19.8.17

Kamu Kan Perempuan, Seharusnya Kamu....



Pernah mendengar seseorang mengucapkan kalimat seperti itu di depanmu? Saya, sih, sering. Mulai dikomentari dari segi penampilan dan keahlian, tapi juga dari pilihan musik dan masih banyak lagi.

Banyak perempuan di luar sana yang mengeluh merasa didikte oleh laki-laki dengan kalimat ini, tapi entah mengapa saya merasa kalimat ini dilontarkan lebih banyak oleh sesama perempuan. Hal ini menjadi miris buat saya. Bukannya saling memberi dukungan, terkadang sesama perempuan justru saling menghakimi.

Penghakiman itu biasanya dimulai dengan kalimat,

"Kamu kan perempuan, seharusnya kamu..."

1. "...berpakaian rapi."

Saya termasuk perempuan yang suka berpenampilan rapi, tapi kadang juga suka mengikuti mood. Jadi ketika saya ingin tampil rapi, saya bisa saja mengenakan rok span, blouse, serta clog shoes ke kantor. Namun kalau sedang ingin tampil kasual dan malas tampil rapi, saya biasanya memakai kaos, jeans, dan sneakers.

Suatu hari saya pernah berpenampiln cuek seperti ini dan langsung disambut dengan kalimat, "Kok, tumben tomboi amat. Kayak kemarin-kemarin, dong, rapi, cewek banget gitu."

Biasanya, sih, saya jawab saja dengan "lagi pengin pakai kaos," atau "lagi malas dandan."


Saya berpakaian rapi karena saya suka. Saya berpakaian feminin karena suka. Saya pakai high heels karena saya suka. Bukan karena saya perempuan.


2. "...jago dandan."

Baru saja terjadi belakangan ini, yaitu ketika saya, mamah, dan ompung sedang mampir ke toko kecantikan untuk membeli hairspray buat si Ompung. Singkat cerita, si Ompung jadi seru ngobrol soal hobi berdandannya dari Ia masih muda hingga sekarang berumur 82 tahun.

Di satu saat, mamah nyeletuk dan bilang, "Ya mau gimana juga, yang namanya perempuan itu harus bisa tampil rapi, cantik, harus bisa dandan, lah." Sudah dipastikan saya akan menjawab, "Kata siapaaa?" Namun beliau tidak membalas lagi dan bertanya kembali kepada saya sesudah selesai belanja.

"Kenapa kamu jawab gitu?"
"Ya, memang kata siapa perempuan harus bisa dandan, harus tampil rapi? Itu kan kata masyarakat."

Banyak perempuan di luar sana yang tidak suka berdandan. Lalu apa itu tidak menjadikan mereka perempuan? Dan apakah yang jago dandan jadi lebih bernilai dari pada yang lain? Saya rasa tidak.


3. "...bisa masak."

Saya sendiri baru mulai suka masak setelah bekerja. Bahkan ketika kuliah dan harus kost, memasak jarang menjadi pilihan untuk bertahan hidup. Saya lebih memilih untuk beli makanan di luar. Kenapa? Repot.

Memasak itu memakan waktu, butuh persiapan banyak, dan setelah jadi, cucian setumpuk!

Lalu yang menjadi kegelisahan saya, kenapa harus perempuan yang bisa memasak? Seakan-akan kalau laki-laki tidak bisa masak itu adalah hal yang lumrah. Memangnya yang butuh makan perempuan doang?

Jadi kalau buat saya, lagi-lagi, memasak bukan ranahnya perempuan saja. Coba lihat, berapa banyak koki handal di dunia ini yang berjenis kelamin laki-laki?


4. "...suka beberes dan kamarnya enggak berantakan."

Ini yang sering dikeluhnya mamah saya. Kamar saya memang tidak pernah rapi dan pasti ada saja spot berantakannya. Kenapa? Ya, malas aja beberes kamar di hari Sabtu atau Minggu. Penginnya kemulan di kasur, menikmati hari libur.

Kalimat "anak perempuan kok kamarnya berantakan banget, sih," sudah jadi makanan sehari-hari saya dari masih remaja. Sedangkan kamar adik laki-laki saya, yang serupa dengan pondokan baru kena taifun, tidak pernah dikomentari dengan kalimat yang sejenis.

Padahal bukannya kalau ditelisik dari segi kebersihan dan kesehatan, laki-laki dan perempuan itu sama saja, ya? Sama-sama harus rapi dan bersih?


5. "...tampil feminin."


Saya ingat mamah saya selalu bercerita kalau dari kecil saya suka minta dibelikan baju bertemakan princess. Gaun merah muda dengan rok mengembang dan tidak ketinggalan puffed sleeves. Dari kecil saya memang suka baju yang centil, walaupun kelakuan saya cenderung tomboi.

Hal itu terbawa sampai sekarang. Meski sudah pakai baju 'cewek', ketawa saya masih menggelegar, bercandaan saya sering tak senonoh, dan duduk masih suka serampangan, yang kalau dinilai oleh sebagian orang, tidak feminin.

Tapi bagaimana seseorang bersikap dan berpenampilan, harusnya tidak dibatasi dengan gender tertentu. Hanya karena saya perempuan, apakah saya harus suka warna pink karena warna ini dinilai feminin? Seakan-akan kalau sukanya warna hitam jadi tidak perempuan banget.

Hal ini juga berpengaruh terhadap banyak laki-laki, yang enggan memakai warna-warna cerah sperti pink, kuning, atau ungu, karena buat mereka itu adalah warnanya perempuan. Sejak kapan warna mengenal gender?


6. "...kalem."


Dari semua sifat yang digolongkan perempuan banget, mungkin kalem adalah sifat yang tidak saya miliki. Saya mah anaknya centil, petakilan, cerewet, dan berbagai sifat ekstrovert lainnya. Saya cuma kalem kalau ada di lingkungan baru yang belum saya kenal sama sekali.

Apakah saya menjadi kurang perempuan karena saya tidak kalem? Saya rasa tidak.

Banyak teman laki-laki saya yang jauh lebih kalem dari saya dan itu tidak membuat mereka menjadi kurang laki-laki.


7. "...suka senyum."

Nasib punya RBF alias resting bitch face, selalu disangka lagi bete padahal saya lagi bengong dan pikiran kosong.

Seseorang bahkan pernah melontarkan kalimat, "Ya ampun, Drey, kamu kok cantik-cantik mukanya jutek banget? Senyum, dong! Anak perempuan masa cemberut?" di saat saya lagi bengong.

Seakan. Perempuan. Tidak. Boleh. Merasa. Kesal.

Saya tersenyum ketika saya ingin tersenyum dan ada hal yang membuat saya bahagia. Lagi pula, kenapa kalau perempuan tidak tersenyum dibilang jutek, tapi kalau laki-laki dibilang cool? Yang lebih aneh, kalau laki-laki yang ramah senyum, dibilangnya centil. Serba salah.


8. "...nggak suka musik gogonjrengan."

Salah satu teman persekutuan saya pernah terlihat shocked ketika saya ajak buat nonton Barasuara yang kebetulan saat itu sedang manggung di Bintaro. Kalau ada yang belum tahu Barasuara, kalian musti dengar sekarang juga! *fangirling*



Kenapa dia kaget? Karena dia tidak mengira saya suka jenis musik seperti ini. Jadi ketika dia lihat saya berjoget dengan asyiknya, dia tertegun. Belum lagi ketika saya berteriak dan mendendangkan lagu.

Setelah selesai dan ia masih diam, saya tanya, "Kenapa? Enggak nyangka saya suka musik kayak gitu, ya?" dan ia cuma bisa mengangguk. Saya sih tidak menyalahkan dia, tapi memang konsep yang dibentuk oleh masyarakat, perempuan itu wajarnya lemah lembut, sampai ke selera musiknya juga. Lalu apa kabar Nicky Astria?


9. "...jangan pintar-pintar amat."

HAHAHAHAHAHAAAA!!! Saya cuma bisa ketawa ketika ada orang yang bilang begini. Bukan, bukan marah, tapi lebih kasihan.

Dulu saya pernah dekat dengan laki-laki yang melontarkan kalimat sejenis itu. Dia bilang, "Ngapain, sih, Drey, kamu kepikiran lanjut sekolah lagi? Buat apa? Toh, ujung-ujungnya akan di rumah juga kalau habis nikah, ngurus anak dan suami."

Pernyataan dia langsung saya sanggah dengan, "That's why you will never be my husband," dan saya sudah tidak berhubungan lagi dengannya. Ngapain? Buang-buang waktu, tenaga, dan emosi.

Saya sudah lelah dengan penyataan kalau jadi perempuan itu enggak usah pintar-pintar amat, nanti laki-laki enggak ada yang mau. Kok cetek banget ya pikirannya? Saya jadi mikir, apa laki-laki segitu insecure-nya dengan perempuan pintar? Bukannya jadi terpicu untuk tidak kalah pintar, malah menyalahkan perempuan. Cuma laki-laki yang malas dan pengecut yang menganggap perempuan pintar itu menakutkan.

Punya pasangan yang pintar itu enak, tahu, bisa jadi sumber ilmu pengetahuan dan tempat bertukar pikiran. Lagi pula, apa pun jenis kelaminnya, menjadi pintar itu pilihan utama.


10. "...jangan keasyikan kerja, nanti lupa nikah."

Saya simpan ini di nomor terakhir karena sepertinya ini yang paling sering diserukan oleh tetua-tetua di keluarga maupun lingkungan lainnya. Buat saya, ini paling sering dilontarkan oleh tante-tante di lingkungan gereja saya. Apalagi ketika tahu kalau umur saya sebentar lagi 30 tahun. 

Buat sebagian orang, perempuan yang suka bekerja itu ambisius dan sibuk, sehingga melupakan oh-so-called kodrat perempuan, yaitu menikah. Buat saya, kodrat saya sebagai perempuan itu hanyalah menstruasi. Sisanya adalah pilihan, termasuk menikah dan memiliki anak. Memilih untuk tidak menikah dan tidak memiliki anak pun tidak mengurangi nilai seseorang menjadi perempuan.

Ada alasan saya untuk tetap asyik bekerja, yaitu menjadi perempuan yang semakin mandiri, menambah pengalaman, dan mencukupi kebutuhan pribadi saya sehari-hari. Di umur yang sudah 28 tahun gini aja saya masih hidup di rumah orang tua. Lalu apakah saya jadi lupa untuk menikah?

Menikah belum pernah jadi prioritas saya dalam hidup. Ingin, tapi bukan prioritas. Jadi kalau dibilang lupa, sih, ya enggak juga. Tapi memang belum ada yang bisa dijadikan pasangan hidup dan belum menjadi prioritas saja. 


Lalu dari sekian banyak poin yang saya sebutkan, apa kalimat yang paling sering kamu dengar? Atau ada kalimat lainnya yang kamu dapat? 

Saya yakin masih banyak, seperti perempuan seharusnya berpakaian sopan dan tertutup karena akan membuat nafsu birahi laki-laki membuncah, atau perempuan seharusnya nurut aja kalau dibilangin ini-itu dan tidak usah membantah, dan sebagainya.

Menjadi seorang perempuan itu memang tidak mudah. Banyak harapan dan dikte yang ditaruh oleh masyarakat patriakis untuk perempuan, bahkan sejak perempuan itu lahir. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah akan ikut dengan "aturan-aturan" tersebut atau memilih untuk menjalani yang membuat kita nyaman.


14.4.17

Doa di Jumat Agung

Ketika mulut ini lebih banyak mengeluh,
mengeluarkan dusta, dan berkata-kata kasar

Ketika telinga ini lebih suka ditutup
saat ada yang mengatakan kebenaran

Ketika mata ini lebih memilih untuk tidak melihat
apa yang Engkau telah berikan selama ini

Ketika tangan dan kaki ini lebih sering
melalukan hal yang mendukakan hati-Mu

Ketika pikiran ini lebih suka berpikir
seturut akal pikiranku sendiri

Ketika hati ini lebih mencintai dunia
dari pada mencintai Engkau

Ketika diri ini dari waktu ke waktu
merasa lebih hebat dari ciptaan-Mu yang lain

Ampuni aku, Tuhan.