18.4.12

Telur Asin

Makan siang yang saya nikmati siang ini hanya sedikit nasi ditemani satu telur asin dan abon sapi. Sederhana bukan? Tapi ketika saya menikmatinya di kamar kostan saya yang hening, yang hanya ditemani suara TV, makanan itu menjadi nikmat sekali. Pastinya juga, makan siang saya akan dianggap mewah oleh orang-orang yang belum bisa menikmati makanan seperti saya. Yang masih harus berada di luar sana, bekerja demi mengenyangkan perut mereka atau keluarga mereka juga. Terima kasih, Tuhan.

Kamu tahu apa yang saya perhatikan dari menu makan siang saya? Telur asinnya. Mungkin agak aneh kenapa telur asinnya menjadi fokus perhatian saya. Saya sudah menyimpan telur asin itu hampir 2 minggu di kulkas. Ketika tadi saya membelahnya menjadi dua, yang saya dapat adalah tekstur kuning telurnya tidak seperti biasanya. Teksturnya berubah, dari yang seharusnya utuh menjadi lebih lembek dan berminyak. Awalnya saya khawatir kalau-kalau telur asinnya sudah tidak bagus lagi, tapi ternyata rasanya tetap sama seperti seharusnya. Bahkan lebih enak! Ha ha ha.

Lalu saya jadi berpikir satu hal: ternyata walau teksturnya berbeda, rasanya tetap sama ya? Lucu. Jadi menyenangkan.

13.4.12

Sang Penari

source: pinterest.com
Saya belum bisa menari lagi setelah kehilangan dentingan musik darimu. Dentingan musikmu paling tepat untuk mengiringi segala jenis tarianku. Tubuhku dapat bergerak tanpa malu, tanpa ragu, tanpa takut bila diiringi oleh alunan nada darimu. Alunan nadamu membuatku tersenyum dengan senyum yang terbaik. Kadang alunanmu membuatku sedih, namun tak terhanyut. Justru membangunkan aku dari segala mimpi dan menyadarkanku agar bangun untuk kesekian kali dari kejatuhan. Musikmu yang terbaik, dapat membuatku menari seakan tidak ada yang melihat, tidak ada yang menonton tarianku. Alunan musikmu lembut, aku terbuai setiap aku mendengarnya, dan sekejap saja kakiku sudah menyambahi lantai untuk menciptakan gerakan baru.

Banyak pemusik lain yang mencoba menggantikan alunan musikmu. Mereka menawarkan musik yang beragam, yang mereka bilang akan menjadikan aku penari terbaik. Menjadikan aku penari yang lebih baik dari yang dulu. Namun ketika menjalani latihan, mereka berbohong. Alunan musiknya tidak sebaik kamu. Kakiku tidak dapat menyatu bergerak dengan lantai, tidak dapat bergerak sebebas dan senikmat biasanya. Mungkinkah aku yang terlalu bodoh untuk mengharapkan kembalinya kamu, hai pemusik? Aku merindukan alunan musikmu. Aku merindukan dentingan nada-nada darimu. Aku rindu menari dengan bebas, menari dari hati.

Kalau sekarang aku terlihat menari dengan ceria di antara dedaunan bersama roh-roh hutan lainnya, bukan berarti itu tarianku. Itu tarian yang aku ciptakan untuk penonton, bukan untuk diriku sendiri. Bukan pula karena aku ingin menari. Mereka menuntutku, menuntutku menari dengan baik. Bagaimana cara aku dapat menari dengan baik sedangkan pemusikku saja tidak mau memainkan alunan nadanya untukku? Kalian tahu bagaimana sulitnya menari untuk orang lain? Betapa tersiksanya menari karena paksaan? Seakan ingin berkata, "Potong saja kakiku. Lebih baik aku tidak menari lagi."

Hai pemusik, aku minta ketika kamu berencana untuk memainkan musik lagi untukku, jangan ragu. Aku rindu menari bersamamu. Menguasai panggung dengan keharmonisan antara simfoni dengan gesekan kaki di lantai kayu. Merasa superior ketika dapat menciptakan sebuah tarian baru. Sehingga pada akhirnya kita dapat menciptakan legenda baru yang tidak dimiliki orang lain. Terima kasih, pemusikku.

2.4.12

surabi cibiru

Malam ini saya diculik oleh teman saya, M Dika Septapa, untuk wisata kuliner malam-malam. Dan hasilnya Surabi.. :)

Antara hitam dan putih..

Apa sih yang pertama kali kamu pikirkan kalau mendengar kata 'HITAM'? Gelap? Mistis? Gothic? atau apa? Lalu apa yang ada di imajinasi kamu ketika saya menyebutkan kata 'PUTIH'? Terang? Suci? Bersih? Pikiran dan imajinasi setiap orang berbeda-beda. Ada yang mengatakan hitam itu melambangkan sesuatu yang jahat, buruk, tidak sebersih putih yang melambangkan kesucian, ketenangan, kebaikan, dan sebagainya. Lalu bagaimana kalau saya mengatakan bahwa hitam tidak selalu buruk dan putih tidak selamanya baik?

Kalau orang berkata 'Hitam', yang pertama kali saya bayangkan itu gaun hitam polos untuk pergi ke pesta, lengkap dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam juga. Riasan make up saya juga ada sentuhan warna hitam di kelopak mata. Tas jinjing berwarna hitam mengilat sudah pasti ada di tangan. Lalu apa yang saya lihat? Sesuatu yang indah, serba hitam memang, namun glamor. Lalu apa lagi yang saya bayangkan? Hmmm..saya bisa melihat langit yang gelap namun penuh dengan taburan bintang. Langit yang gelap tidak selamanya jadi terasa kelam.

Si putih yang selama ini diberi label 'baik', juga tidak selamanya baik. Ketika mendengar kata putih, yang saya bayangkan justru sendal jepit saya yang berwarna putih dulu, namun sekarang sudah berubah warna jadi agak kecokelatan karena kotor. Putih itu harus dijaga benar-benar agar warnanya tidak berubah. Putih buat saya seperti rapuh. Jadi ingat dulu waktu kecil kalau sedang pakai baju berwarna putih, mamah pasti memakaikan serbet atau banyak tissue di sekeliling leher saya ketika saya makan es krim. Takut es krimnya tumpah dan mengenai baju saya, katanya.

Ternyata, si hitam tidak selalu buruk juga kalau kita memandangnya dengan berbeda. Si putih pun tidak bagus-bagus amat kalau dipikir dengan seksama. Lalu sesungguhnya mereka bagaimana? Baik atau buruk? Bisa baik. Bisa juga buruk. Bisa juga tidak keduanya. Kalau kamu, maunya bagaimana? :)

Eh, ngomong-ngomong, saya punya rak baru di kamar. Ingin pamer sejenak. Ha ha. Rencananya akan membaca sebagian besar yang ada di atas rak. Kita liat saja nanti :D



*gabriella