28.1.13

Kepada Engkau Sang Penebus


Kepada Engkau Sang Penebus, 
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Hari ini tidak akan sebahagia ini kalau bukan karena Engkau mengijinkan semuanya terjadi. Hari ini aku kembali dari kampus dengan gelar sarjana. Terima kasih, Bapa.
Aku lemah, namun Engkau menguatkan. Aku ragu, namun Engkau meyakinkan. Aku berkekurangan, namun Engkau mencukupkan semuanya. Terima kasih, Bapa. 
Terima kasih seribu… 

26.1.13

Berpikir Ulang

Audrey: Mah, nanti kira-kira kalau aku punya anak, mamah bakal mau bantuin aku ngurus mereka ga?
Mamah: Ha? Maksudnya ngurus?
Audrey: Ya, kalau misalnya aku ada keperluan apa gitu, aku titipnya ke mamah..
Mamah: Ya boleh aja, asal kamu bawa baby-sitter aja. Jadi mamah bukan ngejagain anak kamu, tapi nemenin anak kamu main. Yang ngurus lain-lainnya tetep baby-sitter dia.
Audrey: Oh gitu?
Mamah: Iya lah. Mamah mah ya kak tugasnya sudah selesai ngurus kamu sama Joshua. Kalau harus ngurus anak kamu lagi, kapan mamah sama papah istirahatnya? Itu sekarang udah jadi tugas kamu buat jadi ibu. Nanti kalau kamu sama Joshua sudah berkeluarga, kerjaan mamah papah mah senang-senang, jalan-jalan ke luar negeri berdua..

Percakapan sederhana lainnya antara saya dengan Ibu Aigrim, mamah saya. Saya pernah berpikir, mudah kali ya untuk jadi ibu jaman sekarang. Kalau kamu punya anak, apalagi pengalaman anak pertama, kamu bisa bergantung sama orang tua kamu untuk mengurus si anak. Saya melihat banyak kejadian seperti ini dimana si anak perempuan menitipkan bayinya kepada si ibu, sementara ia bekerja atau (yang parahnya) jalan-jalan bersama teman-temannya. Hal ini memang terjadi di salah satu kenalan saya, dan ini merupakan hal yang serius.

Ia menikah di usia yang boleh dibilang muda, 22 tahun, dan kami anggap ia akan baik-baik saja karena ia menikahi seorang pria yang mapan. Ia memiliki anak di usianya yang ke-23, dan semenjak itu ia sering bolak-balik ke rumah orang tuanya untuk menitipkan anak laki-lakinya tersebut. Ia memberikan uang, susu, makanan, dan lain sebagainya. Ia bilang, "kurang apa lagi?". Suatu hari si ibu seperti sudah lelah dan memutuskan untuk tidak meneriman "jasa penitipan" lagi dari si anak perempuan. Ia lelah, ia merasa sudah terlalu banyak mengurus, karena sesungguhnya ia masih punya tanggungan mengurus 2 anak kandung lainnya.

Kejadian ini dan percakapan di atas seakan membuat potongan mozaik yang tadinya terpecah belah menjadi satu kembali. Memberi peringatan juga bagi saya, kalau sudah siap untuk berkeluarga, tandanya saya harus siap untuk lepas dari ikatan keluarga yang lama. Bangun rumah yang baru, lalu pindah. Tapi bukan berarti memutuskan ikatan keluarga, karena itu tidak akan bisa. Kalau sudah menikah, kebergantungan saya bukan lagi kepada ayah dan ibu saya, tapi kepada keluarga saya yang baru, yaitu suami. Pada awalnya mereka tidak akan menolak permintaan kamu, tapi hati siapa yang tahu? :)

Your parents have had enough, you cannot burden them anymore. Think about it.

18.1.13

Sepucuk Surat Cinta untuk Bilqi



When peace like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou hast taught me to say,
It is well, it is well, with my soul

                                        
                                          -Horatio Spafford

Ketika mendengar begitu banyak berita tentang sakitmu, hati ini rasanya seperti dihantam beribu pukulan. Sakit. Lalu dalam sekejap begitu banyak ingatan tentang kamu muncul ke permukaan. Tapi satu yang paling menonjol di pikiran ini, yaitu pipi kamu, Bil. Ha ha, iya Bilqi, pipi kamu yang begitu tembam pasti yang jadi kenangan semua orang. Pipi yang sering menjadi target usil semua orang. Kamu orangnya baik, Bil, baik sekali. Senyum tidak pernah pergi dari wajah kamu, selalu mengembang tiada lelah. Kamu itu kesayangan semua teman kamu, Bilqi. 

Malam ini, ketika hendak bersiap untuk tidur, berita itu akhirnya sampai juga. Kamu sudah berjalan jauh. Berjalan ke tempat dimana kami teman-temanmu sudah tidak dapat menggapai kamu dengan tangan telanjang. Rasa sedih melanda, kaget, marah, semua campur aduk. Kami kehilangan kamu, Bilqi. Seorang yang kami yakini sebagai pejuang tangguh, yang tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Kami sayang kamu, Bil, dan doa untukmu tidak mungkin terhenti dari mulut kami. 

Puji Tuhan, sakitmu sudah tidak terasa lagi kan, sayang? Kamu pasti sudah merasa jauh lebih enak sekarang. Selamat jalan, Bilqisti Qiyamul Haq. Kesayangan kami, sahabat kami, semoga senyum kamu tetap mengembang dan pipi kamu tetap menggemaskan. Kami mengasihi kamu, tetapi kamu adalah milik-Nya. :)

"Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." (Galatia 6:9)

7.1.13

Uh...SNAP!



Saya kemarin malam habis baca-baca bahan skripsi saya. Judulnya "Feminist Thought" karya Rosemarie Putnam Tong. Dari judulnya pasti ketebak kan bukunya tentang apa? Iya, tentang kajian feminisme yang nyerempet-nyerempet skripsi saya. Awalnya saya santai-santai saja membaca tulisan-tulisannya yang banyak membahas Freud tentang psikoanalisis maskulinitas dan femininitas. Tapi ketika sudah masuk pembahasan tentang Oedipus complex, saya merinding. Saya sudah pernah membaca sebelumnya tulisan Freud tentang seksualitas, tapi mungkin karena ini dijabarkan dalam bahasa Indonesia, jadi efeknya lebih "ngena". Di sana dijabarkan bagaimana proses terbentuknya maskulinitas pada anak laki-laki dan femininitas pada anak perempuan, dari mereka bayi sampai dewasa.

Ada satu yang menyentil saya. Dikatakan cinta pertama seorang bayi itu adalah ibu mereka. Namun seiring dengan berjalannya waktu, semakin dewasa dan mengerti, si anak akan tahu kalau mereka tidak dapat memiliki ibunya, karena ia sudah dimiliki oleh ayah mereka. Untuk anak laki-laki, ia akan mencari kompensasi yaitu ke saudara perempuannya. Pada kasus anak perempuan, karena ia tadinya beralih ke ayahnya (untuk memuaskan hasrat seksualnya) maka ia akan mencari sosok ayah di dalam laki-laki lain, entah itu abangnya atau laki-laki lain.

Perhatian saya tertuju pada istilah "abang". Saya anak sulung perempuan di keluarga dan memiliki satu adik laki-laki. Dulu ketika masih duduk di bangku SMA, saya dekat dengan teman yang sudah saya anggap abang saya sendiri. Namun sayangnya, perasaan sayang saya tidak bersambut karena dia benar-benar cuma menganggap saya adik. Sedih. Tapi yang jadi fokus saya adalah, saya baru sadar kalau selama ini kedekatan saya sama laki-laki itu sebenarnya dalam tahap dimana saya mencari orang yang bisa ngemong saya sebagai pengganti ayah saya. Makanya gak heran sih kalau ada anak perempuan yang mencari pasangan "Saya mau suami yang seperti ayah saya".

Merinding karena semua yang diungkapkan oleh Freud kebanyakan benar dan masuk akal, walaupun jadi memperlihatkan bagaimana perempuan itu mahluk yang lemah dan minor sekali. Banyak yang menentang juga karena tidak mau dipandang lemah. Kalau saya secara pribadi sih antara peduli dan tidak, karena akhir-akhir ini saya belum mau peduli dulu dengan pendapat orang lain. Jadi memandang dari luar saja.