28.10.15

Patah Hati Bukan Perkara Sederhana

Seorang teman pernah berkata kepada saya, "Jika kamu merasa sedih, jangan dipendam saja. Tumpahkan apa yang kamu rasakan. Kamu bisa apa? Menulis? Tuliskan perasaanmu." Maka sekarang saya di sini akan menulis apa yang saya rasakan dan saya harap kamu tidak bosan.

Saya akui patah hati bukanlah perkara mudah. Tidak mudah menerima kenyataan bahwa kisah cinta berakhir tidak seperti yang kita bayangkan. Tidak mudah juga untuk tidak mengingat-ingat hal indah yang pernah terjadi di masa lalu. Menyibukkan diri mungkin bisa membuat kita lupa sejenak, tapi ketika kegiatan itu terhenti, semua kembali terkenang. Setidaknya itu berlaku buat saya.

Berlaku seakan semua baik-baik saja juga bukan merupakan solusi. Ada satu titik di mana kita lelah berpura-pura dan runtuhlah semua benteng semu yang telah kita buat selama ini. Bagaikan membangun menara dengan fondasi yang asal lalu disentuh sedikit, dia pun oleng dan jatuh. Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa hati kita masih bobrok.

Lalu, percayakah kamu, kalau musik bisa membuat menaramu yang tadinya terlihat baik-baik saja, jadi runtuh seketika? Semudah itu sebuah lagu membawa kita ke masa di mana kita jatuh cinta dan menyadari kalau sekarang lagu itu justru jadi pembawa lara. Yang ingin kita lakukan adalah mematikan lagu tersebut tapi tidak sanggup karena...ternyata kita terlalu mencintai lagu tersebut.

Ada yang pernah bilang bahwa yang kita rindukan adalah kenangannya, bukan orangnya. Tapi bagaimana kalau yang kita rindukan adalah memang kehadiran orang tersebut di samping kita? Mungkin bukan sebagai kekasih, tapi cukup untuk mendampingi duduk sore sambil menikmati senja tanpa kata. Bisakah?

Bohong ketika kita bilang kalau kita baik-baik saja, karena sebenarnya tidak. Mungkin nanti akan baik-baik saja, tapi entah kapan.

Selamat hari Rabu.

22.10.15

Gara-gara Kopi

Kekecewaan itu bisa dimulai dari kamu sudah bersemangat, karena hari ini akan memesan kopi dengan varian favoritmu (di kedai kopi yang sebenarnya enggak terlalu kamu sukai, tapi karena mereka menawarkan promo 50% setiap bulan, jadi kamu menanggalkan seluruh egomu dan belanja di sana), tetapi pesanan yang datang itu tidak sesuai dengan keinginan kamu. Kamu memesan kopi dingin, tetapi yang disajikan adalah kopi panas. Kamu sudah mengharapkan kopi itu bisa menyejukkan dahagamu di paginya Jakarta yang sangat terik, tapi sang barista memberikan kopi yang bisa membuat kamu semakin berkeringat. Ia meminta maaf karena kesalahannya dan menawarkan untuk membuat kopi yang baru, tetapi karena kamu sedang diburu waktu, jadi kamu menyarankan, "Sudah, mbak, ditambahkan es batu aja." Lalu apa yang kamu dapat sekarang? Kopi anyep. Panas tidak, namun dingin pun tidak mendekati. Enak? Tentu saja jauh dari harapan.


Kamu menimang-nimang langkah berikutnya yang akan kamu ambil: kamu akan kembali ke si barista dan meminta untuk membuatkan kopi yang baru....atau melangkah pergi dengan membawa termosmu yang berisikan kopi anyep tadi. Kalau kamu kembali kepada sang barista, waktumu akan banyak terbuang, menunggu ia membuatkan kopi yang baru, sedangkan kopi yang nantinya ia sajikan belum tentu lebih enak dari yang kamu terima sekarang. Pilihan yang kedua, kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan berjalan keluar dari kedai kopi tersebut, menerima kenyataan kalau kopimu anyep, tapi setelah beberapa teguk, rasanya tidak seburuk itu juga. Tidak menyejukkan seperti yang kamu harapkan, tapi tidak cukup panas juga untuk membuat keringatmu menetes.


Mungkin untuk menghindari kekecewaan di masa depan, dari awal kamu harus lebih jelas mengatakan ke sang barista seperti apa kopi yang kamu mau, dingin atau panas. Mungkin kamu butuh tambahan espresso atau tambahan gula merah, katakan padanya. Sehingga ia tidak salah dengar atau berasumsi apa maumu dan berakhir dengan memberikan kopi yang salah, lalu menyebabkan kekecewaan. Pun lain kali, jangan cepat tergiur dengan diskon, bisa membuat buta hati nurani juga sepertinya.

Selamat hari Kamis, kawan!

8.10.15

Cinta Bersemi Kembali

Kamu tahu rasanya cinta yang bersemi kembali?

Rasanya seperti ketika kamu berada di tengah musim kemarau yang panjang, lalu tiba-tiba hujan turun. Ia tidak turun dalam deras, tapi perlahan jatuh dalam gerimis. Pertama ia jatuh di atas ubun-ubunmu, lalu perlahan membasahi rambut yang hitam legam. Butiran-butiran berikutnya mulai jatuh ke atas kulitmu, mulai dari wajah, lalu turun ke leher, melewati tulang selangkamu, dan akhirnya menyambahi dadamu.

Ia tidak tergesa-gesa dan memaksa, karena ia ingin kamu menikmati setiap tetesannya. Walaupun mungkin ada rasa kesal karena penampilanmu bisa menjadi kuyu karenanya, tapi kamu tidak bisa memungkiri kalau kau rindu padanya. Belum lagi sensasi petrikor yang ia buat setelah ia merebahkan diri di tanah gersang itu. Ah, nikmat. Kau bisa menghabiskan waktu yang lama hanya untuk berdiam diri mengamati ia membuat tanah itu bisa bernapas lagi. Mungkin bau kopi di pagi hari bisa kalah nikmat bila dibandingkan dengan bau hujan ini.

Genangan-genangan air yang ia buat juga cukup menyenangkan untuk kamu ajak bermain. Mungkin akan membuat kakimu sedikit kotor, tapi kotor itu bisa terlupakan ketika basah telah menimbulkan rasa nyaman. Membayangkannya saja bisa membuatmu berdesah rindu. Yang sekarang bisa kamu harapkan adalah agar sang hujan bukan hanya datang untuk sejenak, tapi untuk beberapa bulan ke depan. Tapi jikalau itu memungkinkan, mungkin sang hujan bisa datang sesekali. Sekedar untuk menyejukkan, sekedar untuk melepas rindu.

3.10.15

Jakarta

Beberapa orang mengutuk ramainya Jakarta,
tapi beberapa orang mengagumi perkembangannya.
Beberapa orang ingin kabur dari Jakarta,
tapi beberapa ingin tinggal dan berjuang.
Ada yang berubah ketika bergaul dengan Jakarta,
tapi ada juga yang menolak bentukkannya.

Banyak yang bilang kalau Jakarta itu keras,
dan sayangnya itu memang benar.
Beberapa bilang itu berlebihan,
tapi, oh, cobalah untuk tinggal sejenak, kawan.
Banyak kejutan yang ditawarkan oleh kota serba ada ini.
Kemewahan, gerakan super cepat, keangkuhan.
Keramaian, asap knalpot, tapi ada juga tawa.


Sebagian cinta dengan Jakarta, sebagian muak, sebagian biasa saja.
Lalu, kamu termasuk yang mana?

30.9.15

Tanpa Syarat

Siang ini ia melihat mataku yang mulai berkaca-kaca. Ia menggenggam tanganku dan berkata, "Kamu perempuan yang kuat." Di saat itu saya tahu, saya memiliki seseorang yang setia di samping saya.

Sejenak saya ingin memperkenalkan sosok yang selalu ada selama 8 tahun ini. Ia bisa dibilang sahabat yang tidak pernah surut kehadirannya sejak tahun 2007. Saya ingat pertama kali bertemu dengannya itu ketika kami sama-sama ada di satu ruang ibadah yang sama. Saat itu saya sedang bertugas menjadi pemimpin ibadah dan ia sedang tidak bertugas, jadi ia duduk di bangku jemaat. Ia terlihat sangat dewasa dan pendiam untuk seumurannya. Saya merasa segan.

"Aku dulu tidak menyukaimu. Kamu semacam cacing kepanasan yang tidak bisa diam. Aku jadi pusing melihatmu." Kira-kira itu yang terlontar dari mulutnya ketika kami mulai dekat sebagai teman. Saya hanya bisa tertawa dan menggerak-gerakan badan saya, menggodanya. "Tapi sekarang aku bersyukur bisa mengenalmu," lanjutnya. Saya tersenyum dan membalas pernyataannya dengan pelukan. 

Tanpa disadari kami perlahan beranjak dewasa dan sama-sama mencapai umur dua puluhan. Kami sempat terpisah jarak, saya melanjutkan studi di Jatinangor dan ia memang sedang kuliah di Jakarta. Namun walau ada jarak dan saya jarang pulang ke rumah, persahabatan kami tidak pernah surut, tapi justru semakin menguat. Tidak ada yang bisa saya sembunyikan darinya, karena ketika kami bertemu, segala sesuatunya seakan tumpah. Saya bukanlah orang yang sulit dibaca, tapi hanya dia yang bisa membuat saya membuka seluruh halaman kehidupan saya.

Dia tidak akan segan-segan memarahi saya kalau saya melakukan hal bodoh yang nantinya akan menyakiti diri saya sendiri. Setelah ia memarahi saya, dia akan memeluk saya kembali, layaknya seorang ibu yang menenangkan anaknya. Ia tidak pernah meninggalkan saya karena saya pernah melakukan kesalahan, tapi justru merangkul saya lebih erat agak saya tidak jauh tersesat. Tuhan bekerja melalui dia, mengasihiku tanpa syarat.

Tidak ada kata lain yang keluar dari mulutku selain ucapan syukur memiliki ia sebagai sahabat. Kalau ditanya siapa saja perempuan yang memiliki peran penting dalam hidup saya, saya tidak akan ragu menjawab: ibu saya, Aigrim Giastin; nenek saya, Yohanna Tobing; dan sahabat saya, Madeline Saurina. Tuhan Yesus memberkatimu, sayang.

27.9.15

Ulang Tahun

Anak perempuan itu mematut dirinya di depan cermin. Ia memerhatikan pantulan tubuhnya di sana seakan memastikan penampilannya tetap baik-baik saja. Rambutnya yang panjang bergelombang terikat setengah dan ia mengikatnya dengan pita hijau transparan. Tubuhnya terbalut gaun berbahan batik dengan panjang setengah betis. Sejauh ini, inilah gaun yang menurutnya paling cantik yang pernah ia kenakan. Sekali lagi ia merapikan rambutnya dan menyelipkan sebagian ke belakang daun telinganya. Ia mengangguk kecil dan beranjak pergi.

Ia berdiri diam di depan pintu gereja itu. Cukup lama ia memandangi pintu gereja yang sudah terbuka sedikit, sehingga ia bisa melihat sedikit suasana di dalamnya. Ada rasa ragu dalam hatinya apakah ia harus melangkahkan kakinya masuk atau diam saja di tempatnya berdiri. Namun lamunannya buyar seketika ketika seorang teman menggandeng tangannya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam. "Ayo, sudah mau di mulai," katanya.

Wajahnya tersenyum dan mengikuti langkah sang teman. Ia duduk di bangku kayu urutan ketiga dari depan di sisi sebelah kanan. Ia merapikan gaunnya sekali lagi, tidak ingin dia terlihat berantakan sedikit pun. Lonceng gereja akhirnya berdentang tiga kali tepat di pukul delapan pagi itu. Jantungnya berdegup kencang. Lalu pintu gereja terbuka lebar dan masuklah sepasang pengantin yang akan menikah sebentar lagi. Anak perempuan itu kembali tersenyum, namun bukan senyum ceria yang sering membuat matanya hilang.

Senyum kehilanganlah yang dibentuk oleh bibirnya. Kehilangan sosok kekasih yang sebentar lagi akan menjadi milik perempuan lain. Tapi pagi ini ia memiliki tugas penting. Ia harus bernyanyi untuk mengiringi kedua pengantin tersebut hingga akhir prosesi pernikahan. Ia harus bernyanyi untuk kekasihnya yang sebentar lagi menjadi milik perempuan lain.

Malam itu, dalam perjalanannya kembali ke rumah, sebuah pesan masuk. Sang kekasih. Ia membuka pesan itu tanpa pikir panjang. "Selamat ulang tahun," bunyi pesan itu. Malam itu sang perempuan bertambah umurnya satu tahun lagi. Selamat ulang tahun ke-duapuluh, hai perempuan. Mungkin ini bukan hadiahmu yang terindah. Telanlah kepahitan itu sekarang, walaupun aku tidak bisa menjamin kau tidak akan merasakan hal yang sama 6 tahun kemudian.

26.9.15

Sejenak

Buntu.

Malam ini aku mencoba untuk merangkai kata lagi,
namun apa daya sepertinya hati ini menolak.
Ia menolak untuk berbagi apa yang dirasakannya sekarang. 
Sedih? Sepertinya tidak juga.
Marah? Sudah reda juga kalau dirasa-rasa.
Datar? Mungkin iya.
Mungkin itu sebabnya aku kehabisan kata-kata.

Tapi sepertinya buntu ini bisa menjadi hal yang menyenangkan.
Aku bisa meluangkan waktuku untuk berdiam,
untuk memberikan ruang istirahat bagi akal.
Mungkin besok aku bisa menulis lagi.
Menulis tanpa arah layaknya roh yang terbang lepas.
Ia tidak terikat oleh daging.
Ia bebas.

24.9.15

Tolong

Dia pergi memberi luka dalam.
Memberi sesak, mual, tangis.
Tapi anehnya aku mengingikannya kembali.
Bukan untuk kugenggam tangannya,
tapi sekedar teman berbincang.
Temanku berkata, "Buat apa? Ia akan menyakitimu lagi nanti."

Diam-diam setiap malam kupanjatkan ingin.
Aku ingin ia kembali.
Oh, Tuhan akhirnya mendengar doaku!
Ia kembali, tapi bukan untuk kugenggam tangannya.
Hanya untuk kupandang, dari jauh dan dalam diam.

Suatu malam ia menawarkan kembali persahabatan
Ganjil, namun kusambut bahagia.
Kuundang kembali ia masuk.
Tapi bukannya masuk dengan bilang, "Permisi,"
ia justru mendobrak masuk.

Ia memorak-porandakan semuanya.
Semua.
Semua.
Aku mencoba berteriak dan memohon padanya untuk berhenti,
tapi ia hanya tersenyum simpul dan menatapku dengan bengis.
Aku hanya bisa berpikir,
"Mengapa? Apa ini karena doaku? Apa aku memanjatkan doa yang salah?"

Lalu tiba-tiba ia berhenti dengan terengah-engah.
Ia menunjukkan kepuasannya,
seakan ia telah menuntaskan tugas mulia.
Aku hanya bisa menatap ruanganku yang telah ia hancurkan.
Yang ada di kepalaku saat itu adalah sosok seorang teman dan kubisikan, "Tolong..."

Dia pergi lagi dan meninggalkan luka dalam.
Luka dalam dan rasa jijik.
Ia berhasil.
Ia berhasil membuatku merasakan rasanya diperkosa.

23.9.15

Tanpa Judul

Ketika mereka ingin pergi, biarkan.
Biarkan mereka pergi.
Jangan sesekali coba untuk menahannya
Karena pada akhirnya kita akan berjuang sendirian.

Ketika mereka menginginkan lebih
biarkan mereka pergi mencari yang lebih
Jangan tawarkan lebih ketika kita tidak sanggup memenuhinya,
karena pada akhirnya kita yang akan merasa sesak.

Ketika mereka menyerah, pulanglah.
Walau gontai, pulanglah.
Tidak ada gunanya berdiri di tempat yang sama dan terdiam.
Mundur sedikit pun tidak menjadi masalah.

Ketika sudah terlalu lelah, berbaringlah.
Berbaringlah dan hirup sedalam-dalamnya,
biarkan udara itu mengalir dalam tubuh
dan menyapu bersih rasa bencimu.


9.6.15

I Was A DUFF



I was a DUFF. Designated Ugly Fat Friend.

Being in a group of popular people might be some achievements for someone - and for me at that time. Pretty girls, sassy and being 'respected' around the junior students, like we have special power over the others. I thought I was one of the popular until I watch a movie, DUFF.

This movie is telling about a status of someone in a group. In that group, there must be someone who is not so popular and unattractive. They are being used to be the informant for the boys who want to make a move on their popular friends. And.... I was a DUFF when I was in junior high school. Besides being an informant, I used to be their source of happiness for they made fun of me. They gave me nicknames and made fun of it. Only those who care enough would defend me and they were not my friends in the group.. 

I was ugly back then, I admit it. Sometimes I feel ashamed of how I looked. I deleted most of my junior high school pictures from my facebook. My skin was dark, my hair was totally frizzy (they used to call me 'sarang tawon'), I was so fat, and my style was....weird. It's a complete package to become a DUFF, no? :) 

There was slightly a difference in high school. Some boys still made fun of me, but the difference was my friends stood up for me or at least they made me feel safe after. So it's a +1 for high school. After high school, I had to pause my education for two years. That was the best time of my life before I went to college. I felt free from labels. I ain't nobody's DUFF. I was Audrey. I am Audrey. I felt motivated to change myself into something better. I went on a extreme diet program, I changed my style, and then I became the Audrey today. 

I lived in denial back then, but not anymore. Now I can thank those you bullied me in junior high and high school, cause they motivated me to improve myself. I also never can thank enough my friends in college and my professors who made me a stronger human being. They made me brave enough to be the Audrey. The weirdo, the dreamer and I'm proud of that. And if people still see me as a DUFF, well....I-DON'T-GIVE-A-SHIT. Good night, everyone. :)

"You're a weirdo, fine. Own it. Be the best weirdo you can be." (The DUFF, 2015)

4.6.15

Kasihan ya, makannya 'hanya' tempe...

Sepertinya sangat gampang untuk mengasihani orang lain. Ketika melihat seseorang tidak bekerja di perusahaan yang besar, atau perusahaan yang "biasa saja," kadang orang lebih mudah untuk mencetuskan kalimat, "kenapa enggak kerja di sana aja? Gajinya kan lebih besar, ada jaminan kesehatan juga. Pokoknya hidup kita terjamin, deh!" Kita belum sempat bertanya, "bahagia enggak kamu kerja di sana?" atau bertanya, "Kamu nyaman ya dengan pekerjaanmu?" karena kebanyakan orang mengukur kenyamanan dan kebahagiaan hidup dari materi yang dimiliki.

Perkenalkan. Nama saya Audrey Gabriella. Umur 26 tahun dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Saya seorang penerjemah lepas dan admin akun media sosial lepas juga. Penghasilan saya tidak tetap. Kesibukan saya yang pasti adalah belajar bahasa Perancis sampai saya mendapatkan diploma DELF B2 agar dapat melanjutkan sekolah S2 di Perancis pada tahun 2016. Apakah saya bahagia? Sejauh ini iya dan saya cukup bangga akan apa yang sedang saya lakukan. Kalaupun saya mengeluh sedikit soal tipisnya uang jajan, toh itu keluhan sesaat. Banyak cara saya yang bisa membuat saya bisa bahagia lagi, misalnya dengan memakan roti lapis Ovomaltine.

Tapi enggak semua orang melihat saya sebagai sosok yang bahagia. Menurut sebagian orang karena saya enggak sesibuk perempuan lain yang seusia saya, yang bekerja kantoran, maka saya enggak bekerja. Tidak bekerja, maka uang saya pas-pasan. Uang pas-pasan, maka saya enggak bisa makan enak atau belanja baju baru atau hunting lipstick baru. Kalau itu semua tidak terpenuhi, maka bisa dibilang saya enggak bahagia.

Gampang buat orang lain untuk mengasihani seseorang, maka mereka memberi nasehat agar orang tersebut mencoba terobosan baru agar hidupnya lebih baik. Lebih baik dalam standar siapa? Standar mereka atau orang tersebut? Bagaimana kalau sejauh ini bisa makan roti lapis isi Ovomaltine sudah cukup baik? Hal ini sama halnya seperti mengasihani orang yang tiap hari makannya nasi dengan tempe dan tahu. Bagi yang setiap hari makan daging, hal tersebut patut dikasihani. Tapi buat mereka? Mungkin makan nasi dengan tempe dan tahu sudah cukup. Bisa makan daging ya...jadi bonus.

13.3.15

Kapan menikah? Kapan? Kapan-kapan

"Kalau anak laki-laki sih enggak apa-apa menikahnya lama. Tapi kalau anak perempuan, mendingan cepet-cepet menikah, deh. Jangan sampai keenakan kerja terus lupa menikah, tau-taunya udah umur 40 tahun!"

Begitulah kira-kira kalimat yang dilontarkan oleh seorang tante di gereja saya. Namun bukan dia saja yang berpikir demikian, tapi memang banyak kok ibu-ibu lainnya yang sering berpendapat yang sama. Dan saya sebagai salah satu perempuan single di tengah-tengah mereka pun merasa....baiklah.



Menikah. Pernikahan. Satu hal yang banyak diimpikan banyak anak perempuan. Bahkan saya dari kecil sudah bisa membayangkan akan seperti apa pernikahan saya nanti. Garden party yang hanya dihadiri maksimal 150 orang, dengan live music, keluarga dan teman-teman membaur dan semalaman menikmati musik dan berdansa. Tipikal wedding scene di film-film romcom. Pokoknya saya juga bisa membayangkan gaun putih yang membalut tubuh saya nantinya seperti apa. Tapi seiring dengan bertambah dewasanya saya, pernikahan bukan lagi menjadi hal yang utama. Saya kadang suka takut, jangan-jangan saya cuma suka dengan the idea of wedding dan bukan the idea of marriage lagi?

Okay, balik lagi pernyataan si tante yang di atas. Saya yang lagi duduk di sana langsung bertanya, "memangnya harus menikah ya, tan?" karena di kepercayaan yang saya anut pun tidak mengharuskan kita untuk menikah. Dan menikah pun enggak selalu menjamin seseorang menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Lalu ia menjawab, "ya tapi coba deh nanti kamu rasain kalau sudah tua dan enggak berkeluarga, pasti kesepian!" Saya sih cuma bisa membelalakan mata karena kaget dengan 'ramalan' si tante. Pernyataannya seakan-akan bilang kalau enggak menikah pasti kita akan merasa kesepian di hari tua. The funny thing is the way people judge the singles as lonely people. Kenapa orang-orang langsung beranggapan kalau orang yang enggak memiliki pasangan hidup dan keturunan hingga tua adalah orang-orang yang kesepian? Saya rasa mereka bukanlah anak ABG lagi, yang langsung sedih, galau, dan drama ketika enggak punya pacar.

Ada beberapa hal yang mustinya (enggak harus juga,sih, kesannya maksa) bisa dimengerti oleh masyarakat luas kalau memang ada orang yang memilih untuk enggak menikah hingga akhir hidupnya. Bukan karena enggak laku, tapi mereka memang memilih jalan hidup demikian. Mungkin mereka puas menjalani hidup dengan bebas tanpa harus menanggung orang lain, menikmati hasil kerja mereka sendiri, atau malas terlibat drama rumah tangga. Beberapa dari mereka mungkin trauma atau sekedar merayakan kebebasannya. Dan menuduh mereka kesepian karena 'sendiri' di masa tua mereka adalah contoh kesombongan, bukan? Seakan-akan mereka yang menikah adalah orang paling bahagia dan yang lain tidak bahagia.

Kalau saya sendiri sih sudah kebal dengan komentar teman, keluarga, dan kerabat lainnya yang selalu menanyakan, "Audrey, kapan menikah?" Rasanya biasa aja dan enggak bikin saya jadi harus menikah secepatnya. Karena saya yakin menikah bukanlah soal target umur atau ikut-ikutan teman atau bahkan dorongan (baca: paksaan) dari keluarga. Kalau saya belum mau menikah, memangnya kenapa? Puji Tuhan orang tua saya bukan tipe yang memohon kepada saya untuk segera menikah. Mereka hanya menjawab, "Sekarang kamu ingin berkeluarga atau enggak? Kalau iya, ya musti dipertimbangkan umur kamu menikah karena berhubungan dengan kesehatan. Kalau enggak, ya enggak usah pusing."

Geez. I love my parents for sure.

10.3.15

Kenapa sekolah lagi, sih?

Ketika pertama kali saya bikin blog ini, tujuannya cuma satu yaitu punya online diary. Saya punya buku diary juga, tapi karena waktu itu lagi nge-trend bikin blog, saya akhirnya bikin juga. Enggak tahu kenapa, saya ini orangnya gampang banget terpengaruh sama orang lain, sejak kecil. Saya ingat ibu saya pernah bilang kalau dia lebih suka dengan teman-teman saya waktu SMA daripada waktu SMP. Ketika saya tanya alasannya, dia bilang kalau teman-teman saya di SMA sangat membantu saya punya prestasi akademis yang baik. Namun kalau diingat lagi, prestasi akademis saya selalu pas-pasan, dari SD sampai waktu SMA. Tapi satu yang saya ingat, kalau saya menikmati banget kegiatan belajar. Going to school gave me happiness. Nilai ujian saya jarang di atas 7, kecuali untuk bahasa Inggris dan agama. Saya masuk jurusan IPA, tapi nilai Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika saya selalu, ya....begitu. Beruntung banget punya sahabat-sahabat yang bisa dibilang ambisius dalam belajar. Jadi ketika saya sudah mulai capek dan mau menyerah, mereka selalu ada buat menyemangati saya.

Oh iya, beberapa hari yang lalu saya ketemu dengan sahabat masa kecil saya, yang dulu juga tetangga sebelah rumah, di tempat saya nge-gym. Kaget banget rasanya bisa ketemu lagi karena kami sudah lama banget enggak ketemu. Mungkin sejak 2008 kali ya? Walaupun cuma ketemu sebentar (karena kelas RPM-nya udah mau mulai), tapi kami sempat ngobrol. Hal pertama yang ia tanyakan adalah, "lo sekarang di mana sih? kerja di mana?" Saya mengulum senyum sejenak dan menjawab, "kan gue baru aja resign Januari lalu. Gue mau lanjut sekolah lagi, Cole..." Saat itu dia cuma menatap saya kaget dan sedikit tertawa, "sekolah lagi? lo tuh kenapa sekolah melulu, sih? Udah tua, dreeeey...Demen banget deh sekolah, gue heran!"

Setelah selesai olahraga, saya lalu berpikir di jalan pulang. Kenapa ya saya sampai suka banget sama yang namanya sekolah? Untuk sebagian orang sekolah itu paling mentok di S1 aja, enggak perlu tinggi-tinggi, apalagi buat seorang perempuan. Saya sih cuma bisa tersenyum kalau ada yang ngomong seperti itu ke saya. Tapi kalau dilihat lagi ke belakang, sebagian besar waktu saya dulu dihabiskan untuk belajar. Contohnya waktu saya masih SD, saya ingat sepulang sekolah saya harus les matematika dan bahasa Inggris. Hal tersebut dimulai dari kelas 3 SD dan berlangsung sampai kelas 1 SMA. Lelah? Iya, lelah, tapi saya senang. Ada sih masa-masa bosan dan jenuh dengan hal-hal tersebut, tapi ujung-ujungnya saya balik lagi buat mengerjakan. Sampai kata sahabat saya tadi, "dulu ya, kalau gue mau ngajak lo main sore-sore, lo pasti enggak ada. pasti dibilangnya 'Audrey-nya lagi les...' Hahaha." And it's true. Kalau hari biasa saya jarang di rumah karena les. Tapi apakah saya jadi pintar? Kayaknya enggak juga, nilai saya biasa-biasa aja sampai lulus SMA.

Di kuliah pun begitu. Saat lulus IPK saya memang 3 koma, tapi entah kenapa saya enggak puas karena teman-teman saya banyak yang di atas itu. Tulisan saya jelek banget waktu kuliah. Bahkan kata salah satu dosen saya tulisan saya macam tulisan anak SMA yang lagi curhat dan dijadikan novel teen-lit kekinian.  Lalu kalau saya enggak terlalu pintar, buat apa saya sekolah lagi dan berniat mengambil S2? I don't know. Maybe I just like the idea of studying. Maybe I just love knowledge. Entah pendidikan itu berguna buat karir saya atau enggak, saya belum tahu. Tapi yang pasti, saya sudah janji sama diri sendiri kalau saya harus sekolah lagi.

Cheers!

27.2.15

2015. Yuhuu!

Where should I start?

Setelah lama banget enggak menulis di blog ini, akhirnya saya memutuskan buat nulis lagi. Sebenarnya bingung mau mulai nulis tentang apa karena banyak banget yang mau saya ceritain. Wajarlah ya, terakhir nulis itu bulan September 2014. Yes, it's lame. Hmmm....okay, I know!

1. I quit my job
True. I quit my job as a reporter last month. Banyak yang nanya saya pindah kerja ke mana dan masih kerja di media apa enggak. Kenyataannya adalah...saya belum bekerja lagi untuk waktu yang cukup lama. Jadi saya ngapain dong? Nanti saya ceritain. Berhentinya saya dari kerjaan saya bukan karena saya sudah enggak betah lagi. Saya suka banget sama kerjaan saya dan benar-benar nyaman bekerja di lingkungan yang super santai. Tapi ada satu titik di mana saya merasa terjebak dalam zona nyaman itu sendiri. Saya orang yang paling takut dengan zona nyaman, saya takut terlena. Saya pun semakin sadar kalau zona nyaman saya ini justru bikin saya semakin jauh dengan rencana saya berikutnya. Maka itu saya beranikan diri untuk keluar. Rasanya sedih banget kehilangan 'rumah dan keluarga kedua', but the show must go on.

2. I'm going to study something new
This is my another plan. I'm going to school again. Saya mau sekolah S2. Akhirnya saya memberanikan diri buat sekolah lagi, walaupun ada aja yang berkomentar "ngapain sekolah lagi sih? Ujung-ujungnya di dapur juga...". Hih. Tapi biarlah, karena ini janji saya ke diri saya sendiri untuk sekolah S2. Ada dua pilihan jurusan yang mau saya ambil nanti: Gender Studies atau Journalism. Dua-duanya menarik buat saya dan saya masih mau menimang-nimang mana yang akan saya ambil nanti. And I'm going to take scholarship for that. I'm pretty ambitious about this one. I even gonna take the French class for 6 months. Wish me luck, okay? :)

Sejauh ini itu beberapa hal yang paling berubah di tahun 2015. Well, what's your plan for 2015 so far? Please do share in the comment box. Bless ya!

Love,
Audrey Gabriella