16.5.14

You're Not Ugly

Suatu hari teman saya tiba-tiba bertanya "Gimana caranya supaya saya bisa punya rasa percaya diri yang kuat kayak kamu?" Pada saat itu, saya bingung banget harus jawab apa. Karena saya sendiri sampai detik itu enggak tahu bagaimana saya sampai bisa punya rasa percaya diri yang tinggi, bahkan ketinggian kata sebagian orang. Jujur, saya kadang memandang diri saya sendiri rendah. Dari kecil saya memiliki tubuh yang gemuk dan orang tua saya pun sering menegur saya karena sampai umur 25 ini saya masih juga gemuk. Rambut saya keriting dan saya menganggap itu sebagai halangan untuk tampil cantik mempesona layaknya bintang iklan. Kulit saya walaupun dapat dibilang putih, tapi mudah terbakar dan warnanya bukan menjadi eksotis, tapi dekil. Saya pun berbadan pendek (152 cm) dan enggak jarang saya diledekin bantet sama teman-teman saya. Wajah saya? Saya sih enggak menganggap wajah saya cantik. Bahkan teman cowok saya ada yang dengan terang-terangan bilang saya itu jelek. Itu baru dari segi fisik.

Kalau dari segi kepribadian, saya sering melihat diri saya sebagai orang yang pemalas dan suka menunda-nunda pekerjaan. Belum lagi sifat saya yang enggak kompetitif sehingga moto "dia bisa, saya juga harus bisa" pun enggak menempel di pikiran saya. Saya orangnya ceplas-ceplos, sampai kadang enggak sadar sering menyakiti teman saya. Dan kalau kita mau sebutkan apa lagi kekurangan saya, saya yakin tulisan ini enggak akan ada hentinya karena banyaaaaak sekali yang harus disebutkan.

Lalu, dengan kekurangan yang setumpuk itu, bagaimana bisa saya memiliki rasa percaya diri yang tinggi? I see myself from a better perspective. Ketika saya berada di antara teman-teman saya yang cantik, tubuhnya langsing, dan populer di kalangan cowok, saya sempat minder karena saya enggak seperti mereka. Lalu saya mulai mencari, apa sih yang bikin saya punya nilai lebih dibanding mereka? I am smart. Saya enggak bosan-bosannya meyakinkan diri saya kalau saya ini pintar dan membuat orang lain mengakui saya ini pintar. I have talents. Walaupun saya enggak memiliki paras yang cantik bak model, saya punya segudang bakat. I sing, dance, paint, write, and  make good jokes.  Hal-hal tersebut yang bikin saya percaya bawa diri saya enggak pantas dipandang rendah.

Seperti yang saya bilang di atas, pernah kok ada cowok yang bilang "lo kok jelek banget sih?" Saya enggak tahu itu cuma bercanda atau enggak, tapi hati saya terlanjur hancur. Cewek mana sih yang enggak sedih kalau dibilang jelek, apalagi sama cowok. Alih-alih sedih berlarut-larut, saya justru menjawab dia dengan kalimat, "emang lo ganteng banget ya sampai bisa bilang gue jelek? Guess what? even though I'm not that pretty, I have brain." Kuncinya cuma satu, saya enggak membiarkan orang lain memandang saya dengan rendah. I see myself as a capable woman, an unbeatable fun girl.

By telling yourself that you are ugly, you're just letting other people tell you are ugly. By putting yourself in the bottom, you're just letting other people step on you. Still wanna see yourself as an ugly person? I don't think so.

4.5.14

Movie Review: Delicacy (2011)

Sutradara: David Foenkinos, Stephane Foenkinos
Pemain: Audrey Tatou, Francois Damiens
Genre: Romantic-comedy

Udah sebulan terakhir ini pengin banget nonton film Perancis. Tapi karena enggak tahu film yang bagus apa, jadinya tertunda terus. Sampai tadi malam ketika lagi Saturdate sama temen kantor saya, Nana, kami memutuskan untuk pergi ke festival Europe on Screen 2014. Setelah memilih-milih film yang kira-kira bagus, akhirnya kami pilih film Delicacy yang diputar di Goethe Institute, Menteng. Awalnya milih film ini karena yang main Audrey Tatou dan lokasinya enggak jauh.

Pas dibilang film ini ber-genre romantis, saya dan Nana agak takut jatuh bosan karena lagi malas nonton yang menye-menye bikin mewek. Tapi ternyata kami salah. Film ini....menyenangkan. Saya rasa semua orang yang juga menonton film ini akan setuju.

Film ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Nathalie yang baru saja menikah dengan kekasihnya dan lagi bahagia-bahagianya. Tapi terjadi musibah,  suaminya meninggal tiba-tiba karena kecelakan, tertabrak mobil ketika jogging pagi. Nathalie berduka begitu dalam dan ia menutup dirinya dari banyak orang, termasuk orangtuanya, karena membutuhkan waktu sendiri. Namun ia tidak bisa tertekan selamanya dan memutuskan untuk menjalani hidupnya. Setelah 3 tahun, Nathalie akhirnya memiliki karir yang bagus dan stabil, tapi hatinya tetap sendiri. Sampai suatu saat ia tanpa sadar mencium rekan kerjanya, Markus. Markus sendiri bukan laki-laki yang populer di kantornya. Bahkan bisa dibilang ia orang yang invisible, no one pays attention to him. Nathalie awalnya merasa ini hanya selingan dan kesalah pahaman. Namun apa daya, kebaikan dan hati Markus yang tulus, dan selera humor yang bagus, menggelitik hati Nathalie.

Yang saya paling suka dari film ini adalah dialognya yang bagus dan mengalir natural banget. Biasanya film romance comedy dialognya cenderung enteng, bahkan cheesy. But not this one, this one has tons of good dialogues. Salah satunya ketika Markus berusaha untuk enggak jatuh cinta sama Nathalie dan selalu memalingkan wajahnya kalau ada Nathalie.

"You cannot keep your neck that way. You'll get a neck ache!"
"It's better than get a heartache!"

Well, that one is gold! Kenapa saya bilang dialognya jenius? Karena kita bisa dengar dialog atau percakapan seperti itu  sehari-hari. Kalau kita termasuk orang yang suka dengan genre rom-com, this is a must seen movie. Yang membuat film ini terasa nyata adalah tokoh utama cowok yang enggak setampat artis Hollywood, yang memang biasanya kita temuka (lagi) di hari-hari biasa kita. Enggak selamanya pemeran laki-laki harus tampan untuk bikin si tokoh perempuannya jatuh cinta. Dia bisa saja cowok biasa, yang enggak pernah kepikiran bakal jadi tokoh utama, lalu...boom! He's the one. 


And overall, for me it's a 4 out of 5!