27.9.12

Sekedar Tulus

Saya kembali belajar tentang hal yang sebenarnya tidak terlalu baru namun hari ini saya diingatkan untuk kesekian kalinya bahwa hal tersebut itu penting. Masalah hari ini adalah tentang ketulusan. Sering kali atau bahkan dari kecil saya sudah diajarkan untuk berlaku tulus di dalam hidup. Saya sempat bingung apa sebenarnya berlaku tulus itu. Apakah sekedar melakukan sesuatu yang kita inginkan? Kalau begitu banyak sekali hal yang saya lakukan dari dulu tanpa ketulusan. Namun hari ini saya merasa ditegur kembali oleh kenyataan bahwa apapun yang kamu lakukan HARUS BERDASARKAN KETULUSAN.

Sore ini ada salah satu teman saya yang mengeluh tentang usulan penelitiannya yang ternyata memiliki ide yang sama dengan temannya yang lain. Ia merasa kesal karena ia merasa idenya telah dicuri. Lalu masalah itu akhirnya terdengar juga oleh salah satu dosen saya yang kebetulan ada di ruangan yang sama. Setelah mendengar pokok permasalahannya, ada pendapat yang menarik yang beliau kemukakan. Dosen saya bilang, ketulusan mereka dalam mengerjakan skripsi itu berbeda. Yang satu memiliki ide itu karena ia merasa penting untung membahasnya, tapi yang satu memiliki ide tersebut karena berpikir itu adalah syarat untuk lulus.

Terus beliau memberi contoh lainnya. Misalkan kita lapar dan untuk itu kita makan mie ayam. Lalu ada orang lain yang bilang, "Kok makan mie ayam? Kenapa gak makan nasi?". Bukannya kalau kita makan nasi, nanti kita makannya tidak akan setulus waktu kita makan mie ayam? Jadi alasan mengapa kita makan mie ayam, ya karena kita ingin makan mie ayam, tanpa tujuan tertentu. Sama halnya apabila kita memberi hadiah untuk seseorang, bukan agar orang tersebut senang atau membalas hadiah kita, tapi ya karena ingin memberi hadiah saja. Terdengar mudah dan sederhana, tapi masih sering gagal dalam hal ketulusan.

Jadi, yang saya dapatkan pada hari ini adalah untuk berlaku tulus, kita cukup melakukan apa yang kita inginkan, tanpa mendambakan balasan apa pun. Sulit, karena balasan itu terdengar indah. Tapi mau bagaimana juga balasan belum tentu selalu datang, kan? Jadi memang sebaiknya tidak mengharapkan apa-apa, ya kan?


p.s. semoga saya bisa mengerjakan skripsi saya dengan tulus ya, teman-teman. sepertinya itu menjadi dasar yang penting untuk menuntaskannya...

8.9.12

Sang Penari (2)

Gesekan kaki di lantai sudah mulai terdengar. Selendang yang tadinya teronggok di sudut ruangan sudah kembali diikat di panggul. Rambut yang telah lama terurai acak kini kembali terikat kencang rapi, membentuk sanggulan kecil di bagian mahkota kepala. Tubuh yang sempat hanya duduk lesu di tengah panggung, sepertinya sudah siap menciptakan gerakan-gerakan khasnya, yang dulu banyak memikat orang. Lihat! Ia sudah mulai bergerak! Gerakannya semakin mantap, jauh lebih baik dari pada gerakannya yang terdahulu.

Musik? Kenapa ruangan ini sunyi? Kenapa tidak ada alunan musik? Dulu bukannya ia baru mau menari apabila ada iringan musik dari pemusik kesayangannya? Lalu mengapa sekarang ia malah menari-nari dengan riangnya tanpa sedikit pun dentingan nada, seakan musiknya ada, tetapi hanya ia yang bisa mendengar?

Aku, sang penari, yang dulu tergolek tanpa daya ketika tahu pemusikku pergi mengembara entah kemana dan entah mengapa. Aku, sang penari, yang dulu kerap menunggu pemusik kesayanganku  datang kembali ketika aku tahu ia menghilang. Aku, sang penari, yang telah bosan dengan segala ketergantunganku akan pemusik, pemusik mana pun. Aku, sang penari, yang akhirnya sadar bahwa bukan si pemusik yang menciptakan tarianku, tetapi aku yang memukau orang-orang dengan lenggokku.

Aku akan ciptakan lagi melodiku sendiri. Aku akan mulai lagi semua dari awal, dari sebelum aku memiliki ketergantungan akan pemusik. Musik untuk tarianku akan berasal dari diriku sendiri, bukan dari yang lain. Musikku akan berasal dari suara angin, suara hujan, suara daun-daun bergesekan satu sama lain. Musikku akan berasal dari suara tepuk tangan penonton, suara sorak-sorai mereka, suara ketika mereka meminta aku untuk menari kembali. Musikku akan berasal dari suara gesekan kursi di lantai, suara pintu terbanting, atau bahkan suara gelas kaca yang beradu dengan marmer.

Aku, Sang Penari, akan menciptakan tarian solo, yang diiringi musik ciptaanku sendiri. Bukan berarti aku tidak rindu pemusikku, tapi ini panggungku.