30.9.15

Tanpa Syarat

Siang ini ia melihat mataku yang mulai berkaca-kaca. Ia menggenggam tanganku dan berkata, "Kamu perempuan yang kuat." Di saat itu saya tahu, saya memiliki seseorang yang setia di samping saya.

Sejenak saya ingin memperkenalkan sosok yang selalu ada selama 8 tahun ini. Ia bisa dibilang sahabat yang tidak pernah surut kehadirannya sejak tahun 2007. Saya ingat pertama kali bertemu dengannya itu ketika kami sama-sama ada di satu ruang ibadah yang sama. Saat itu saya sedang bertugas menjadi pemimpin ibadah dan ia sedang tidak bertugas, jadi ia duduk di bangku jemaat. Ia terlihat sangat dewasa dan pendiam untuk seumurannya. Saya merasa segan.

"Aku dulu tidak menyukaimu. Kamu semacam cacing kepanasan yang tidak bisa diam. Aku jadi pusing melihatmu." Kira-kira itu yang terlontar dari mulutnya ketika kami mulai dekat sebagai teman. Saya hanya bisa tertawa dan menggerak-gerakan badan saya, menggodanya. "Tapi sekarang aku bersyukur bisa mengenalmu," lanjutnya. Saya tersenyum dan membalas pernyataannya dengan pelukan. 

Tanpa disadari kami perlahan beranjak dewasa dan sama-sama mencapai umur dua puluhan. Kami sempat terpisah jarak, saya melanjutkan studi di Jatinangor dan ia memang sedang kuliah di Jakarta. Namun walau ada jarak dan saya jarang pulang ke rumah, persahabatan kami tidak pernah surut, tapi justru semakin menguat. Tidak ada yang bisa saya sembunyikan darinya, karena ketika kami bertemu, segala sesuatunya seakan tumpah. Saya bukanlah orang yang sulit dibaca, tapi hanya dia yang bisa membuat saya membuka seluruh halaman kehidupan saya.

Dia tidak akan segan-segan memarahi saya kalau saya melakukan hal bodoh yang nantinya akan menyakiti diri saya sendiri. Setelah ia memarahi saya, dia akan memeluk saya kembali, layaknya seorang ibu yang menenangkan anaknya. Ia tidak pernah meninggalkan saya karena saya pernah melakukan kesalahan, tapi justru merangkul saya lebih erat agak saya tidak jauh tersesat. Tuhan bekerja melalui dia, mengasihiku tanpa syarat.

Tidak ada kata lain yang keluar dari mulutku selain ucapan syukur memiliki ia sebagai sahabat. Kalau ditanya siapa saja perempuan yang memiliki peran penting dalam hidup saya, saya tidak akan ragu menjawab: ibu saya, Aigrim Giastin; nenek saya, Yohanna Tobing; dan sahabat saya, Madeline Saurina. Tuhan Yesus memberkatimu, sayang.

27.9.15

Ulang Tahun

Anak perempuan itu mematut dirinya di depan cermin. Ia memerhatikan pantulan tubuhnya di sana seakan memastikan penampilannya tetap baik-baik saja. Rambutnya yang panjang bergelombang terikat setengah dan ia mengikatnya dengan pita hijau transparan. Tubuhnya terbalut gaun berbahan batik dengan panjang setengah betis. Sejauh ini, inilah gaun yang menurutnya paling cantik yang pernah ia kenakan. Sekali lagi ia merapikan rambutnya dan menyelipkan sebagian ke belakang daun telinganya. Ia mengangguk kecil dan beranjak pergi.

Ia berdiri diam di depan pintu gereja itu. Cukup lama ia memandangi pintu gereja yang sudah terbuka sedikit, sehingga ia bisa melihat sedikit suasana di dalamnya. Ada rasa ragu dalam hatinya apakah ia harus melangkahkan kakinya masuk atau diam saja di tempatnya berdiri. Namun lamunannya buyar seketika ketika seorang teman menggandeng tangannya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam. "Ayo, sudah mau di mulai," katanya.

Wajahnya tersenyum dan mengikuti langkah sang teman. Ia duduk di bangku kayu urutan ketiga dari depan di sisi sebelah kanan. Ia merapikan gaunnya sekali lagi, tidak ingin dia terlihat berantakan sedikit pun. Lonceng gereja akhirnya berdentang tiga kali tepat di pukul delapan pagi itu. Jantungnya berdegup kencang. Lalu pintu gereja terbuka lebar dan masuklah sepasang pengantin yang akan menikah sebentar lagi. Anak perempuan itu kembali tersenyum, namun bukan senyum ceria yang sering membuat matanya hilang.

Senyum kehilanganlah yang dibentuk oleh bibirnya. Kehilangan sosok kekasih yang sebentar lagi akan menjadi milik perempuan lain. Tapi pagi ini ia memiliki tugas penting. Ia harus bernyanyi untuk mengiringi kedua pengantin tersebut hingga akhir prosesi pernikahan. Ia harus bernyanyi untuk kekasihnya yang sebentar lagi menjadi milik perempuan lain.

Malam itu, dalam perjalanannya kembali ke rumah, sebuah pesan masuk. Sang kekasih. Ia membuka pesan itu tanpa pikir panjang. "Selamat ulang tahun," bunyi pesan itu. Malam itu sang perempuan bertambah umurnya satu tahun lagi. Selamat ulang tahun ke-duapuluh, hai perempuan. Mungkin ini bukan hadiahmu yang terindah. Telanlah kepahitan itu sekarang, walaupun aku tidak bisa menjamin kau tidak akan merasakan hal yang sama 6 tahun kemudian.

26.9.15

Sejenak

Buntu.

Malam ini aku mencoba untuk merangkai kata lagi,
namun apa daya sepertinya hati ini menolak.
Ia menolak untuk berbagi apa yang dirasakannya sekarang. 
Sedih? Sepertinya tidak juga.
Marah? Sudah reda juga kalau dirasa-rasa.
Datar? Mungkin iya.
Mungkin itu sebabnya aku kehabisan kata-kata.

Tapi sepertinya buntu ini bisa menjadi hal yang menyenangkan.
Aku bisa meluangkan waktuku untuk berdiam,
untuk memberikan ruang istirahat bagi akal.
Mungkin besok aku bisa menulis lagi.
Menulis tanpa arah layaknya roh yang terbang lepas.
Ia tidak terikat oleh daging.
Ia bebas.

24.9.15

Tolong

Dia pergi memberi luka dalam.
Memberi sesak, mual, tangis.
Tapi anehnya aku mengingikannya kembali.
Bukan untuk kugenggam tangannya,
tapi sekedar teman berbincang.
Temanku berkata, "Buat apa? Ia akan menyakitimu lagi nanti."

Diam-diam setiap malam kupanjatkan ingin.
Aku ingin ia kembali.
Oh, Tuhan akhirnya mendengar doaku!
Ia kembali, tapi bukan untuk kugenggam tangannya.
Hanya untuk kupandang, dari jauh dan dalam diam.

Suatu malam ia menawarkan kembali persahabatan
Ganjil, namun kusambut bahagia.
Kuundang kembali ia masuk.
Tapi bukannya masuk dengan bilang, "Permisi,"
ia justru mendobrak masuk.

Ia memorak-porandakan semuanya.
Semua.
Semua.
Aku mencoba berteriak dan memohon padanya untuk berhenti,
tapi ia hanya tersenyum simpul dan menatapku dengan bengis.
Aku hanya bisa berpikir,
"Mengapa? Apa ini karena doaku? Apa aku memanjatkan doa yang salah?"

Lalu tiba-tiba ia berhenti dengan terengah-engah.
Ia menunjukkan kepuasannya,
seakan ia telah menuntaskan tugas mulia.
Aku hanya bisa menatap ruanganku yang telah ia hancurkan.
Yang ada di kepalaku saat itu adalah sosok seorang teman dan kubisikan, "Tolong..."

Dia pergi lagi dan meninggalkan luka dalam.
Luka dalam dan rasa jijik.
Ia berhasil.
Ia berhasil membuatku merasakan rasanya diperkosa.

23.9.15

Tanpa Judul

Ketika mereka ingin pergi, biarkan.
Biarkan mereka pergi.
Jangan sesekali coba untuk menahannya
Karena pada akhirnya kita akan berjuang sendirian.

Ketika mereka menginginkan lebih
biarkan mereka pergi mencari yang lebih
Jangan tawarkan lebih ketika kita tidak sanggup memenuhinya,
karena pada akhirnya kita yang akan merasa sesak.

Ketika mereka menyerah, pulanglah.
Walau gontai, pulanglah.
Tidak ada gunanya berdiri di tempat yang sama dan terdiam.
Mundur sedikit pun tidak menjadi masalah.

Ketika sudah terlalu lelah, berbaringlah.
Berbaringlah dan hirup sedalam-dalamnya,
biarkan udara itu mengalir dalam tubuh
dan menyapu bersih rasa bencimu.