13.3.15

Kapan menikah? Kapan? Kapan-kapan

"Kalau anak laki-laki sih enggak apa-apa menikahnya lama. Tapi kalau anak perempuan, mendingan cepet-cepet menikah, deh. Jangan sampai keenakan kerja terus lupa menikah, tau-taunya udah umur 40 tahun!"

Begitulah kira-kira kalimat yang dilontarkan oleh seorang tante di gereja saya. Namun bukan dia saja yang berpikir demikian, tapi memang banyak kok ibu-ibu lainnya yang sering berpendapat yang sama. Dan saya sebagai salah satu perempuan single di tengah-tengah mereka pun merasa....baiklah.



Menikah. Pernikahan. Satu hal yang banyak diimpikan banyak anak perempuan. Bahkan saya dari kecil sudah bisa membayangkan akan seperti apa pernikahan saya nanti. Garden party yang hanya dihadiri maksimal 150 orang, dengan live music, keluarga dan teman-teman membaur dan semalaman menikmati musik dan berdansa. Tipikal wedding scene di film-film romcom. Pokoknya saya juga bisa membayangkan gaun putih yang membalut tubuh saya nantinya seperti apa. Tapi seiring dengan bertambah dewasanya saya, pernikahan bukan lagi menjadi hal yang utama. Saya kadang suka takut, jangan-jangan saya cuma suka dengan the idea of wedding dan bukan the idea of marriage lagi?

Okay, balik lagi pernyataan si tante yang di atas. Saya yang lagi duduk di sana langsung bertanya, "memangnya harus menikah ya, tan?" karena di kepercayaan yang saya anut pun tidak mengharuskan kita untuk menikah. Dan menikah pun enggak selalu menjamin seseorang menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Lalu ia menjawab, "ya tapi coba deh nanti kamu rasain kalau sudah tua dan enggak berkeluarga, pasti kesepian!" Saya sih cuma bisa membelalakan mata karena kaget dengan 'ramalan' si tante. Pernyataannya seakan-akan bilang kalau enggak menikah pasti kita akan merasa kesepian di hari tua. The funny thing is the way people judge the singles as lonely people. Kenapa orang-orang langsung beranggapan kalau orang yang enggak memiliki pasangan hidup dan keturunan hingga tua adalah orang-orang yang kesepian? Saya rasa mereka bukanlah anak ABG lagi, yang langsung sedih, galau, dan drama ketika enggak punya pacar.

Ada beberapa hal yang mustinya (enggak harus juga,sih, kesannya maksa) bisa dimengerti oleh masyarakat luas kalau memang ada orang yang memilih untuk enggak menikah hingga akhir hidupnya. Bukan karena enggak laku, tapi mereka memang memilih jalan hidup demikian. Mungkin mereka puas menjalani hidup dengan bebas tanpa harus menanggung orang lain, menikmati hasil kerja mereka sendiri, atau malas terlibat drama rumah tangga. Beberapa dari mereka mungkin trauma atau sekedar merayakan kebebasannya. Dan menuduh mereka kesepian karena 'sendiri' di masa tua mereka adalah contoh kesombongan, bukan? Seakan-akan mereka yang menikah adalah orang paling bahagia dan yang lain tidak bahagia.

Kalau saya sendiri sih sudah kebal dengan komentar teman, keluarga, dan kerabat lainnya yang selalu menanyakan, "Audrey, kapan menikah?" Rasanya biasa aja dan enggak bikin saya jadi harus menikah secepatnya. Karena saya yakin menikah bukanlah soal target umur atau ikut-ikutan teman atau bahkan dorongan (baca: paksaan) dari keluarga. Kalau saya belum mau menikah, memangnya kenapa? Puji Tuhan orang tua saya bukan tipe yang memohon kepada saya untuk segera menikah. Mereka hanya menjawab, "Sekarang kamu ingin berkeluarga atau enggak? Kalau iya, ya musti dipertimbangkan umur kamu menikah karena berhubungan dengan kesehatan. Kalau enggak, ya enggak usah pusing."

Geez. I love my parents for sure.

10.3.15

Kenapa sekolah lagi, sih?

Ketika pertama kali saya bikin blog ini, tujuannya cuma satu yaitu punya online diary. Saya punya buku diary juga, tapi karena waktu itu lagi nge-trend bikin blog, saya akhirnya bikin juga. Enggak tahu kenapa, saya ini orangnya gampang banget terpengaruh sama orang lain, sejak kecil. Saya ingat ibu saya pernah bilang kalau dia lebih suka dengan teman-teman saya waktu SMA daripada waktu SMP. Ketika saya tanya alasannya, dia bilang kalau teman-teman saya di SMA sangat membantu saya punya prestasi akademis yang baik. Namun kalau diingat lagi, prestasi akademis saya selalu pas-pasan, dari SD sampai waktu SMA. Tapi satu yang saya ingat, kalau saya menikmati banget kegiatan belajar. Going to school gave me happiness. Nilai ujian saya jarang di atas 7, kecuali untuk bahasa Inggris dan agama. Saya masuk jurusan IPA, tapi nilai Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika saya selalu, ya....begitu. Beruntung banget punya sahabat-sahabat yang bisa dibilang ambisius dalam belajar. Jadi ketika saya sudah mulai capek dan mau menyerah, mereka selalu ada buat menyemangati saya.

Oh iya, beberapa hari yang lalu saya ketemu dengan sahabat masa kecil saya, yang dulu juga tetangga sebelah rumah, di tempat saya nge-gym. Kaget banget rasanya bisa ketemu lagi karena kami sudah lama banget enggak ketemu. Mungkin sejak 2008 kali ya? Walaupun cuma ketemu sebentar (karena kelas RPM-nya udah mau mulai), tapi kami sempat ngobrol. Hal pertama yang ia tanyakan adalah, "lo sekarang di mana sih? kerja di mana?" Saya mengulum senyum sejenak dan menjawab, "kan gue baru aja resign Januari lalu. Gue mau lanjut sekolah lagi, Cole..." Saat itu dia cuma menatap saya kaget dan sedikit tertawa, "sekolah lagi? lo tuh kenapa sekolah melulu, sih? Udah tua, dreeeey...Demen banget deh sekolah, gue heran!"

Setelah selesai olahraga, saya lalu berpikir di jalan pulang. Kenapa ya saya sampai suka banget sama yang namanya sekolah? Untuk sebagian orang sekolah itu paling mentok di S1 aja, enggak perlu tinggi-tinggi, apalagi buat seorang perempuan. Saya sih cuma bisa tersenyum kalau ada yang ngomong seperti itu ke saya. Tapi kalau dilihat lagi ke belakang, sebagian besar waktu saya dulu dihabiskan untuk belajar. Contohnya waktu saya masih SD, saya ingat sepulang sekolah saya harus les matematika dan bahasa Inggris. Hal tersebut dimulai dari kelas 3 SD dan berlangsung sampai kelas 1 SMA. Lelah? Iya, lelah, tapi saya senang. Ada sih masa-masa bosan dan jenuh dengan hal-hal tersebut, tapi ujung-ujungnya saya balik lagi buat mengerjakan. Sampai kata sahabat saya tadi, "dulu ya, kalau gue mau ngajak lo main sore-sore, lo pasti enggak ada. pasti dibilangnya 'Audrey-nya lagi les...' Hahaha." And it's true. Kalau hari biasa saya jarang di rumah karena les. Tapi apakah saya jadi pintar? Kayaknya enggak juga, nilai saya biasa-biasa aja sampai lulus SMA.

Di kuliah pun begitu. Saat lulus IPK saya memang 3 koma, tapi entah kenapa saya enggak puas karena teman-teman saya banyak yang di atas itu. Tulisan saya jelek banget waktu kuliah. Bahkan kata salah satu dosen saya tulisan saya macam tulisan anak SMA yang lagi curhat dan dijadikan novel teen-lit kekinian.  Lalu kalau saya enggak terlalu pintar, buat apa saya sekolah lagi dan berniat mengambil S2? I don't know. Maybe I just like the idea of studying. Maybe I just love knowledge. Entah pendidikan itu berguna buat karir saya atau enggak, saya belum tahu. Tapi yang pasti, saya sudah janji sama diri sendiri kalau saya harus sekolah lagi.

Cheers!