warni. Banyak hal yang menjadi impian saya. Tentang pekerjaan saya, tentang pergaulan saya, tentang pernikahan saya, tentang pendamping hidup saya, tentang rumah masa depan saya, semuanya! Senyum saya langsung terukir lebar kalau sudah membayangkan semuanya itu dan celoteh saya pasti sulit untuk dihentikan.

Tentang pekerjaan, saya bisa membayangkan kalau nanti saya akan bekerja di VOA atau The Jakarta Post. Saya bermimpi untuk menjadi reporter di VOA, meliput kejadian-kejadian menyenangkan yang terjadi di negeri Paman Sam tersebut untuk Indonesia. Saya berdiri depan kamera dengan mikrofon di tangan, dengan wajah riang melaporkan berbagai peristiwa yang sedang terjadi. Atau, bisa saja saya bekerja menjadi jurnalis di The Jakarta Post, duduk di balik meja mengetik artikel untuk dibaca banyak orang. Saya juga bisa berkeliaran di sekitar jakarta untuk mengumpulkan informasi yang saya butuhkan. Satu lagi yang terlupakan, untuk uang jajan tambahan, kemungkinan saya akan punya pekerjaan sambilan menjadi makeup artist pada waktu senggang. Busy busy busy... :)

Tentang Pernikahan, saya mengimpikan upacara pernikahan yang sederhana, yang hanya dihadiri oleh 100 orang. Keluarga inti, terdekat, sahabat, dan dua ekor anjing saya. Pernikahannya berlangsung di pinggir pantai atau di taman bunga yang didekor sesederhana mungkin namun cantik. Nuansa peach, pink, putih, dan emas pucat mewarnai tempat tersebut. Saya akan mengenakan gaun karya Biyan berwarna putih gading dan pendamping hidup saya mengenakan tuxedo berwarna hitam. Tradisional dan sederhana. Malamnya akan menjadi resepsi yang sederhana namun meriah. Saya akan mengenakan kebaya cantik karya Anne Avantie, berdanssa di dengan sang pendamping hidup di tengah-tengah ruangan dengan alunan musik yang membuai indre pendengaran. Sederhana, namun mewah. Terlalu muluk? Biar saja, namanya juga bermimpi.

Tentang rumah masa depan, ketika saya masih bekerja dan belum menikah, saya memimpikan tentang tinggak di apartemen sederhana dengan anjing kecil jenis Maltese dengan bulu warna putih atau coklat. Saya memiliki 2 kamar, satu untuk kamar tidur saya, yang satu lagi untuk walking closet saya. Itu impian saya sejak umur 11 tahun, percaya atau tidak. Ketika sudah menikah, saya akan pindah dengan si pendamping hidup ke rumah impian. Saya mengimpikan rumah yang sederhana, tipe rumah jaman dulu dengan pekarangan yang luas. Tahu kah saya punya impian untuk tinggal di mana? Bandung atau Bali. Atau bisa saja saya pindah ke luar negri karena si pendamping hidup berkebangsaan Amerika atau Inggris. Hehehe..

Oh, satu lagi. Saya sudah punya nama untuk anak pertama saya, baik perempuan atau laki-laki. Namanya Gabrielle Nabadia. Gabrielle adalah malaikat pembawa kabar sukacita dan Nabadia berasal dari bahasa batak yang berarti kudus atau suci. Nama yang indah bukan? :)

Kalau bicara tentang impian, saya bermimpi untuk hidup bagaikan di negri dongeng. Tapi satu yang saya harus ingat sekarang adalah, "I don't live in a fairy tale world" jadi saya harus bekerja sangat keras untuk bisa hidup di negri dongeng. Dan menulis adalah salah satu cara untuk tetap berhubungan dengan si negri dongeng, jadi saya juga harus tetap menulis dan menulis dan menulis... :)

And this wedding is just waaaaay too beautiful!

8.6.12

kang, foto kaaaang.. :")



jadi, ini yang namanya Kakak Ijal, teman bercanda dan saling menggoda. Teman curhat juga sekaligus teman bermanja-manja. Dia fans beratnya Juventus yang memaksa saya untuk beli jersey-nya juve. I know, it's silly when he said, "Yang penting gue pengen liat lo pake baju juve!" -___-

Semoga kali ini kamu benar-benar berpasangan dengan orang yang tepat ya, kakaaak.. SMOOCH! :*

3.6.12

Semua Akan Baik-baik Saja

Semua orang punya urusannya masing-masing. Semua orang punya keperluannya masing-masing. Semua orang punya masalah dalam hidupnya. Kita bisa saja memandang masalah kita lebih berat dari orang lain dan itu tidak salah. Kenapa tidak? Semua orang punya hak menentukan standarisasi beban masalahnya. Bisa saja untuk satu orang adalah musibah baginya kalau keluar rumah tidak mengenakan pakaian yang serasi, yang biasa dianggap oleh sebagian atau banyak orang itu adalah masalah yang sangat sepele. Bisa saja baginya kehilangan anggota keluarga atau sahabat sama bermasalahnya dengan soal pakaian tersebut. Kita tidak bisa bilang, "Masalah baju aja ribet!" Mungkin ia dari kecil dibiasakan berpakaian serba serasi, dari kepala sampai ujung kaki.

Yang menjadi permasalahan adalah ketika masalah kita sudah membuat repot orang lain. Kita yang kesal karena masalah kita yang menumpuk, tidak selesai-selesai, lalu orang lain yang jadi korban. Entah mereka jadi orang yang harus ikut membantu agar masalahnya cepat selesai atau malah jadi sasaran emosi kita. Tidak jarang bukan kalau sedang ada masalah yang menurut kita berat, orang lain yang kena omelan kita? Adalah baik kalau orang yang kita repotkan merupakan pribadi yang tulus mau direpotkan, tetapi menjadi masalah kalau orang-orang itu menjadi punya beban juga karena kita.

Menyikapi masalah yang kita punya juga tudak mudah. Sebagai seorang "Drama Queen", saya sadar saya sering menganggap masalah yang saya miliki adalah masalah besar. Saya suka menjadikan diri saya menjadi pusat perhatian. Bukan berarti saya kerap mencari perhatian orang lain, tetapi alangkah menyenangkan bagi saya ketika ada yang memerhatikan saya di kala saya punya masalah. Manja? Mungkin saja, karena banyak yang bilang saya anak manja. Peduli? Tidak juga, karena terserah orang bicara apa. Tapi setelah mendengar mendengar "ceramah" dosen saya yang saya tulis di post sebelumnya Pikiran Sehari.., saya jadi sadar bahwa, ha ha ha..iya juga, saya bukan pusat alam semesta. Saya bukan satu-satunya penghuni jagad raya. Saya bukan satu-satunya orang paling menderita di dunia.

Ada hal yang menyenangkan kemarin. Saya seharian menghabiskan waktu untuk bersantai di kostan, menonton DVD, browsing youtube, lalu saya menemukan satu video dari boyzIIboys yang berjudul O.K.A.Y. Lagunya sederhana tapi mengena, dan saya langsung memutuskan untuk menjadikannya lagu latar saya kalau sedang dirundung masalah. Lagu ini mengajarkan saya bahwa meski banyak hal-hal kecil yang sering kali membuat kita kesal atau sedih, semuanya akan baik-baik saja, dan masalah itu sendiri tidak seburuk yang kita kira.

Such a mood booster! Enjoy~~ :)

Whenever you feeling down, useless, you know what to do. Believe in yourself and say, it's gonna be okay..

31.5.12

Pikiran sehari..

Ada banyak hal yang berkecamuk di pikiran saya hari ini. Dimulai dari bagaimana tidak berminatnya saya untuk tersenyum selama seharian sampai kuliah yang membuat saya banyak berpikir. Bukan berpikir tentang mata kuliah tersebut, namun bagaimana sang dosen banyak menyampaikan hal yang "menampar" benak saya.

Saya bukan orang yang seharian akan menekuk otot wajah menjadi cemberut, tapi entah mengapa rasanya hari ini benar-benar tidak ada niat untuk tersenyum tulus. Semua terasa datar, bahkan cenderung menyebalkan. Hanya beberapa orang saja yang berhasil membuat saya nyaman untuk tersenyum tulus. Sepertinya saya mulai sadar apa yang membuat saya seperti ini. Saya jenuh. Kejenuhan akan kegiatan yang itu-itu saja, bertemu dengan orang yang itu-itu saja, berada di tempat yang itu-itu saja. Semuanya menumpuk dan puncaknya hari ini. Lalu saya masuk ke kelas yang berdosen ajaib. Saya selalu mendapatkan hal yang baru setiap mengikuti kelas beliau. Terkadang omongan beliau suka ngalor-ngidul gak tau tujuannya apa. Tapi memang semua gak harus ada tujuannya kan? Mmmm, namun untuk kelas yang hari ini ada sesuatu yang benar-benar membekas di saya. Banyak hal yang beliau katakan dan bikin saya TERBANGUN bahwa saya sedang hidup di dunia nyata, bukan di dunia dongeng.

Hal pertama yang diajarkan adalah kita harus lebih toleran akan ketidak-tahuan dan kekurangan. Sejak kecil saya selalu dituntut untuk memberikan hasil yang terbaik. Bukan berarti saya harus selalu dapat nilai 100 di setiap mata pelajaran, tapi orang tua saya memiliki prinsip, "Kalau teman kamu bisa dapet 100, kenapa kamu tidak?". Boleh jujur? Saya sebal sekali kalau sudah dibanding-bandingkan dengan orang lain, KARENA SAYA MEMANG BERBEDA. Dan saya kan memang bukan teman saya yang pintar itu. Tetapi saya tidak pernah menyalahkan orang tua saya yang pernah memberikan tekanan tersebut, karena kalau tidak seperti itu mungkin saya tidak akan menjadi orang yang memiliki banyak mimpi seperti sekarang. Di saat teman-teman SMA saya belum tahu apa cita-cita mereka, saya sudah bisa menjawab bahwa saya akan menjadi Menteri Sosial atau Pekerja Seni. Kembali lagi ke masalah toleransi terhadap ketidak-tahuan, saya diajarkan oleh pernyataan tersebut bahwa saya harus lebih menerima diri saya yang punya banyak "kecacatan", DAN JUGA ORANG LAIN kalau-kalau saja mereka tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Saya harus memaklumi kalau orang lain memiliki pandangan yang berbeda dengan saya tentang apa saja. Biarkan mereka berpikir dengan cara mereka, biarkan saya berpikir dengan cara saya. Selesai.

Hal kedua adalah saya harus segera keluar dari zona aman saya. Saya bukan anak berumur 18 tahun lagi yang masih bebas bermain dan tidak memiliki tanggungan. Saya si umur 23 tahun yang seharusnya sudah lulus, bekerja, dan tidak bergantung sepenuhnya terhadap orang tua lagi. Saya harus keluar dari zona aman saya, yang semakin lama bisa membuat saya tidak bisa melihat ke luar jendela dan terisolasi dari kebenaran. Bisa-bisa saya berpikir bahwa saya benar, padahal saya tidak tahu apa-apa. Zona aman, kamu berbahaya dan biarkan saya berpetualang.

Hal terakhir yang saya dapat adalah "Kamu itu bukan pusat alam semesta". Jangan pernah berpikir bahwa kita itu satu-satunya orang yang hidup di dunia, yang punya kepentingan, yang paling sibuk, yang paling menderita, yang paling paling paling! Kita itu cuma setitik kecil dibanding alam semesta. Sama halnya dengan jalan raya yang dipenuhi berbagai jenis kendaran, semuanya punya kepentingan masing-masing. Cuma yang egois yang mengklakson kendaraan depannya padahal jelas-jelas jalan itu sedang macet.

"You don't have to start well. You just need to be better" - Ari J. Adipurwawidjana

29.5.12

ketika emosi mencapai titik ter...

Hari ini saya mau cuhat lagi ah. Setelah cerita tentang si Bapak Bacot saya belum cerita apa-apa lagi kan ya? Ha ha. Saya mau cerita tentang bagaimana emosi saya sedang dipermainkan hari ini. Maklum, lagi dapet jatah wajib bulanan sebagai perempuan, emosi sehari ini berasa terombang ambing. Sedari pagi gak ada hal spesial yang bikin saya senang berlebihan atau kesal berlebihan. Semuanya terasa datar saja. Oh, hampir saja lupa, tadi pagi saya mengantarkan teman saya, si Richie Amabela ke AMC karena dia harus operasi kuku kakinya. Sehabis dari rumah sakit saya langsung berangkat ke kampus. Semuanya baik-baik saja, sampai saatnya saya dan beberapa teman yang sedang ditraktir makan sama dosen mendapat kabar buruk tentang acara seminar yang telah lewat. Akhirnya saya harus balik lagi ke kampus, jam 6 sore.

Setelah sampai di kampus, dengan kelelahan, saya dapet kabar tentang adanya masalah dengan baligo acara seminar kami. Jadi ceritanya waktu kami mau pasang baligo kami sudah sepakat untuk beli bambu dari tukang ojek yang notabene berkuasa atas pemasangan baligo di daerah itu. Harga bambunya sih tidak terlalu mahal, hanya 30 ribu, tapi yang namanya sudah masuk kepanitiaan, uang 500 perak saja pasti berharga. Intinya, kami sudah membeli bambunya, dan bambu itu milik kami. Nah, yang jadi permasalahan adalah malam ini saya dapat kabar kalau si tukang ojek ini mengakunya tidak pernah menjual, namun hanya disewakan. Jadi ketika ada orang yang mau memasang spanduk di bambu tersebut, ya bukan bayar ke kami tapi ke si tukang ojek. Akhirnya hal tersebut memancing emosi saya, dan karena saya orangnya kalau kesal selalu ditahan, akhirnya emosi itu berubah jadi tangis. Air mata pun buyar, meluncur dengan enaknya dari mata.

Saya kesal karena harus berdebat dan merasa ditipu oleh bapak-bapak yang seenaknya menetapkan harga ini-itu, dan seharusnya kami sebagai mahasiswa unpad tidak perlu dikenakan biaya lagi untuk hal-hal sepele seperti ini. Tidak adil. Kecewa, kesal, sedih. Kenapa kalian harus berkolaborasi di waktu yang tidak tepat? Sebal.

13.5.12

Bapak Bacot

Selamat malam dan malam ini saya ingin sekedar bercerita. Entah cerita ini penting atau tidak, tapi buat saya ini sesuatu yang harus saya tuangkan dalam tulisan agar saya selalu ingat akan kejadian hari ini. Ceritanya lucu atau tidak, yang pasti kejadian hari ini random sekali buat saya.

Jadi ceritanya begini. Hari ini, saya dan dua teman kostan saya, secara dadakan jalan-jalan buat nyari kostan di daeran Caringin, Jatinangor. Kostan yang kami cari itu ya susah-susah gampang, karena kami maunya kostan yang bisa disewa per bulan. Setelah menyambahi beberapa kostan, sampailah kami di satu kostan yang menarik perhatian kami. Kalimat pertama yang keluar dari mulut kami adalah, "Eh, kayaknya kece nih kostan.." karena memang kostan itu terlihat rapi dan bersih dari luar. Setelah mengetuk beberapa kali, keluarlah si empunya kostan yang ternyata seorang bapak-bapak. Kami dipersilakan masuk ke ruang tamu dengan alasan "kita sharing dulu sebelum melihat-lihat ke dalam". Kami berpikir mungkin beliau akan menjelaskan peraturan, harga, dan tetek bengeknya. Ternyata kami salah besar! Selain menjelaskan ini dan itu, beliau berbicara panjaaaaaaaang lebar tentang kostan itu, mulai dari sejarahnya sampai alasan kenapa tidak boleh bawa kompor (yang katanya takut terjadi kebakaran).

Awalnya kami biasa saja menanggapi segala ocehannya sampai saat dia mulai MENCOLEK LENGAN SAYA. Kebetulan saya duduknya bersebelahan dengan si bapak. Pertama-tama saya anggap beliau tidak sengaja atau mencoba ramah, tapi kejadian itu tidak hanya sekali. Selain mencolek lengan, beliau juga menepuk pelan pundak. Saya, orang yang susah berhubungan akrab dengan orang yang baru dikenal, kaget. Sangat kaget sampai merasa jijik. Satu lagi yang saya bingungkan dari si bapak, kenapa dia tidak capek berbicara dan tidak sadar kalau saya dan teman-teman sudah bosan mendengarkan segala ocehannya.

Lucu adalah ketika dia tertawa untuk hal yang tidak lucu dan bagaimana kami (saya dan teman-teman) saling bertatapan dan mengirim "kode" tanda bosan. Puncaknya, saya keluar dari ruang tamu tersebut dengan berpura-pura menerima telepon, padahal saya tidak membawa telepon genggam. Agak konyol, tapi memang saya sudah tidak tahan dengan basa-basi yang diumbar. Yang lebih parah adalah ketika dia sudah berlama-lama ternyata kostan yang ditawarkan TIDAK sebaik yang diceritakan. Saya jadi merasa telah membuang waktu saya selama 30 menit lebih.

Setelah itu, akhirnya kami meninggalkan tempat itu dengan terbahak karena merasa baru saja mengalami hal yang sangat aneh dan menyebalkan. Menyebalkan, tapi bikin tertawa. Dan dengan penuh hormat kami berikan julukan kehormatan untuk si bapak tersebut dengan nama: BAPAK BACOT.

SEKIAN.

eh, tunggu! ngomong-ngomong setelah menelusuri beberapa kostan, saya sudah menemukan kostan yang sesuai keinginan. Saya jadi ingin cepat-cepat pindah kostan dan punya suasana kostan yang baru.. :)

11.5.12

Senyum untuk siapa?

"Kenapa sih kamu gak mencoba untuk jadi ini? Kamu bagus tau di bidang itu.."

"Kamu di bagian ini aja ya. kamu kan orangnya rame, pasti bisa.."

"Kayaknya kamu bagus deh kalo arahnya ke sana, pas sama kepribadian kamu.."

"Mendingan kamu gini aja. Eh, gitu aja deh, lebih bagus!"


Banyak sekali orang yang berlaku seperti ini terhadap saya. Kadang saya cuma bisa menanggapinya dengan senyum, tapi tidak jarang saya malah mengikuti apa kata mereka. Seringnya memang keikut dan ujung-ujungnya saya menyesal. Haaah, penyesalan memang ya, selalu datangnya terlambat. Sekali-kali datang tepat waktu kek!

Saya bukan orang yang selalu menurut, tapi saya juga bukan pemberontak. Saya cenderung....ingin lihat orang lain senang. Terkadang saya takut akan tanggapan orang lain, tapi saya lebih sering tidak peduli. Namun akhir-akhir ini, melihat orang tersenyum karena saya membuat saya berpuas diri. Jadi, boleh mungkin ya bikin orang tersenyum walau saya tidak jadi tersenyum? Sama halnya dengan mengirim pesan singkat dengan emoticon ":)" di akhir kalimat, walau sebenarnya pada saat mengetik pesan tersebut, saya tidak tersenyum..

Munafik kah?

18.4.12

Telur Asin

Makan siang yang saya nikmati siang ini hanya sedikit nasi ditemani satu telur asin dan abon sapi. Sederhana bukan? Tapi ketika saya menikmatinya di kamar kostan saya yang hening, yang hanya ditemani suara TV, makanan itu menjadi nikmat sekali. Pastinya juga, makan siang saya akan dianggap mewah oleh orang-orang yang belum bisa menikmati makanan seperti saya. Yang masih harus berada di luar sana, bekerja demi mengenyangkan perut mereka atau keluarga mereka juga. Terima kasih, Tuhan.

Kamu tahu apa yang saya perhatikan dari menu makan siang saya? Telur asinnya. Mungkin agak aneh kenapa telur asinnya menjadi fokus perhatian saya. Saya sudah menyimpan telur asin itu hampir 2 minggu di kulkas. Ketika tadi saya membelahnya menjadi dua, yang saya dapat adalah tekstur kuning telurnya tidak seperti biasanya. Teksturnya berubah, dari yang seharusnya utuh menjadi lebih lembek dan berminyak. Awalnya saya khawatir kalau-kalau telur asinnya sudah tidak bagus lagi, tapi ternyata rasanya tetap sama seperti seharusnya. Bahkan lebih enak! Ha ha ha.

Lalu saya jadi berpikir satu hal: ternyata walau teksturnya berbeda, rasanya tetap sama ya? Lucu. Jadi menyenangkan.

13.4.12

Sang Penari

source: pinterest.com
Saya belum bisa menari lagi setelah kehilangan dentingan musik darimu. Dentingan musikmu paling tepat untuk mengiringi segala jenis tarianku. Tubuhku dapat bergerak tanpa malu, tanpa ragu, tanpa takut bila diiringi oleh alunan nada darimu. Alunan nadamu membuatku tersenyum dengan senyum yang terbaik. Kadang alunanmu membuatku sedih, namun tak terhanyut. Justru membangunkan aku dari segala mimpi dan menyadarkanku agar bangun untuk kesekian kali dari kejatuhan. Musikmu yang terbaik, dapat membuatku menari seakan tidak ada yang melihat, tidak ada yang menonton tarianku. Alunan musikmu lembut, aku terbuai setiap aku mendengarnya, dan sekejap saja kakiku sudah menyambahi lantai untuk menciptakan gerakan baru.

Banyak pemusik lain yang mencoba menggantikan alunan musikmu. Mereka menawarkan musik yang beragam, yang mereka bilang akan menjadikan aku penari terbaik. Menjadikan aku penari yang lebih baik dari yang dulu. Namun ketika menjalani latihan, mereka berbohong. Alunan musiknya tidak sebaik kamu. Kakiku tidak dapat menyatu bergerak dengan lantai, tidak dapat bergerak sebebas dan senikmat biasanya. Mungkinkah aku yang terlalu bodoh untuk mengharapkan kembalinya kamu, hai pemusik? Aku merindukan alunan musikmu. Aku merindukan dentingan nada-nada darimu. Aku rindu menari dengan bebas, menari dari hati.

Kalau sekarang aku terlihat menari dengan ceria di antara dedaunan bersama roh-roh hutan lainnya, bukan berarti itu tarianku. Itu tarian yang aku ciptakan untuk penonton, bukan untuk diriku sendiri. Bukan pula karena aku ingin menari. Mereka menuntutku, menuntutku menari dengan baik. Bagaimana cara aku dapat menari dengan baik sedangkan pemusikku saja tidak mau memainkan alunan nadanya untukku? Kalian tahu bagaimana sulitnya menari untuk orang lain? Betapa tersiksanya menari karena paksaan? Seakan ingin berkata, "Potong saja kakiku. Lebih baik aku tidak menari lagi."

Hai pemusik, aku minta ketika kamu berencana untuk memainkan musik lagi untukku, jangan ragu. Aku rindu menari bersamamu. Menguasai panggung dengan keharmonisan antara simfoni dengan gesekan kaki di lantai kayu. Merasa superior ketika dapat menciptakan sebuah tarian baru. Sehingga pada akhirnya kita dapat menciptakan legenda baru yang tidak dimiliki orang lain. Terima kasih, pemusikku.

2.4.12

surabi cibiru

Malam ini saya diculik oleh teman saya, M Dika Septapa, untuk wisata kuliner malam-malam. Dan hasilnya Surabi.. :)

Antara hitam dan putih..

Apa sih yang pertama kali kamu pikirkan kalau mendengar kata 'HITAM'? Gelap? Mistis? Gothic? atau apa? Lalu apa yang ada di imajinasi kamu ketika saya menyebutkan kata 'PUTIH'? Terang? Suci? Bersih? Pikiran dan imajinasi setiap orang berbeda-beda. Ada yang mengatakan hitam itu melambangkan sesuatu yang jahat, buruk, tidak sebersih putih yang melambangkan kesucian, ketenangan, kebaikan, dan sebagainya. Lalu bagaimana kalau saya mengatakan bahwa hitam tidak selalu buruk dan putih tidak selamanya baik?

Kalau orang berkata 'Hitam', yang pertama kali saya bayangkan itu gaun hitam polos untuk pergi ke pesta, lengkap dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam juga. Riasan make up saya juga ada sentuhan warna hitam di kelopak mata. Tas jinjing berwarna hitam mengilat sudah pasti ada di tangan. Lalu apa yang saya lihat? Sesuatu yang indah, serba hitam memang, namun glamor. Lalu apa lagi yang saya bayangkan? Hmmm..saya bisa melihat langit yang gelap namun penuh dengan taburan bintang. Langit yang gelap tidak selamanya jadi terasa kelam.

Si putih yang selama ini diberi label 'baik', juga tidak selamanya baik. Ketika mendengar kata putih, yang saya bayangkan justru sendal jepit saya yang berwarna putih dulu, namun sekarang sudah berubah warna jadi agak kecokelatan karena kotor. Putih itu harus dijaga benar-benar agar warnanya tidak berubah. Putih buat saya seperti rapuh. Jadi ingat dulu waktu kecil kalau sedang pakai baju berwarna putih, mamah pasti memakaikan serbet atau banyak tissue di sekeliling leher saya ketika saya makan es krim. Takut es krimnya tumpah dan mengenai baju saya, katanya.

Ternyata, si hitam tidak selalu buruk juga kalau kita memandangnya dengan berbeda. Si putih pun tidak bagus-bagus amat kalau dipikir dengan seksama. Lalu sesungguhnya mereka bagaimana? Baik atau buruk? Bisa baik. Bisa juga buruk. Bisa juga tidak keduanya. Kalau kamu, maunya bagaimana? :)

Eh, ngomong-ngomong, saya punya rak baru di kamar. Ingin pamer sejenak. Ha ha. Rencananya akan membaca sebagian besar yang ada di atas rak. Kita liat saja nanti :D



*gabriella

29.3.12

Jatuh. Bangun. Berjalan.

Jatuh adalah ketika orang banyak mengharapkan kehebatanmu dalam segala hal, namun yang kamu sadari adalah kemampuanmu terbatas dan kamu belum piawai dalam mengerjakan segala hal. Kamu bisa sebenarnya, hanya belum berkeinginan untuk menjadi hebat. Orang-orang menganggap kamu manusia super dan selalu menunggu-nunggu sepak terjangmu, namun nyatanya kamu hanya ingin berleha-leha dulu sejenak di dalam kamar sambil menikmati kopi panas dengan selembar roti berselai stroberi.

Jatuh adalah kamu belum bisa melepaskan ikatan masa lalu, teringat, ingin kembali, namun apa daya masa lalu telah terkunci di kotak kaca setebal 1 meter, tak dapat ditembus tak dapat dibuka. BANGUN! Jangan mau terlena, jangan mau tenggelam. Itu! Ada pelampung! Manfaatkan, jangan mau terbawa arus. Jangan mau tenggelam.

Jatuh pasti sakit. Jatuh pasti menangis, meski ditahan atau disimpan dalam hati. Jatuh pasti kecewa, pada orang lain, pada orang banyak, pada keadaan, pada waktu, pada diri sendiri. Jatuh pasti khawatir, bisakah saya bangun lagi? Jatuh pasti bingung, apakah kaki saya sudah cukup kuat untuk berdiri lagi? Jatuh pasti berharap, bisakah saya tidak terjatuh lagi di lain hari?

Pada saat jatuh yang kita harapkan adalah orang-orang berhenti untuk menganggap bahwa kita hebat. Pada saat jatuh yang kita harapkan adalah bisa melepaskan diri dari ikatan kencang, gunting saja. Pada saat jatuh yang kita inginkan adalah tepukan di pundak dan ada yang berkata, "Kamu memang belum hebat dan ikatannya memang kencang sekali. Ini berat, tapi kamu bisa melewatinya. Kamu tidak sendiri, mari berjalan bersama. Saya juga sedang berusaha sama seperti kamu."

*gabriella

18.3.12

sedikit senyum untuk pagi. sedikit senyum untuk nanti.

Pagi ini wajah saya penuh senyuman. Senyuman yang saya rasa sih tulus dan berbeda dari biasanya. Senyuman yang saya kembangkan lebih ke senyum terharu karena melihat hal-hal sederhana. Pagi ini seperjalanan saya menuju pangkalan damri dari kostan, saya melihat banyak hal. Sederhana, namun manis.

Yang pertama, saya melihat seorang anak laki-laki kecil, kepalanya botak, mengendarai sepeda mungilnya dengan penuh semangat. Ia mengayuhnya, mondar-mandir di sepanjang jalan. Sesekali ia berteriak, "MInggir! Minggir!" agar teman-temannya tidak tertabrak. Sekejab saja saya terbawa oleh ingatan masa lalu, dimana saya suka sekali bermain sepeda semasa kecil. Kalau diingat-ingat, terakhir saya main sepeda itu waktu umur 15 mungkin ya? Sekitar 8 tahun yang lalu. Setelahnya, jarang sekali saya bermain sepeda. Saya rindu dan ingin mengulang masa-masa itu, dimana pikiran saya belum terkontaminasi oleh ideologi-ideologi, prinsip-prinsip, dan konsep-konsep dalan berpikir. Saya rindu dimana saya masih berbicara manis dan tanpa kesinisan duniawi.

Lalu tidak jauh dari sana, saya melihat seekor induk ayam beserta anak-anak ayamnya. Mereka sedang asyik makan, atau lebih tepatnya berebut makanan. Haha, saya sempat gemas melihatnya. Tubuh anak-anak ayam itu begitu bulat dan menggemaskan, ingin saya colek-colek. Senyum saya mengembang karena bersyukur mereka masih bisa makan dan terlihat ceria. Saya mungkin tidak tahu bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya, tapi bukankah kita akan merasa senang bila mendapatkan sesuatu yang kita inginkan? Makanan, pakaian, hiburan, teman-teman, kasih sayang, rasa dihargai, pengakuan. Bukankah itu nikmat?

Berjalan lagi, saya berpapasan dengan sebuah keluarga yang sepertinya baru saja pulang dari pasar. Ayah, ibu, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Mereka bercengkrama akrab penuh tawa. Sepertinya puas sekali meluangkan waktu bersama, waktu yang berharga. Senyum saya pun terukir kembali tanpa ragu. Saya rindu meluangkan waktu bersama keluarga. Waktu dimana kami semua berkumpul bersama di ruang tengah, menikmati film yang sedang diputar di televisi, atau sekedar berbincang dan bertukar cerita di meja makan saat malam, lengkap berempat. Kami sering makan bersama, lengkap, namun bukan di rumah. Kalau pun di rumah lengkap, pasti ada yang tidak makan bersama. Tak mengapa memang, hanya rindu saja.

Hah, banyak hal yang saya rindukan. Masa kecil. Masa bahagia. Masa pahit. Masa-nya saya. Semuanya membuat saya tersenyum, senyum sederhana penuh memori. Ingin sekali masuk ke masa itu, namun tak bisa. Di depan sana sudah ada masa yang menunggu saya, menunggu saya untuk menggapainya dengan penuh keyakinan, tanpa ragu. Menunggu saya untuk menguliknya dengan cara saya. Menunggu saya untuk sampai di sana. Sampai bertemu nanti, masa depan..

-gabriella

17.3.12

my taurus-mate, Mellysa Anastasya Legi.



Saya gak tau gimana ceritanya kami berdua bisa begitu mirip secara kelakuan dan cara berpikirnya. Saya gak ngerti kenapa teman saya ini walau cantik luar biasa tapi kelakuannya sama aja cacatnya sama saya. Saya gak ngerti. Tapi yang saya ngerti, kami sama-sama MUREEEEE... :D

3.3.12

Lanjutkan saja. Maka tidak terasa begitu buruk.

Pernah gak sih kalian menyesal setelah memilih baju di toko lalu ternyata setelah dibeli, bajunya gak sebagus bayangan kita? Rasanya gimana? Kesel sih udah pasti. Dalam hati pasti bilang, "Tau gitu tadi gak usah beli! Sayang banget duit gue tadi.." Lalu bajunya dikemanakan? Masih mending kalau bisa ditukar (yang kebanyakan gak mungkin), tapi kalau gak bisa dan harus disimpan? Ya sudah lah, telan saja kenyataannya kalau kamu mengalami sesuatu yang tidak kamu inginkan.

Kesalahan, kegagalan, apa pun itu bentuknya, pasti menimbulkan perasaan sedih kesal dan kecewa. Gak mungkin kita serta-merta mengucap syukur, namanya juga manusia pasti mengeluh dulu. Tapi coba kita lihat dari sisi yang berbeda. Dari awal segala keputusan yang telah kita ambil itu (seharusnya) bukan atas dorongan orang lain atau disuruh orang lain, tapi karena memang kita yang memilih untuk memutuskan. Dan ketika pilihan kita keliru, tanggung jawab seluruhnya ada di kita karena kita yang memilih opsi tersebut. Menyesal boleh, tapi kalo berkelanjutan bisa menimbulkan perasaan bersalah dalam diri sendiri. Lalu rasa bersalah itu menumpuk, jadilah si trauma. mungkin kalau trauma itu sudh jauh ceritanya, tapi bukan berarti tidak mungkin.

Gagal, lalu menyesal sejenak, lalu sedih sebentar. Setelah itu, lanjutkan hidup kamu sambil bilang dalam hati, "Tuhan begitu sayang sama saya, maka Dia memberikan pelajaran yang begitu berharga dalam hidup saya. Sehingga ke depannya, tidak akan terjadi kesalahan yang sama."
Begitu juga dengan suatu hubungan, ketika gagal, jangan mengutuknya. Karena ketika dulu kalian menjalaninya, pasti bukan hanya masa kelam kan yang kalian alami? Ingat masa indahnya, syukuri. Dengan begitu, kegagalan tidak terasa seburuk yang kamu bayangkan. :)

-gabriella

21.1.12

This is why.. :)

rasa

kamu selalu berhasil membuat saya tersenyum kalau saya sedang berusaha untuk marah. ceritanya saya ingin memberi kamu sebuah pelajaran. saya ingin sekali menumpahkan segala kekesalan saya sama kamu. tapi lagi-lagi saya kalah dengan kejenakaan kamu. saya kalah dengan segala godaan-godaan kamu. saya kalah dengan kekonyolan kamu. ketika saya berusaha untuk marah diam dan merajuk, kamu datang dengan segala kebisaan kamu dan berhasil membuat saya lupa karena apa saya marah dan merajuk. hilang, bagai debu yang ditiup-tiup dari dasar kursi tua.
saya takut, hanya saya yang sebenarnya menganggap ada yang salah. saya takut, cuma saya yang merasa. saya takut, semua ini akan berakhir sia-sia, tidak menjadi berkat seperti yang sudah pernah kita doakan.

rasanya manis, ketika kamu berusaha untuk menggapai saya seperti di awal-awal. orang bilang menjalin cinta bukan hal yang mudah dan mereka benar. saya salah, saya kira semua akan seperti di awal. bahagia, hanya kita. bukan berarti saya tidak bahagia, tapi cara pandang bahagia itu berubah dan saya masih menyesuaikan diri.

rasanya asam, ketika saya merasakan ketidak-acuhan kamu yang sering kali muncul. sering bertanya, kemana sosok yang dulu memperkenalkan dirinya sama saya? dia...menghilang ya? saya rindu dengannya. bukan berarti saya tidak rindu kamu, saya rindu setiap saat. asal kamu tahu, rasanya seperti ingin menangis ketika harus menahan diri untuk tahu segalanya tentang kamu.

rasanya asin, ketika air mata yang jatuh menjadi lebih sering terjadi. ini ya yang dibilang orang bumbu-bumbu cinta? tangis, marah, tawa, semua tercampur. tapi, air mata yang ini rasanya kenapa sakit sekali. dada saya sesak, sulit untuk bernafas. isakan di bawah bantal menjadi rutinitas yang bukan menjadi kegiatan kesukaan saya.

rasanya pahit, ketika saya sudah terlalu lelah untuk mereka-reka perasaan kamu. lelah untuk menahan segala emosi yang berkecamuk di dada. lelah menjadi orang berpengertian, bukan yang egois. eh, saya rindu menjadi egois kadnag-kadang. lelah memikirkan apa yang sedang kamu pikirkan. apa kamu sudah makan? apa kamu sehat, fisik maupun non-fisik? apakah saya menjadi batasan dalam kamu melakukan kegiatan-kegiatan kamu? apakah saya sudah cukup menjaga jarak? apakah saya sudah bisa mendekat? saya takut salah langkah.. tapi saya paling takut akan satu hal.

saya takut akan RASA TAWAR. ketika segalanya menjadi tidak bernilai, tidak peduli itu benar atau salah. semuanya terlihat sama. saya takut. saya manusia, bukan robot atau mahluk virtual.

6.1.12

Dear Mom..

Somehow it’s kinda hard to understand you. You are the greatest person on earth that I ever know. You are the prettiest woman that I know. You’re the strongest person that ever lived in my world. You are the best. But sometimes, I misunderstand you and you misunderstand me. I don’t know why, but I guess it happen naturally between mother and daughter. You call me sarcastic, I call you sensitive. You tell me that I am an angry girl and I cannot tell you that you actually a sharp mouth one. In my opinion, sometimes you order me, not telling me. But you tell the opposites. See? We are different in many ways of thinking. You tell me this and that, but I cannot tell this and that to you because I know that you are going to be hurt. And I don’t want that happen; it’s a sin. Because if I hurt you, I hurt Him too.

If you say that I got bored for staying at this house for the rest of the holiday, you wrong. I will not because my family is here. Dad who talks sharp just like you but is funny as hell. My brother who actually ignores me in many time and I really want to punch his face for so many times, but he is the only one that I can share my fashion sense and sarcasm joke. Our dogs who are our entertainers. And YOU mom, you are the main reason I wanna be at home for a long long loooong time. But now you said that I don’t want to be here? WHY? Because I made those wrong facial expression? I cannot even control it.

About my face, who do you think that I got this face? YOU. Who do you think that I got this attitude? YOU. Who do you think that I got this way of speaking? YOU. I love you, mom, from the bottom of my heart. I told you so many times. On the phone, when we usually ending up our conversation. I love you, that is the reason why I wash the dishes so wouldn’t be mad. I love you, so I do the laundry and you wouldn’t have to do it. I love you, so I go home for every two weeks in my tight schedule. I love you, so I try very hard to not make you worry about my educational problem. I love you so much, that make me cry to write this.

I don’t know when I will show this write to you. I just want you to know that I love you. I am sorry if I changed a lot. People do change, mom, especially a girl like me. I need you to support me in every way, not to judge me. I don’t need orders, I just need great examples. I’m not a little girl anymore; I don’t talk nice every time. My mood is going up and down in seconds, so please understand me. I know I made you cry in many time, but you did too. Do you know that? I guess not. I really love your cares for me, but sometimes I need spaces. I need privacy too. I hurt you, you hurt me too. But I just cannot yell at you or be mad at you, or defend myself, because I know you’ll cry for hearing my words. I’m a sharp talker too mom, just like you. We’re alike, yet so different.
I love you, mom…

Sincerely,
Your Daughter.