30.5.13

Bullying

Kalian tahu yang namanya bullying? Atau malah pernah merasakan bullying? Bullying adalah tindakan dimana satu pihak menindas atau mengintimidasi pihak yang lain, oleh yang powerful terhadap yang powerless. Masa-masa bullying biasanya dialami ketika kita sekolah. Saya punya cerita sendiri tentang bullying ini. It was started in junior high school...

Mungkin masa-masa SD atau sekolah dasar merupakan masa yang paling blur buat sata, tapi bukan berarti tidak menyenangkan. Saya menjalani sekolah dasar di sekolah katolik. Sadar gak sih kalau waktu SD kita sama sekali gak peduli dengan yang namanya senioritas? Kayaknya kenal dengan kata itu saja tidak. Dulu sih yang saya pedulikan hanya bagaimana caranya hari itu main-main seru bareng teman sekelas. Kalaupun ada konflik, paling masalah sepele dengan teman sekelas atau teman seangkatan tapi beda kelas atau teman satu jemputan. Sempit ya? Saya gak tau ini hanya terjadi sama saya saja atau kebanyakan orang merasakan hal yang sama. Saya, atau kita, gak peduli dengan yang namanya senior, junior, atau apapun itu. Semua anak dilihat dengan sama.

Masuk ke masa SMP. Ada perasaan aneh ketika memasuki fase baru dalam hidup. Sempat juga bertanya-tanya, "akan seseru apa ya nanti SMP?" karena saya akan pindah sekolah dan bertemu teman-teman baru. Sekolah baru saya adalah sekolah yang memiliki sekolah TK-SD-SMP yang berada di satu area. Jadi biasanya yang dulu sekolah di SD itu, kebanyakan akan masuk ke SMP itu juga. Boleh dibilang saya akan menjadi anak yang benar-benar baru. Hari pertama masuk sekolah adalah masa orientasi siswa atau biasanya disebut MOS. Pertama kali mau masuk kelas, di depan pintu masuk sudah ada segerombolan anak perempuan dengan seragam putih biru. Anak kelas 1 masih harus pakai seragam putih merah kala itu, jadi saya tahu kalau mereka adalah kakak kelas. Perasaan khawatir jelas ada karena wajah yang mereka tampilkan...tidak ramah. Saya memasuki kelas dengan takut-takut dan ternyata kelas masih sepi. Namanya juga masih pagi, keinginan untuk buang air kecil pun muncul dan kalau mau ke kamar mandi otomatis harus melewati gerombolan anak kelas 3 tadi. Saya takut, tapi dari pada saya ngompol, lebih baik nekat dan anggap saja angin lalu. Ternyata mereka tidak mau dianggap angin lalu. Kata "permisi" itu tidak cukup bagi mereka.

"Eh elo, kalau lewat kakak kelas itu nyapa dong. Lewat-lewat aja, gak sopan banget.."

Kalimat yang terlontar dari (yang kelihatannya adalah) si ketua geng berhasil memuat bulu kuduk saya merinding. Bagaimana tidak..saya tidak kenal mereka, wajah mereka tidak ramah, mereka lebih tua dari saya, dan mereka menegur saya dengan nada yang ketus. Lalu sebelum masuk kelas, mereka memanggil saya lagi dan bilang, "Eh, nanti bilang ya sama temen-temen lo yang lain, jangan lupa nyapa kakak kelas kalau lagi jalan.." dan saya cuma bisa mengangguk mengiyakan. I was cupu back then, gak berani melawan. Predikat "anak baru jadi iya aja' selalu jadi pembelaan saya ketika ada yang menyuruh saya untuk melawan.

Kelas 1 SMP boleh dibilang pertama kalinya saya kenal dengan yang namanya perploncoan di sekolah. Dulu saya tidak tahu kalau tekanan dari senior dan sindiran merupakan salah satu bentuk bullying. Buat saya "oh itu hal yang wajar, kan saya junior.." Dan bukan saya saja yang mengalami bullying di sekolah, teman-teman yang lain juga mengalaminya, dan sebagian besar anak perempuan. Hal itu jadi pertanyaan saya sekarang, "Kenapa yang lebih banyak mengalami penindasan dan yang menindas adalah anak perempuan?"


Oh iya, satu lagi, saya bukan hanya merasakan penindasan oleh senior, tetapi juga dari teman seangkatan saya. Penindasan sosial dimana sebagian besar anak perempuan yang "berkuasa" di angkatan saya menjauhi dan menyebarkan cerita buruk tentang saya. Rasanya? Gak enak.

Pikiran saya saat itu cuma mendoakan agar anak-anak kelas 3 itu cepat lulus dari sekolah ini dan gak muncul-muncul lagi. Jadi saya dan yang lainnya terbebas dari tekanan mereka. Saya sudah siap untuk naik ke kelas 2 dan bersekolah dengan damai. Namun saya salah......

Masuk tahun kedua di SMP membuat saya berpikir semua akan baik-baik saja. Saya pikir saya akan bebas dari tekanan senior. Namun seakan starus sosial mengatakan "A..a..a...tunggu dulu. Siapa bilang kamu boleh tenang?" Kelas 2 SMP itulah masa dimana perploncoan terasa lebih brengsek dari sebelumnya. Kelas 3 yang sekarang seakan sudah menanti-nanti untuk melabrak angkatan saya. Dulu tidak bisa karena masih ada angkatan sebelumnya, yang walaupun suka menekan tetapi juga berperan "melindungi" kami. Saya juga bingung bagaimana cara menjelaskannya. Mungkin kalau dengan kalimat langsung akan berbunyi demikian...

"Lo jangan sentuh anak kelas satu itu karena mereka masih 'jatah' kami. Awas aja berani macem-macem.."

Serem ya? Sebegitu berkuasanya anak kelas 3. Saya ingat saya pernah dipanggil oleh anak kelas 3 waktu saya kelas 2. Mereka bilang saya gak sopan dan tatapan mata saya nyolot. Saya bingung karena menurut saya muka saya biasa saja karena dari dulu memang sudah begini. Dan sepertinya dulu wajah saya bukan masalah bagi sekitar. Lalu mereka menyuruh saya untuk gak 'nyolot' lagi. Kali ini saya tidak mau diam saja, saya melawan. Saya capek kalau harus iya-iya saya ke mereka. Saya bilang, "menurut gue muka gue biasa aja karena dari dulu begini adanya. Mungkin kalian aja yang over sensitive.." dan BAAAAM!! muka mereka pucat pasi. I felt like a winner that day.

Ada kepuasan tersendiri bisa menjawab tudingan mereka. Meskipun setelah saya harus menanggung beban dipelototin dan disindir setiap lewat depan mereka. Tapi itu tidak bertahan lama karena entah bagaimana prosesnya saya dan teman-teman berdamai dengan mereka.

Masuk tahun ketiga. Tahun ini bisa dibilang saya hampir punya segalanya. Saya punya teman-teman satu geng yang merupakan pentolan di sekolah, saya kesayangan guru-guru di sekolah karena perilaku baik saya, dan saya aktif di kegiatan ekstrakurikuler yang populer di sekolah. Satu lagi, saya dekat dengan junior-junior saya. Apalah yang dibutuhkan seorang anak SMP selain kepopuleran? Dulu mana mikir tentang nanti mau jadi apa walaupun sudah punya cita-cita. Yang penting saya dikenal oleh banyak orang, meskipun saya bukan 'ketua geng'. Memikirkan hal itu, saya jadi geli sendiri. Dulu saya pikir saya hebat, tapi ternyata tidak.

 
Awalnya saya memutuskan untuk tidak melakukan aksi bullying terhadap junior saya karena saya tahu rasanya gak enak. Tapi berada di lingkungan 'teratas' membuat saya mau gak mau harus membuktikan sesuatu. Bodohnya, saya malah jadi salah satu the bullies. Hal ini karena ada salah satu junior kelas satu yang buat kami 'nyolot'. Kalau diingat-ingat, saya emang pantas tertawa. Menertawakan diri sendiri tepatnya. Saya seperti balas dendam terhadap anak ini. Pikir saya "saya dulu ditindas karena saya nyolot, kenapa saya gak berlaku hal yang sama?". Bodoh, bodoh sekali. Saya merasa harus menunjukkan kekuasaan saya atas junior-junior ini, menunjukkan siapa senior mereka. Dan kalau diingat-ingat, itu bukan hal yang membanggakan. Tapi puji Tuhan, Dia masih sayang sama saya dan bikin saya sadar kalau itu bukan hal yang seharusnya saya lakukan. Masa SMP saya berakhir dengan damai karena akhirnya saya tetap jadi kakak kelas yang baik. Sebenarnya ada hal yang jadi ganjalan di hati saya, yaitu apakah anak yang saya bully masih menyimpan dendam sama saya... :(

Saya juga merasa menyesal kalau ketika kuliah ada yang merasa di bully ketika masa orientasi mahasiswa. Walaupun maksud saya bukan untuk mem-bully, tapi saya gak tau tanggapan orang bagaimana. Yang pasti kalau ada pun, saya menyesal. Rasanya tulisan kali ini selain sharing tentang pengalaman bullying saya, saya juga seperti melakukan pengakuan dosa.

Last thing, being bullied is awful and bullying other people is the most awful action ever.

xoxo, gabriella