31.5.12

Pikiran sehari..

Ada banyak hal yang berkecamuk di pikiran saya hari ini. Dimulai dari bagaimana tidak berminatnya saya untuk tersenyum selama seharian sampai kuliah yang membuat saya banyak berpikir. Bukan berpikir tentang mata kuliah tersebut, namun bagaimana sang dosen banyak menyampaikan hal yang "menampar" benak saya.

Saya bukan orang yang seharian akan menekuk otot wajah menjadi cemberut, tapi entah mengapa rasanya hari ini benar-benar tidak ada niat untuk tersenyum tulus. Semua terasa datar, bahkan cenderung menyebalkan. Hanya beberapa orang saja yang berhasil membuat saya nyaman untuk tersenyum tulus. Sepertinya saya mulai sadar apa yang membuat saya seperti ini. Saya jenuh. Kejenuhan akan kegiatan yang itu-itu saja, bertemu dengan orang yang itu-itu saja, berada di tempat yang itu-itu saja. Semuanya menumpuk dan puncaknya hari ini. Lalu saya masuk ke kelas yang berdosen ajaib. Saya selalu mendapatkan hal yang baru setiap mengikuti kelas beliau. Terkadang omongan beliau suka ngalor-ngidul gak tau tujuannya apa. Tapi memang semua gak harus ada tujuannya kan? Mmmm, namun untuk kelas yang hari ini ada sesuatu yang benar-benar membekas di saya. Banyak hal yang beliau katakan dan bikin saya TERBANGUN bahwa saya sedang hidup di dunia nyata, bukan di dunia dongeng.

Hal pertama yang diajarkan adalah kita harus lebih toleran akan ketidak-tahuan dan kekurangan. Sejak kecil saya selalu dituntut untuk memberikan hasil yang terbaik. Bukan berarti saya harus selalu dapat nilai 100 di setiap mata pelajaran, tapi orang tua saya memiliki prinsip, "Kalau teman kamu bisa dapet 100, kenapa kamu tidak?". Boleh jujur? Saya sebal sekali kalau sudah dibanding-bandingkan dengan orang lain, KARENA SAYA MEMANG BERBEDA. Dan saya kan memang bukan teman saya yang pintar itu. Tetapi saya tidak pernah menyalahkan orang tua saya yang pernah memberikan tekanan tersebut, karena kalau tidak seperti itu mungkin saya tidak akan menjadi orang yang memiliki banyak mimpi seperti sekarang. Di saat teman-teman SMA saya belum tahu apa cita-cita mereka, saya sudah bisa menjawab bahwa saya akan menjadi Menteri Sosial atau Pekerja Seni. Kembali lagi ke masalah toleransi terhadap ketidak-tahuan, saya diajarkan oleh pernyataan tersebut bahwa saya harus lebih menerima diri saya yang punya banyak "kecacatan", DAN JUGA ORANG LAIN kalau-kalau saja mereka tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Saya harus memaklumi kalau orang lain memiliki pandangan yang berbeda dengan saya tentang apa saja. Biarkan mereka berpikir dengan cara mereka, biarkan saya berpikir dengan cara saya. Selesai.

Hal kedua adalah saya harus segera keluar dari zona aman saya. Saya bukan anak berumur 18 tahun lagi yang masih bebas bermain dan tidak memiliki tanggungan. Saya si umur 23 tahun yang seharusnya sudah lulus, bekerja, dan tidak bergantung sepenuhnya terhadap orang tua lagi. Saya harus keluar dari zona aman saya, yang semakin lama bisa membuat saya tidak bisa melihat ke luar jendela dan terisolasi dari kebenaran. Bisa-bisa saya berpikir bahwa saya benar, padahal saya tidak tahu apa-apa. Zona aman, kamu berbahaya dan biarkan saya berpetualang.

Hal terakhir yang saya dapat adalah "Kamu itu bukan pusat alam semesta". Jangan pernah berpikir bahwa kita itu satu-satunya orang yang hidup di dunia, yang punya kepentingan, yang paling sibuk, yang paling menderita, yang paling paling paling! Kita itu cuma setitik kecil dibanding alam semesta. Sama halnya dengan jalan raya yang dipenuhi berbagai jenis kendaran, semuanya punya kepentingan masing-masing. Cuma yang egois yang mengklakson kendaraan depannya padahal jelas-jelas jalan itu sedang macet.

"You don't have to start well. You just need to be better" - Ari J. Adipurwawidjana

29.5.12

ketika emosi mencapai titik ter...

Hari ini saya mau cuhat lagi ah. Setelah cerita tentang si Bapak Bacot saya belum cerita apa-apa lagi kan ya? Ha ha. Saya mau cerita tentang bagaimana emosi saya sedang dipermainkan hari ini. Maklum, lagi dapet jatah wajib bulanan sebagai perempuan, emosi sehari ini berasa terombang ambing. Sedari pagi gak ada hal spesial yang bikin saya senang berlebihan atau kesal berlebihan. Semuanya terasa datar saja. Oh, hampir saja lupa, tadi pagi saya mengantarkan teman saya, si Richie Amabela ke AMC karena dia harus operasi kuku kakinya. Sehabis dari rumah sakit saya langsung berangkat ke kampus. Semuanya baik-baik saja, sampai saatnya saya dan beberapa teman yang sedang ditraktir makan sama dosen mendapat kabar buruk tentang acara seminar yang telah lewat. Akhirnya saya harus balik lagi ke kampus, jam 6 sore.

Setelah sampai di kampus, dengan kelelahan, saya dapet kabar tentang adanya masalah dengan baligo acara seminar kami. Jadi ceritanya waktu kami mau pasang baligo kami sudah sepakat untuk beli bambu dari tukang ojek yang notabene berkuasa atas pemasangan baligo di daerah itu. Harga bambunya sih tidak terlalu mahal, hanya 30 ribu, tapi yang namanya sudah masuk kepanitiaan, uang 500 perak saja pasti berharga. Intinya, kami sudah membeli bambunya, dan bambu itu milik kami. Nah, yang jadi permasalahan adalah malam ini saya dapat kabar kalau si tukang ojek ini mengakunya tidak pernah menjual, namun hanya disewakan. Jadi ketika ada orang yang mau memasang spanduk di bambu tersebut, ya bukan bayar ke kami tapi ke si tukang ojek. Akhirnya hal tersebut memancing emosi saya, dan karena saya orangnya kalau kesal selalu ditahan, akhirnya emosi itu berubah jadi tangis. Air mata pun buyar, meluncur dengan enaknya dari mata.

Saya kesal karena harus berdebat dan merasa ditipu oleh bapak-bapak yang seenaknya menetapkan harga ini-itu, dan seharusnya kami sebagai mahasiswa unpad tidak perlu dikenakan biaya lagi untuk hal-hal sepele seperti ini. Tidak adil. Kecewa, kesal, sedih. Kenapa kalian harus berkolaborasi di waktu yang tidak tepat? Sebal.

13.5.12

Bapak Bacot

Selamat malam dan malam ini saya ingin sekedar bercerita. Entah cerita ini penting atau tidak, tapi buat saya ini sesuatu yang harus saya tuangkan dalam tulisan agar saya selalu ingat akan kejadian hari ini. Ceritanya lucu atau tidak, yang pasti kejadian hari ini random sekali buat saya.

Jadi ceritanya begini. Hari ini, saya dan dua teman kostan saya, secara dadakan jalan-jalan buat nyari kostan di daeran Caringin, Jatinangor. Kostan yang kami cari itu ya susah-susah gampang, karena kami maunya kostan yang bisa disewa per bulan. Setelah menyambahi beberapa kostan, sampailah kami di satu kostan yang menarik perhatian kami. Kalimat pertama yang keluar dari mulut kami adalah, "Eh, kayaknya kece nih kostan.." karena memang kostan itu terlihat rapi dan bersih dari luar. Setelah mengetuk beberapa kali, keluarlah si empunya kostan yang ternyata seorang bapak-bapak. Kami dipersilakan masuk ke ruang tamu dengan alasan "kita sharing dulu sebelum melihat-lihat ke dalam". Kami berpikir mungkin beliau akan menjelaskan peraturan, harga, dan tetek bengeknya. Ternyata kami salah besar! Selain menjelaskan ini dan itu, beliau berbicara panjaaaaaaaang lebar tentang kostan itu, mulai dari sejarahnya sampai alasan kenapa tidak boleh bawa kompor (yang katanya takut terjadi kebakaran).

Awalnya kami biasa saja menanggapi segala ocehannya sampai saat dia mulai MENCOLEK LENGAN SAYA. Kebetulan saya duduknya bersebelahan dengan si bapak. Pertama-tama saya anggap beliau tidak sengaja atau mencoba ramah, tapi kejadian itu tidak hanya sekali. Selain mencolek lengan, beliau juga menepuk pelan pundak. Saya, orang yang susah berhubungan akrab dengan orang yang baru dikenal, kaget. Sangat kaget sampai merasa jijik. Satu lagi yang saya bingungkan dari si bapak, kenapa dia tidak capek berbicara dan tidak sadar kalau saya dan teman-teman sudah bosan mendengarkan segala ocehannya.

Lucu adalah ketika dia tertawa untuk hal yang tidak lucu dan bagaimana kami (saya dan teman-teman) saling bertatapan dan mengirim "kode" tanda bosan. Puncaknya, saya keluar dari ruang tamu tersebut dengan berpura-pura menerima telepon, padahal saya tidak membawa telepon genggam. Agak konyol, tapi memang saya sudah tidak tahan dengan basa-basi yang diumbar. Yang lebih parah adalah ketika dia sudah berlama-lama ternyata kostan yang ditawarkan TIDAK sebaik yang diceritakan. Saya jadi merasa telah membuang waktu saya selama 30 menit lebih.

Setelah itu, akhirnya kami meninggalkan tempat itu dengan terbahak karena merasa baru saja mengalami hal yang sangat aneh dan menyebalkan. Menyebalkan, tapi bikin tertawa. Dan dengan penuh hormat kami berikan julukan kehormatan untuk si bapak tersebut dengan nama: BAPAK BACOT.

SEKIAN.

eh, tunggu! ngomong-ngomong setelah menelusuri beberapa kostan, saya sudah menemukan kostan yang sesuai keinginan. Saya jadi ingin cepat-cepat pindah kostan dan punya suasana kostan yang baru.. :)

11.5.12

Senyum untuk siapa?

"Kenapa sih kamu gak mencoba untuk jadi ini? Kamu bagus tau di bidang itu.."

"Kamu di bagian ini aja ya. kamu kan orangnya rame, pasti bisa.."

"Kayaknya kamu bagus deh kalo arahnya ke sana, pas sama kepribadian kamu.."

"Mendingan kamu gini aja. Eh, gitu aja deh, lebih bagus!"


Banyak sekali orang yang berlaku seperti ini terhadap saya. Kadang saya cuma bisa menanggapinya dengan senyum, tapi tidak jarang saya malah mengikuti apa kata mereka. Seringnya memang keikut dan ujung-ujungnya saya menyesal. Haaah, penyesalan memang ya, selalu datangnya terlambat. Sekali-kali datang tepat waktu kek!

Saya bukan orang yang selalu menurut, tapi saya juga bukan pemberontak. Saya cenderung....ingin lihat orang lain senang. Terkadang saya takut akan tanggapan orang lain, tapi saya lebih sering tidak peduli. Namun akhir-akhir ini, melihat orang tersenyum karena saya membuat saya berpuas diri. Jadi, boleh mungkin ya bikin orang tersenyum walau saya tidak jadi tersenyum? Sama halnya dengan mengirim pesan singkat dengan emoticon ":)" di akhir kalimat, walau sebenarnya pada saat mengetik pesan tersebut, saya tidak tersenyum..

Munafik kah?