26.3.16

4 Perubahan Sebelum Menginjak 27 Tahun

Ketika umur saya sebentar lagi menginjak angka 27 tahun, mungkin saya adalah orang yang paling menghayati lagunya Taylor Swift, yang berjudul "22". Bukan karena saya nge-fans sama Ms. Swift, tapi saya merasa saya berhenti bertumbuh secara mental di umur 22.....atau 24 tahun lah paling mentok. Bahkan salah satu dosen saya pernah bilang kalau saya berhenti bertumbuh di umur 8 tahun. (Yes, it was you, Pak. Huft.)

Saya enggak pernah merasa bertambah dewasa, padahal umur sudah hampir kepala TIGA. Namun ternyata itu enggak sepenuhnya benar, karena ternyata setelah bertemu dengan teman saya, ada beberapa hal yang saya sadari telah berubah di diri saya seturut dengan bertambahnya umur. Setelah disimpulkan, saya bisa menyebutkan 4 perubahan pola pikir di dalam diri Audrey Gabriella, yang paling saya sadari.

Banyak memaklumi keadaan
Bisa dibilang saya orang yang agak kaku kalau soal aturan dan prinsip. Saya bisa merasa terganggu kalau prinsip yang saya anut enggak diterapkan oleh orang lain. Contohnya, saya enggak suka melihat ada orang yang pakai sepatu sneakers yang bagian belakangnya diinjak. Saya bisa aja ngomel, "Kok diinjek, sih? Sayang banget jadi rusak sepatunya." Padahal mungkin saja itu sesuatu yang nyaman buat orang tersebut. Hal ini berubah seiring berjalannya waktu. Saya mulai bisa melihat kalau apa yang biasa buat saya, belum tentu biasa buat orang lain, dan ITU ENGGAK MASALAH. Saya jadi bisa memaklumi kalau orang melakukan kesalahan, yang mungkin saat itu dia enggak merasa bikin salah. Ya sudah, maklumi saja.

Dan hal ini berpengaruh ke sifat saya, yang jadi lebih santai. Waktu saya ke Jogja dan Solo beberapa waktu lalu, kami sempat enggak menemukan tempat makanan yang enak. Belum lagi supir kami enggak banyak tahu tempat makan yang cocok di lidah. Saya curiga, bukan karena makanannya enggak enak, tapi memang lidahnya enggak cocok aja dengan masakan jawa yang cenderung manis. Tapi ya dari pada ngedumel, saya sih makan aja, karena menurut saya wajar saja ada perbedaan. Namanya juga beda daerah. 


Coffe shop di Solo, Yellow Truck Coffee, yang ternyata
ada di Bandung, Depok dan tempat lainnya juga.

Lebih pemaaf
Pada dasarnya saya memang mudah memaafkan orang, tapi kalau sedang kesal dengan orang itu, kadang saya suka mengungkit kesalahannya yang terdahulu. Lama-lama ada rasa mengganjal di dalam diri saya dan saya merasa lelah. Lelah karena sadar kalau sebal dengan seseorang terus-terusan, energi saya seperti terkuras, tersedot habis. Jadi dari pada saya bikin diri sendiri capek, lebih baik saya memaafkan orang dengan tulus saja. Balik lagi ke soal memaklumi tadi. Saya jadi memaklumi kalau enggak ada orang yang bebas dari kesalahan.  

Enggak pusing soal j.o.d.o.h.
Di antara teman-teman saya, mungkin saya yang paling santai kalau ditanya soal pasangan hidup. Mungkin karena pernikahan sendiri sudah enggak jadi prioritas utama kali, ya? Malah sekarang saya bingung kenapa dulu pernah kepikiran untuk menikah muda. Makin ke sini, saya makin melihat kalau menikah itu banyak banget yang harus dipikirin. Beberapa alasannya sudah pernah saya tulis di "Kapan nikah? Kapan-kapan." Saya mau menikah, tapi mungkin belum dekat-dekat ini. Masih banyak yang mau dikejar. Karena menikah di umur yang pas menurut masyarakat pun enggak sepenuhnya menjamin kalau kita akan bahagia. Banyak kasus teman yang menikah muda dan waktu ketemu malah bercerita kalau ternyata menikah itu enggak sepenuhnya berjalan mulus-mulus aja kayak pantat bayi. Ada yang menyesal, ada yang....ya sudah deh, jalanin saja.

Hal ini bikin saya sadar kalau mungkin Tuhan belum mengijinkan saya bertemu si pasangan hidup ini karena enggak mau nantinya saya mengeluhkan betapa sulitnya menikah. Jadi ya sekarang sih saya santai-santai aja kalau ditanya "mana pacarnya?" atau "kapan nikah?" Oh satu lagi alasan kenapa saya enggak pusing soal jodoh. Being single feels great and I enjoy it that much. Baru kali ini saya enggak sirik liat teman punya pacar atau suami. Lalu di umur segini, saya makin males mencari-cari sosok baru buat dikenal dari awal lagi. Nanti dulu, deh.

Suka ngumpul dengan jumlah sedikit
Semboyan "the more, the merrier" enggak pernah jadi pedoman hidup saya. Saya dari dulu itu selalu pilih-pilih teman. Sombong, ya? Ya biarin, deh. Tapi bukan maksudnya sombong, sih. Hanya saja saya lebih suka mempertahankan lingkar pertemanan saya dalam ukuran yang kecil. Hal ini lama-lama berpengaruh kalau saya lagi pengin ketemu teman.

Kalau dulu waktu jaman kuliah, saya pasti penginnya ke mana-mana bareng satu geng. Enggak harus semuanya ikut, tapi banyak lah. Minimal kalau kumpul ada 4-5 orang. Tapi semakin ke sini, saya jadi lebih suka untuk punya quality time barang satu atau dua orang teman aja. Tapi tetap senang juga kalau kumpul banyakan, enggak nolak. Mungkin saya adalah orang yang paling jarang gembar-gembor, "aku sama si ini lagi di sini. Gabung, yuk!" Misalnya saya sudah janjian dengan seorang teman, saya enggak akan atau jarang ngajak orang lain buat ikutan. Kecuali teman saya yang menawarkan diri untuk ngajak yang lain. Ya silahkan. Sering juga teman jadi bertanya,"lo ngajak si ini juga, enggak?" atau "kok enggak ngajak-ngajak, sih?" dan biasanya saya cuma bisa bales dengan salah tingkah. Kenapa, ya? Mungkin mengajak orang untuk ketemuan itu....bukan bidang saya, karena saya sendiri sering menolak ajakan ketemu. Alasannya? Mager. He-he-he.

Ada yang merasakan hal-hal serupa juga enggak, sih? Apa saya aja yang lebay? :')

13.3.16

3 Jawaban tentang Status

"Kita itu sebenarnya gimana, sih?"


Kalimat itu terdengar familiar? Buat saya, sih, iya. Kadang saya yang melontarkan kalimat tersebut, kadang orang lain yang mengucapkannya. Biasanya kalimat tersebut diucapkan kalau kita sedang minta kejelasan status dalam suatu hubungan. Hubungan yang sangat dekat layaknya pasangan, tapi tidak ada status yang "resmi", apakah kita memang pacaran atau tidak. Ada beberapa pilihan jawaban yang bisa kita pilih, antara lain:

1. "Bisa dibilang kita pacaran."

Kalau lawan jenis yang kita tanya memberikan jawaban demikian, pasti hati kita langsung berbunga-bunga. Akhirnya tidak ada lagi hari-hari yang akan kita lalui dengan menebak-nebak bagaimana sebenarnya hubungan ini. Semuanya sudah jelas, bahwa perasaan dan pandangan kalian akan hubungan ini sama. Selamat!


2. "Kita teman baik, kan?"

Apa yang kita rasakan ketika mendengar kalimat ini? Ya. Dunia rasanya runtuh. Berlebihan? Saya rasa tidak. Mengetahui kalau orang yang kita suka tidak memiliki perasaan yang sama dengan kita itu pasti rasanya sakit dan menyebalkan. Pasti ada suara di kepala kita yang meneriakan, "JADI SELAMA INI GUE CUMA DIANGGAP TEMAN?" Di saat seperti ini, tanpa ragu, balikan badan dan move on-lah.


3. "Sebenarnya aku sayang sama kamu, tapi aku enggak mau kehilangan kamu sebagai teman."

Nah, ini jawaban yang biasa didapatkan oleh kita yang sudah dekat dengan sang sahabat dan mulai merasakan adanya perbedaan keintiman dalam pertemanan. Kalau soal perasaan sayang, enggak perlu diragukan lagi, kita pasti saling sayang. Hanya saja, terkadang terjadi perbedaan prioritas di antaranya. Yang satu enggak keberatan untuk menjalin hubungan lebih dari teman, sedangkan yang lain ragu untuk meneruskan lebih jauh karena sudah terlanjur nyaman dengan pertemanan ini. Sehingga, kebanyakan dari mereka takut kalau terlanjur pacaran, lalu (amit-amit) putus, pasti hubungan mereka enggak seperti waktu masih sahabatan. Enggak seasyik dulu lagi.

Buat kamu yang dihadapkan dengan jawaban seperti ini, jangan sedih dulu, karena ini bukan akhir dari segalanya. Mungkin sang sahabat memang benar-benar menghargai pertemanan ini sebegitu pentingnya, sehingga ia takut kehilangan kita. Kita sendiri pasti enggak mau kan punya hubungan yang canggung kalau-kalau ke depannya nanti ada sesuatu yang buruk terjadi? Kecuali kita sudah siap mental menerima kemungkinan terburuk sekali pun. Misalnya, kalau nanti putus, terus kita masih mau sahabatan, kita wajib ngerti jika suatu hari nanti sahabat kita punya gebetan baru. Cemburu? Wajar aja, kok, karena pernah ada cerita di antara kalian. Tapi ya seperti sudah dibilang sebelumnya, telan saja cemburumu bulat-bulat. Pahit? Itu sudah resikonya.

Ketika kita ada di situasi seperti ini, ada baiknya kita menerima saja jawaban sang sahabat. Kelihatannya mungkin seperti enggak memperjuangkan, sih, tapi yang selalu saya tanamkan di diri sendiri adalah kalau salah satu pihak udah ragu dengan perasaannya, hubungan itu enggak akan berjalan dengan baik. Mendayung perahu saja lebih baik berdua, karena kalau mendayung sendirian, akan jadi capek sendiri. Jangan ragu untuk mundur, kalau sahabat kita sudah ragu untuk maju.



Jadi, jawaban mana yang sering kamu dapatkan? :)

1.3.16

Bahagia dalam Sangkar

Tatapanku tertuju pada langit biru di atas sana. Tidak terlalu biru, sih, karena ada sedikit sentuhan abu-abu gelap di sebelah kanan akibat hadirnya si awan pembawa hujan. Akhir-akhir ini sering hujan. Kadang tidak berhenti dari pagi sampai malam. Udara terasa sejuk sekali, sampai kadang-kadang aku kedinginan. Tapi tidak jadi masalah, karena biasanya aku langsung diberikan selimut. Coba saja kalau aku bebas di sana, aku pasti kehujanan dan basah kuyup. Nanti bulu-buluku yang indah ini jadi terlihat lusuh. Aku terlalu indah untuk berupa buruk. Aku memang ada untuk tinggal di dalam perlindungan, bukan terbang bebas di luar sana. Buat apa bebas kalau nantinya aku jadi harus bersusah payah bersaing dengan yang lain? Terlalu merepotkan.

Bicara soal bersaing, aku tidak perlu khawatir kalau sudah menyangkut makanan. Ketika yang lain sibuk bangun pagi untuk berebut sarapan terbaik, aku tidak perlu melakukan hal serupa. Aku tinggal menunggu tangan yang membawakan segenggam biji-bijian, yang bisa langsung aku santap tanpa ada rasa khawatir akan direbut oleh yang lainnya. Hidupku nikmat, ya? Persetan dengan hukum alam yang seharusnya membuat aku berjuang dan mengikuti seleksinya.

Memang salah kalau aku sudah nyaman dengan segala fasilitas yang serba cuma-cuma ini? Beberapa teman yang di luar sana sering menghampiriku dan berusaha membujukku untuk ikut terbang bebas bersama mereka di langit luar dan mengepakan sayap sekencang-kencangnya. Aku sempat tergoda, tapi setelah memikirkan kalau aku harus bekerja keras, aku langsung mengurungkan niatku. Biarlah aku di sini saja, di dalam sangkar yang minim ancaman. Aku rasa ini saja cukup. Iya, cukup.