29.11.11

berperipengertian

is it boring that you always get an update from me? ha, i don't even care. :D

cuma ingin bertanya, selama ini seberapa besar pengertian yang kamu berikan terhadap orang lain? cukupkah? atau besarkah? atau justru tidak terlalu besar? kalau saya sih jujur aja nih, bisa dibilang cukuplah. gak berlebih, gak kurang juga. tapi itu kan menurut saya, bukan menurut orang lain. contohnya, saya bisa mengerti kenapa salah satu sahabat saya punya kepribadian yang cablak dan frontal dalam berbicara. mungkin memang begitu cara didikan orang tuanya. tetapi, yang saya tidak bisa mengerti adalah dia bisa gak tau kalau ternyata kata-kata frontalnya bisa menyakiti perasaan orang lain, dan ini terjadi berulang-ulang. jadi kalau diitung-itung seimbang lah ya cara saya mengerti seseorang.

sama halnya ketika kita memiliki hubungan dengan seseorang, salah satu hal yang diutamakan itu kepercayaan dan PENGERTIAN. Kadang saya suka mengeluh ini itu, pacar kurang ini, pacar kurang itu, dia kenapa gak begini, kenapa gak begitu. kalo diterusin pasti bisa jadi essay. oh ya, saya itu doyan mengeluh ngomong-ngomong. mengeluh tapi lalu menyesal, lalu mengalami pencerahan, lalu kembali bersyukur. haha. gitu aja terus. anyway, setelah saya mengeluh ini itu soal si pacar, yang pastinya di dalam pikiran dan dia sepertinya belum tentu tau, saya suka berpikir ulang: apa saya yang terlalu banyak menuntut ya? terlalu banyak ingin orang itu menjadi seperti yang saya inginkan. salah tidak ya? salah atau tidaknya, saya sendiri gak bisa jawab. tapi satu yang pasti sih, kalau memang tidak suka bisa belajar untuk bilang tidak suka. tapi itu sih yang masih saya pelajari juga. gak banyak mengeluh serta menuntut dan lebih mengerti karakter masing-masing orang, termasuk pacar saya.

tapi ada saatnya juga saya ingin dimengerti oleh orang sekitar saya. misalnya, saya ingin sekali dimengerti sama orang-orang tentang sifat saya yang peka dan sensitif. ketika orang tidak bisa mengerti, saya maunya sih marah, tapi....saya juga HARUS mengerti mereka kan?

-gabriella

28.11.11

it's our 60th day, Raja..



anyway, it's our two-monthversary. too bad it didn't go well cause we had this argument. but whatever, he's still my love. i love you, Raja.. :)

kesabaran itu....tidak ada batasnya.

saya terkadang suka inget sama kata-kata paling populer di kalangan masyarakat yaitu "Kesabaran Ada Batasnya". Emang paling enak kalo lagi emosi, karena ulang orang lain yang melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi, kita lalu berpegang sama prinsip itu sehingga kita mengijinkan diri kita untuk melampiaskan amarah.

tapi coba deh kalo kesabaran itu kita ibaratkan seperti rasa lapar pada saat puasa. Pas waktunya makan siang, perut lagi lapar-laparnya, tapi mau gak mau kita harus tahan rasa lapar itu sampe menunggu waktu berbuka. rasa lapar yang ditahan "sedikit" lagi, lama kelamaan akan hilang. nah, kalau menurut saya kesabaran itu hampir sama seperti rasa lapar. andaikan kamu sedang bersama teman, lalu ia melakukan kesalahan yang bisa bikin kamu marah. ketika hendak marah, coba deh, tahan sedikiiiiit lagi. tanpa kamu sadari, rasa marah itu sirna. ketika teman yang sama melakukan kesalan yang sama sekali lagi dan kamu hendak membentak dia, coba tahan sedikiiiiit lagi amarah kamu, maka marah itu akan hilang dengan sendirinya.

mudah kalau cuma berbicara saja dan amat sulit dilakukan, tetapi kalau memang ingin mencobanya dnegan sungguh-sungguh pasti bisa kok. Kita memang bukan Tuhan yang selalu mengampuni anak-anakNya dengan penuh kasih, tetapi kita dikasih kuasa untuk mengasihi lebih dari orang lain. Jadi, bukan hal mustahil bagi kita untuk terus bersabar dan tidak lupa untuk bersyukur akan segala sesuatunya. Selamat bersabar.. :)

-gabriella

27.11.11

Dia punya cara-Nya sendiri

setiap saya berpikir tentang apa yang telah saya dapat di dalam kehidupan saya, saya selalu berpikir, kok bisa ya? Banyak banget berkat yang diberikan Tuhan sama saya secara cuma-cuma, tanpa pamrih, dan yang paling penting, gak disangka-sangka.

sharing time!
jadi ceritanya hari kamis lalu saya lagi jenuh sejenuh-jenuhnya jenuh, malas semalas-malasnya malas dalam hal kuliah. tugas, masuk kelas, essay, semuanya! rasanya tuh muak sekali. bahkan tugas yang harusnya dikumpulkan kamis pagi itu pun belum saya sentuh sama sekali sampai jam setengah 6 pagi. malas juga untuk baca bahan mata kuliah jam ketiga. intinya malas. mungkin Tuhan mengerti kalau anaknya yang satu ini sedang gundah gulana tak tentu arah, sehingga pagi itu saya terima pesan singkat yang mengatakan bahwa dosen saya yang kuliah jam 8 pagi gak bisa masuk karena anaknya sakit. Reaksi pertama saya apalagi kalau bukan tersenyum lebar. akhirnya saya bablas untuk bolos mata kuliah yang kedua karena jenuh tak keruan. ketika sudah sampai di kampus untuk kuliah yang ketiga, sang dosen bilang, "kayaknya kita gak bisa kuliah karena ruangannya dipakai. kamu baca aja novelnya sampai habis ya.."
satu hal yang terungkap dari hati saat itu juga: TUHAN MEMANG PALING MENGERTI!

beda lagi dengan kejadian hari ini. sudah kira-kira 2 hari suara saya habis. benar-benar habis, mau bicara aja susah. padahal kalau sesuai rencana, selasa depan saya harus tampil diacara musik dengan teman-teman saya di kampus. berbagai cara saya lakukan supaya sembuh. minum 3 jenis obat sekaligus, vitamin, sampai jeruk nipis+kecap saya hantam. bahkan tadi pagi saat di gereja, saya gak berani ngeluarin suara untuk nyanyi, yang akhirnya cuma berhasil nyanyi dalam hati (yang tulus). haha. rasa khawatir akan tenggorokan itu masih ada, sampai tiba-tiba malam ini dapet sms kalauuuu ACARA KAMPUS DIBATALKAN SEHINGGA SAYA GAK PERLU NYANYI. kecewa, kesel, marah sempat terlintas karena ini sudah kedua kalinya panitia membatalkan acara. tapi tiba-tiba terlintas pikiran, "Tuh kan, Tuhan baik. Tenggorokan kamu lagi sakit, disuruh istirahat kan sekarang?". OH IYA.

dari hal-hal di atas saya sekali lagi hanya bisa berdecak kagum sama cara kerja Tuhan Yesus dalam hidup saya. mungkin terdengar simpel dan sepele, tapi kalau kita sadari banyak hal yang PATUT kita syukuri, bahkan hal yang menurut kita itu "sial". cara kerja Dia itu unik, gak sama dengan yang lain. tinggal cara kita menanggapinya aja gimana, dengan hati yang bersungut-sungut atau dengan hati yang penuh suka cita?

"Kita memang tidak selalu mendapatkan apa yang kita sukai, tapi kita harus belajar menyukai apa yang kita dapatkan" - khotbah di GII, 27 November 2011.

-gabriella

15.11.11

seandainya...

gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.

hah, seandainya dulu peribahasa itu berbunyi, "gantungkanlah cita-citamu setinggi langit-langit", pasti saya gak akan merasa setertekan ini. haha, kalau kamu lagi baca tulisan saya sekarang, pasti kamu bertanya-tanya, "Ini orang kenapa lagi? Udah kerjaannya curhat, sekarang ngerasa tertekan?". Yes, I am depressed, but still in a tolerable way. Mungkin kalian bingung akan hal apa yang bisa bikin seorang Audrey merasa tertekan, tapi ya memang ada karena saya bukan manusia super. Mungkin terdengar cupu atau payah, tapi KULIAH lah yang membuat saya tertekan untuk sekarang ini. Tugas yang gak kunjung berhenti, bacaan yang harus diselesaikan, belum selesai sudah ada bacaan yang baru lagi, deadline membuat essay, dan masih banyak lagi.

Sekedar informasi saja, bagi yang belum tahu, saya seorang mahasiswi sastra inggris Universitas Padjadjaran 2009. Di posting saya sebelumnya (history), saya pernah cerita kalau sebenarnya saya itu angkatan 2007 yang menunda 2 tahun lamanya untuk masuk ke bangku perkuliahan. Singkat cerita, karena saya merasa sangat tertinggal dari teman-teman seangkatan saya (2007), maka saya menargetkan diri saya sendiri untuk lulus paling tidak 3,5 tahun, tidak boleh lebih tetapi kurang lebih baik. Pada semester-semester awal saya merasa santai saja walau mengambil mata kuliah ke atas. Tapi semakin kesini, semakin terasa kalau gunung yang harus saya daki kok makin curam ya? hm.

Sekarang saya sudah masuk semester 5 dan sudah mengambil mata kuliah pengutamaan SASTRA. Jadi kalau di UnPad ada 3 pengutamaan yang nantinya harus dipilih, yaitu Sastra, Linguistik, dan Terjemahan. Saya dengan modal nekat, memilih sastra dan dimulailah segala mimpi buruk ini. Mengambil pengutamaan sastra berarti harus mau dipaksa untuk membaca puluhan karya, fiksi essay maupun teori. Awalnya biasa saja walau harus berhadapan dengan pil-pil pahit tersebut, tapi tapi tapi... lama-kelamaan jadi seonggok batu besar yang berdiam di atas pundak, menjadi beban yang tak dapat dinikmati.

Selalu ada bacaan tiap minggunya, untuk setiap mata kuliah. belum selesai di baca, sudah ada bacaan yang menunggu di depan untuk dilahap habis. Lelah. Penat. Bosan. Rutinitas yang sangat menyebalkan. Air mata kadang sudah tidak bisa ditahan lagi sehingga tumpah tak terkendali. Ingin berhenti kuliah bukan menjadi pikirian yang hanya sekali-dua kali muncul, namun hampir setiap minggu. Sering saya berpikir kalau saya butuh seorang psikolog untuk menolong perasaan tertekan saya, namun orang pasti tertawa atau melecehkan. Manja, mengeluh terus. KALIAN GAK NGERTI APA YANG SEDANG SAYA HADAPI. Memang ini resiko yang harus saya tanggung, semua akibat komitmen yang sudah saya buat. Senjata makan tuan, mungkin?

Tapi bagaimana pun juga, tidak henti-hentinya saya diingatkan kalau masih banyak sosok yang dengan senang hati akan mendukung saya. Keluarga, sahabat, pacar, banyaaaak! Terutama Tuhan Yesus yang gak ada capek-capeknya memberi support lewat firmanNya yang hidup. Ketika terpuruk, saya selalu ingat satu ayat dari Filipi 4: 6, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."

13.11.11

don't mess up with me, old lady.

kemarin ada hal yang bikin mood saya acak kadut. jadi ceritanya siang kemarin si pudding mampir ke kostan saya, sambil nungguin motornya yang lagi di service deket kostan. seperti biasa, kami ngobrol-ngobrol santai di ruang tamu. untuk sekedar informasi, kostan saya memperbolehkan tamu laki-laki datang HANYA sampai ruang tamu. nah, singkat cerita kami lagi bingung mau makan siang dimana. Waktu itu posisi kepala saya (yang agak pusing) lagi rebahan di paha si pudding. Tiba-tiba si bibi kostan masuk dan liat kami lagi berdua dan langsung nyeletuk dengan nada yang sangat ketus, "Di sini bukan tempatnya pacaran! Di sini tempatnya BELAJAR!"


saya yang lagi santai-santai aja, kaget dengernya. ini orang kenapa tiba-tiba ketus banget padahal biasanya juga santai. emosi saya terpancing dan saya jadi marah-marah sendiri. akhirnya dari pada terpancing emosi lebih jauh lagi, saya dan pudding langsung pergi aja dari kostan. mungkin lain kali kalau si bibi coba berbicara dengan saya, bakal saya celetukin, "Bi, besok-besok pasang aja di runag tamu tulisan 'BUKAN TEMPAT PACARAN' yang gede, supaya semuanya tau.."

EMANG ADA APA SIH DENGAN ORANG PACARAN DI RUANG TAMU? Salah ya? apa di pikiran si bibi kalo dikostan kerjaannya BELAJAR doang ya? Bukannya lebih baik saya pacaran di ruang tamu yang jelas-jelas terbuka, banyak orang yang lihat, jadi terhindar dari yang "tidak-tidak" dari pada pacaran di tempat lain? PICIK.