23.4.14

Jakarta itu Keras

Selain penis, ternyata ada juga yang bisa keras, yaitu Jakarta. Kalau ada yang bilang “Ah, itu bisa-bisaan orang yang tinggal di Ibu Kota aja. Enggak sekeras itu, kok,” tandanya dia enggak pernah tinggal lebih dari setahun di Jakarta.
Dua hari yang lalu, seperti biasa saya menikmati saat-saat morning walk dari stasiun menuju kantor. Biasanya jalan pagi ini aman dan tentram (walaupun matahari dan asap knalpotnya enggak santai), tapi kali ini ada yang berbeda. Ketika melewati jembatan Tosari, saya melihat kejadian pencopetan dengan mata kepala saya sendiri. Saya yang sebelumnya enggak pernah lihat kejadian orang dicopet secara langsung jadi agak bengong. Prosesnya cepat banget dan modusnya kebaca. Ada 4 bapak-bapak (yang sepertinya umur 50an dan sudah beranak istri), yang satu akting menjatuhkan barang dan yang satu lagi bertugas mengambil dompet di saku belakang si korban. Yang dua lagi sepertinya bertugas mengalihkan perhatian orang-orang. Rasanya ingin berteriak “copeeeet!” tapi saya takut diikuti dan jadi korban selanjutnya karena setiap hari lewat sana.
Mungkin kejadian ini juga terjadi di kota-kota lainnya. Ini hanya cerita kecil soal pencopetan di Tosari (yang kerap terjadi, ya). Belum lagi kalau kita naik Kopaja 19. Jangan harap bisa duduk manis dan tenang. Mata harus awas dan tas harus terus dikepit di depan. Jangan coba-coba menaruh dompet atau handphone di kantong celana atau kemeja. Turun dari bus, kita bisa pulang dengan kantong kosong.
Mengerikan? Iya. Jakarta keras. Jakarta membuat kita sebagai warganya (atau orang yang biasa bekerja di Jakarta) jadi harus selalu waspada, menjadi insecure. Bahkan bisa merasa lebih insecure dibanding pacar yang masih akrab sama mantan. Saya sendiri enggak bisa jalan dengan tenang kalau lagi menuju kantor, karena enggak jarang ada cewek yang tasnya disamber oleh pengendara motor. Jakarta membuat warganya jadi penuh rasa curiga. Makanya enggak heran kalau orang Jakarta datang ke kota lain akan dicap sombong dan jutek. Saya mengalaminya waktu kuliah di Jatinangor dulu. This city makes us this way. Tapi walaupun terdengar mengerikan, saya sih masih merasa nyaman tinggal di Jakarta. It has everything, like EVERYTHING here (include the insecurities). Mungkin saya akan menghabiskan hidup saya di Jakarta yang keras ini, tapi bisa juga tidak. Kalau ada yang mengajak untuk tinggal di Bali, saya mau, sih. Ha-ha-ha.
p.s. dampak dari melihat pencopetan itu adalah…..mood saya jadi jelek seharian. Eh, enggak seharian, sih. Setelah makan siang mood saya sudah ceria lagi. Perutnya kenyang, sob.