28.10.15

Patah Hati Bukan Perkara Sederhana

Seorang teman pernah berkata kepada saya, "Jika kamu merasa sedih, jangan dipendam saja. Tumpahkan apa yang kamu rasakan. Kamu bisa apa? Menulis? Tuliskan perasaanmu." Maka sekarang saya di sini akan menulis apa yang saya rasakan dan saya harap kamu tidak bosan.

Saya akui patah hati bukanlah perkara mudah. Tidak mudah menerima kenyataan bahwa kisah cinta berakhir tidak seperti yang kita bayangkan. Tidak mudah juga untuk tidak mengingat-ingat hal indah yang pernah terjadi di masa lalu. Menyibukkan diri mungkin bisa membuat kita lupa sejenak, tapi ketika kegiatan itu terhenti, semua kembali terkenang. Setidaknya itu berlaku buat saya.

Berlaku seakan semua baik-baik saja juga bukan merupakan solusi. Ada satu titik di mana kita lelah berpura-pura dan runtuhlah semua benteng semu yang telah kita buat selama ini. Bagaikan membangun menara dengan fondasi yang asal lalu disentuh sedikit, dia pun oleng dan jatuh. Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa hati kita masih bobrok.

Lalu, percayakah kamu, kalau musik bisa membuat menaramu yang tadinya terlihat baik-baik saja, jadi runtuh seketika? Semudah itu sebuah lagu membawa kita ke masa di mana kita jatuh cinta dan menyadari kalau sekarang lagu itu justru jadi pembawa lara. Yang ingin kita lakukan adalah mematikan lagu tersebut tapi tidak sanggup karena...ternyata kita terlalu mencintai lagu tersebut.

Ada yang pernah bilang bahwa yang kita rindukan adalah kenangannya, bukan orangnya. Tapi bagaimana kalau yang kita rindukan adalah memang kehadiran orang tersebut di samping kita? Mungkin bukan sebagai kekasih, tapi cukup untuk mendampingi duduk sore sambil menikmati senja tanpa kata. Bisakah?

Bohong ketika kita bilang kalau kita baik-baik saja, karena sebenarnya tidak. Mungkin nanti akan baik-baik saja, tapi entah kapan.

Selamat hari Rabu.

22.10.15

Gara-gara Kopi

Kekecewaan itu bisa dimulai dari kamu sudah bersemangat, karena hari ini akan memesan kopi dengan varian favoritmu (di kedai kopi yang sebenarnya enggak terlalu kamu sukai, tapi karena mereka menawarkan promo 50% setiap bulan, jadi kamu menanggalkan seluruh egomu dan belanja di sana), tetapi pesanan yang datang itu tidak sesuai dengan keinginan kamu. Kamu memesan kopi dingin, tetapi yang disajikan adalah kopi panas. Kamu sudah mengharapkan kopi itu bisa menyejukkan dahagamu di paginya Jakarta yang sangat terik, tapi sang barista memberikan kopi yang bisa membuat kamu semakin berkeringat. Ia meminta maaf karena kesalahannya dan menawarkan untuk membuat kopi yang baru, tetapi karena kamu sedang diburu waktu, jadi kamu menyarankan, "Sudah, mbak, ditambahkan es batu aja." Lalu apa yang kamu dapat sekarang? Kopi anyep. Panas tidak, namun dingin pun tidak mendekati. Enak? Tentu saja jauh dari harapan.


Kamu menimang-nimang langkah berikutnya yang akan kamu ambil: kamu akan kembali ke si barista dan meminta untuk membuatkan kopi yang baru....atau melangkah pergi dengan membawa termosmu yang berisikan kopi anyep tadi. Kalau kamu kembali kepada sang barista, waktumu akan banyak terbuang, menunggu ia membuatkan kopi yang baru, sedangkan kopi yang nantinya ia sajikan belum tentu lebih enak dari yang kamu terima sekarang. Pilihan yang kedua, kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan berjalan keluar dari kedai kopi tersebut, menerima kenyataan kalau kopimu anyep, tapi setelah beberapa teguk, rasanya tidak seburuk itu juga. Tidak menyejukkan seperti yang kamu harapkan, tapi tidak cukup panas juga untuk membuat keringatmu menetes.


Mungkin untuk menghindari kekecewaan di masa depan, dari awal kamu harus lebih jelas mengatakan ke sang barista seperti apa kopi yang kamu mau, dingin atau panas. Mungkin kamu butuh tambahan espresso atau tambahan gula merah, katakan padanya. Sehingga ia tidak salah dengar atau berasumsi apa maumu dan berakhir dengan memberikan kopi yang salah, lalu menyebabkan kekecewaan. Pun lain kali, jangan cepat tergiur dengan diskon, bisa membuat buta hati nurani juga sepertinya.

Selamat hari Kamis, kawan!

8.10.15

Cinta Bersemi Kembali

Kamu tahu rasanya cinta yang bersemi kembali?

Rasanya seperti ketika kamu berada di tengah musim kemarau yang panjang, lalu tiba-tiba hujan turun. Ia tidak turun dalam deras, tapi perlahan jatuh dalam gerimis. Pertama ia jatuh di atas ubun-ubunmu, lalu perlahan membasahi rambut yang hitam legam. Butiran-butiran berikutnya mulai jatuh ke atas kulitmu, mulai dari wajah, lalu turun ke leher, melewati tulang selangkamu, dan akhirnya menyambahi dadamu.

Ia tidak tergesa-gesa dan memaksa, karena ia ingin kamu menikmati setiap tetesannya. Walaupun mungkin ada rasa kesal karena penampilanmu bisa menjadi kuyu karenanya, tapi kamu tidak bisa memungkiri kalau kau rindu padanya. Belum lagi sensasi petrikor yang ia buat setelah ia merebahkan diri di tanah gersang itu. Ah, nikmat. Kau bisa menghabiskan waktu yang lama hanya untuk berdiam diri mengamati ia membuat tanah itu bisa bernapas lagi. Mungkin bau kopi di pagi hari bisa kalah nikmat bila dibandingkan dengan bau hujan ini.

Genangan-genangan air yang ia buat juga cukup menyenangkan untuk kamu ajak bermain. Mungkin akan membuat kakimu sedikit kotor, tapi kotor itu bisa terlupakan ketika basah telah menimbulkan rasa nyaman. Membayangkannya saja bisa membuatmu berdesah rindu. Yang sekarang bisa kamu harapkan adalah agar sang hujan bukan hanya datang untuk sejenak, tapi untuk beberapa bulan ke depan. Tapi jikalau itu memungkinkan, mungkin sang hujan bisa datang sesekali. Sekedar untuk menyejukkan, sekedar untuk melepas rindu.

3.10.15

Jakarta

Beberapa orang mengutuk ramainya Jakarta,
tapi beberapa orang mengagumi perkembangannya.
Beberapa orang ingin kabur dari Jakarta,
tapi beberapa ingin tinggal dan berjuang.
Ada yang berubah ketika bergaul dengan Jakarta,
tapi ada juga yang menolak bentukkannya.

Banyak yang bilang kalau Jakarta itu keras,
dan sayangnya itu memang benar.
Beberapa bilang itu berlebihan,
tapi, oh, cobalah untuk tinggal sejenak, kawan.
Banyak kejutan yang ditawarkan oleh kota serba ada ini.
Kemewahan, gerakan super cepat, keangkuhan.
Keramaian, asap knalpot, tapi ada juga tawa.


Sebagian cinta dengan Jakarta, sebagian muak, sebagian biasa saja.
Lalu, kamu termasuk yang mana?