12.7.16

Kamar Mandi



Jam 00.01.

Aku masih berdiri diam di dalam kamar mandi. Tak sehelai benang pun kuusahakan untuk membalut tubuh telanjang ini. Dingin. Kebetulan hujan baru saja reda dari mampirnya ia ke tanah sejak tadi sore. Walau begitu, tetap saja kubiarkan tubuhku meresapi semua kesejukan yang jarang dirasakannya. Tadinya aku hendak membersihkan tubuhku, tapi seperti ada yang menahan inginku.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikan abu

Sepenggal lirik dari lagu "Aku Ingin" yang dinyanyikan oleh AriReda mengalun pelan dari telepon selulerku yang memang sengaja kubawa ke dalam kamar mandi. Salah satu kebiasaanku, mendengarkan lagu ketika mandi. Mungkin karena aku tidak suka suasana kamar mandi yang sepi. Lalu kulihat layar telepon selulerku menyala. Ada pesan masuk. Oh, kamu.

"Sedang apa?" tanyamu.

"Berdiri saja di kamar mandi."

"Buat apa? Sudah malam, lekas istirahat."

"Sebentar lagi. Rasanya ingin mandi, tapi malas karena pasti dingin."

"Kenapa mandi jam segini? Sudah pasti dingin."

"Tubuhku kotor. Harus dibersihkan..."

"Ya sudah, lekas mandi. Semakin malam, akan semakin dingin."

Sejenak kuperhatikan saja isi pesanmu. Kalau aku mengaku bahwa pesan terakhirmu membuat senyumku mengembang, apakah itu akan membuat kamu melayang? Senyumku mengembang karena ternyata kalimat pendek yang terdiri dari sembilan kata itu bisa membuatku merasa lebih hangat.

Jangan bangga dulu, karena memang menjadi tugasmu untuk membuatku tersenyum. Tidak harus selalu dan sering, karena yang terlalu sering akan menjadi biasa. Setelah biasa, lalu jadi tak bermakna.

"Iya," jawabku singkat.

Kuletakkan kembali telepon seluler di atas tutup kloset, lalu aku melanjutkan diamku di kamar mandi ini sambil menunggu keinginan untuk memutar keran air. Sayang, keinginan itu lama sekali datangnya...

1.7.16

Samara

Percayakah kamu kalau Tuhan dapat bekerja dengan cara yang sangat istimewa?

Semuanya diawali ketika saya berulang tahun ke-27 bulan April lalu. Buat saya saat itu, beranjak ke umur 27 tahun merupakan sesuatu yang...menakutkan. Saya merasa belum banyak mencapai sesuatu yang besar dalam hidup, padahal sebenarnya keinginan banyak sekali. 27 tahun. Teman-teman seumuran saya sudah banyak yang memiliki penghasilan besar, karir yang mapan, bahkan keluarga kecil dengan pasangan mereka. Ketika saya melihat semua itu dan melihat diri sendiri, saya mulai bertanya pada diri sendiri, "Lo ngapain aja, sih, selama ini? Kerjaan gini-gini aja, penghasilan macam fresh graduate, belum mandiri sepenuhnya pula." Pikiran-pikiran seperti itu terus menghantui dan berhasil membuat ulang tahun saya menjadi hari paling menyedihkan seumur hidup saya.

Sepanjang hari itu saya menghabiskan waktu bersama keluarga dan semua terlihat menyenangkan. Terlihat. Sesampainya di rumah, saya langsung masuk ke kamar dan menangis sejadi-jadinya.Yang saya rasa cuma segala tekanan yang ada di pikiran saya itu akhirnya keluar dalam bentuk tangisan. Setelah puas menangis dan bercerita kepada sahabat saya, saya langsung tidur dan hari itu berlalu begitu saja.

Lalu beberapa minggu kemudian, berangkatlah saya ke Kalimantan Barat dengan rombongan pelayanan bersama teman-teman persekutuan kecil. Di sana kami akan tinggal di Desa Air Durian, Kecamatan Air Upas. Ini pertama kalinya saya ikut dalam rombongan pelayanan dan saya enggak tahu seperti apa medan yang akan saya hadapi. Dari awal ibu saya sudah mewanti-wanti kalau saya harus siap untuk kondisi yang terburuk. Ia bercerita kalau ia pernah dapat tempat pelayanan yang fasilitas airnya sulit dan sekalinya ada air, warna airnya kuning. Perlu kalian tahu, saya ini sosok yang manja dan gampang merasa jijik. Bahkan saya pernah beres-beres kamar kostan teman yang berantakan karena saya takut enggak bisa duduk dengan tenang.

Singkat cerita saya sampai di Desa Air Durian ini pukul setengah tujuh malam setelah menempuh perjalanan dengan pesawat selama 4 jam (Jakarta - Pangkalabuun) dan 6 jam perjalanan dari Pangkalanbuun sampai Air Durian dengan mobil travel. Jalanan yang ditempuh juga bukan jalanan aspal yang mulus, tetapi jalanan tanah yang becek dan rusak, lengkap dengan lubang yang besar-besar. Belum lagi kami harus melewati kebun kelapa sawit yang tiada ujungnya. Rasa lelah, bosan, dan kantuk semuanya jadi satu. Mau tidur pun tidak akan bisa, karena ketika hampir lelap, tiba-tiba mobil harus menghajar jalanan berlubang itu dengan ganasnya.

Pemandangan sepanjang Pangkalanbuun,
sebelum masuk ke kebun kelapa sawit.

Jalanan yang tidak pernah mulus, selalu berlubang.

Karena sudah malam, ketika sampai di rumah yang akan kami huni selama seminggu, saya belum bisa mereka seperti apa suasana desa yang saya tinggali ini. Yang saya tahu pasti adalah di sana babi itu dipelihara layaknya anjing atau kucing di Jakarta. Mereka dibiarkan lepas di jalanan dan bisa dengan patuh akan kembali ke kandang kalau dipanggil. Aneh.

Untuk pengalaman pelayanan pertama saya dengan tim pelayanan ini, saya akan ceritakan di tulisan berikutnya. Singkat cerita saya mengalami banyak perubahan sikap setelah ikut ke Kalimantan. Salah satu pengalaman yang saya enggak bisa lupa di sana adalah ketika saya enggak dapat sinyal selama 6 hari. Tetapi hal tersebut bukannya membuat saya merana, melainkan saya merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Buat saya yang setiap hari rajin update berita dan posting ini itu di media sosial, harusnya saya merasa ketinggalan, tapi enggak juga. Justru saya jadi merasa bisa sepenuhnya fokus dengan kegiatan pelayanan ini. Kalau bingung enggak tahu mau ngapain lagi, saya ambil sikap doa saja. I tried to build more connection to Him. Hal tersebut enggak sia-sia, sih. Saya mulai sadar ketika saya mencoba membuka hati dan telinga untuk mendengar lebih, jawaban akan kegusaran hati pasti sayup-sayup mulai terdengar.

Sepulang dari Kalimantan, saya kembali mengingat pergumulan saya dan mulai merenung. "Apa yang salah dengan saya?" Saya teringat dengan orang-orang di Air Upas yang bisa dibilang hidupnya sederhana dan apa-apa terbatas, tetapi mereka bahagia. Mereka enggak bisa merasakan kecanggihan teknologi seperti saya, tetapi mereka baik-baik saja. Lalu terpikir satu hal tentang bersyukur. Ketika saya merasa hidup saya kurang ini dan itu, saya lupa kalau Tuhan Yesus sudah memberikan banyak hal dalam hidup saya; keluarga yang selalu ada, sahabat yang siap mendengarkan, pekerjaan yang tidak banyak menuntut waktu pribadi saya, dan masih banyak lagi. Saya pun berpikir tentang rencana sekolah memasak ke Perancis yang awalnya saya rancang, jangan-jangan itu salah satu bentuk pelarian saya akan ketidakpuasan dengan keadaan saya yang sekarang. Bukannya berusaha memperbaiki, malah ingin kabur. Membuka lembaran baru ternyata tidak semudah itu.

Justru lembaran baru itu mulai terbuka ketika saya sadar saya harus menyerahkan semuanya kembali ke Tuhan Yesus. Balik lagi ke ucapan "manusia boleh berencana, tapi biarlah rencana Tuhan juga yang terjadi." Saya juga punya keyakinan kalau di dalam Tuhan tidak ada rancangan kecelakaan, sehingga apapun masalah yang saya hadapi pasti ada buahnya dan buahnya pasti indah. Enggak mudah menyerahkan mimpi dan keinginan yang kita punya, apalagi harus berlapang dada kalau sekiranya itu tidak akan terwujud. Ada rasa takut untuk melepaskan keinginan daging, tapi saya pikir ada hal lain yang lebih penting untuk dijalani. Kembali lagi ke masalah prestasi hidup di umur 27 tahun, sekarang saya bisa bilang, "Terserah Tuhan Yesus saja saya mau ditaruh di mana. Perancis, Jakarta, atau pedalaman sekali pun, terserah. Yang penting, apa pun yang saya lakukan nanti, berguna buat Engkau, Bapa."

Tuhan Yesus memberkati kita semua. :)