4.9.14

Ketika Harus Berkata 'Sudah'

Menyudahi sesuatu itu enggak gampang. Apalagi kalau kita terlanjur nyaman dan merasa aman di dalamnya. Ketika kita berada di zona aman, kadang kita terlena dan menutup mata akan semua hal negatif yang sebernarnya kita alami tanpa sadar. Saya punya sahabat yang sudah pacaran bertahun-tahun. Saya pikir dia bahagia sama si cowok dan punya pikiran untuk menikah nantinya. Ternyata setelah dengar ceritanya, ia bilang kalau dia enggak pernah kepikiran untuk nikah sama si cowok karena cowok ini masih childish banget, not a husband material. Lalu saya tanya kenapa dia masih juga pacaran sama si cowok kalau memang enggak ada tujuan yang jelas? Jawabannya sederhana banget: karena gue udah nyaman sama dia. Sahabat saya enggak tahu akan ketemu cowok seseru dan senyambung kayak pacarnya ini apa enggak kalau mereka putus. Dia banyak tutup mata kalau cowoknya kelewat egois, bermulut kasar, bahkan suka flirting sama cewek lain. It doesn't make sense to me. 

Walaupun itu enggak masuk akal di saya, ternyata saya pun mengalami hal yang sama, terlena akan zona aman. Saya terlena akan adanya sosok laki-laki yang sesekali memperhatikan saya, sesekali memanjakan saya, dan sesekali membuat saya bahagia. Pikir saya, "enggak apa-apa, deh, walaupun cuma sesekali. Siapa tahu besok bisa jadi lebih baik." Pada kenyataannya hal itu enggak terjadi dan enggak akan pernah terjadi. Ibaratnya, saya lagi menantikan munculnya unicorn sungguhan di dunia. Berkali-kali saya kecewa dan berkali-kali pula saya memaafkan, begitu terus siklusnya. Tanpa sadar, ada bom waktu yang berjalan dan menunggu untuk meledak. Ada satu titik di mana saya memutuskan ini semua harus berhenti. Saya harus keluar dari zona nyaman ini dan memulai sesuatu yang baru. Sekali lagi, bukan hal yang mudah untuk keluar dari kenyamanan ini. Setiap kali saya ingin bilang jujur kalau saya lelah dengan keadaan kayak begini, ada saya yang menghalangi. Entah dia yang tiba-tiba jadi super perhatian atau tatapan matanya yang bikin luluh. Iya, semudah itu saya goyah. Sampai satu malam saya ambil sikap dan bilang, "saya mau lepas dari kamu dan saya mau maju ke cerita yang lebih baik." Rasanya? Hati saya hancur, tapi lega pada saat yang sama.

Saya enggak bisa bilang siapa yang salah dalam cerita ini, tapi saya bisa bilang karena keputusan sayalah makanya saya dan dia ngalamin ini semua. Karena saya yang mengijinkan dia bolak-balik masuk dan keluar dari hidup saya, selama 2 tahun lebih, saya pula yang harus menyelesaikan masalah. Saya banyak belajar dari kejadian ini. Saya belajar bagaimana saya sebagai perempuan harus punya standar kebahagiaan. Saya perlu tahu bedanya antara bahagia karena benar-benar terpuaskan atau seakan-akan bahagia karena enggak mau kehilangan. Kalau ditanya apakah saya merasa sedih dengan memutuskan untuk pergi, saya akan jawab.....sedih banget. 2 tahun bukan waktu yang singkat. I cried all night like a teenage girl, but I have to face it no matter what. 

Panjang ya curhatnya? Sudah biasa lah, ya.

17.8.14

17 Agustus yang Emosional

Hai! Rasanya sudah lama banget saya enggak nulis di blog ini, pun blog saya yang di Tumblr. Enggak perlu kasih alasan yang lain sih, cuma saya akhir-akhir terlalu fokus sama pekerjaan dan agak lelah dengan menulis. Iya, ada saatnya menulis menjadi sesuatu yang menjemukkan, apalagi ketika menulis menjadi suatu kewajiban, bukan karena keinginan. Mumpung sekarang hari minggu dan saya sedang libur dan enggak ada kerjaan (walaupun sudah janji sama si Mamah untuk ngurusin baju yang sudah dicuci), saya memutuskan untuk update blog ini.

SELAMAT HARI KEMERDEKAAN INDONESIA YANG KE-69! Yes, today is my country's independence day. Wow, my country is old, like a lady old. But no worry, you're still awesome. Ada rasa sebal karena 17 Agustus tahun ini jatuh di hari minggu. Kenapa? Karena jadi enggak ada hari libur tambahan. Huft. Dan sehubungan dengan hari kemerdekaan, hari ini pun gereja saya punya tema khotbah yang ada sangkut pautnya dengan kemerdekaan.

Saya menangkap beberapa poin penting, tapi poin yang paling mengena adalah bagaimana kita harus mulai belajar untuk memerdekakan diri kita dari rasa egois dan memerdekakan orang lain dari rasa bersalah. Ketika mendengar poin yang satu itu, hati saya langsung terasa sakit. Saya langsung teringat dengan kejadian yang membuat saya dan salah satu teman saya menjauh. Masalahnya cukup rumit dan saya masih bingung sampai sekarang bagaimana caranya untuk membuat semua baik kembali. Ketika saya sudah memutuskan untuk memaafkan dia, serta meminta maaf kalau seandainya saya pernah berbuat salah dan membuat ia tahu akan hal itu, dia tetap bertahan untuk menutup mulutnya. Ya, sampai sekarang kami belum berbicara satu sama lain lagi dan kalau bertatap muka (yang pastinya sering banget) kami seakan-akan enggak kenal satu sama lain. Hati saya sakit setiap itu terjadi dan harus saya akui kalau saya kangen masa-masa ngobrol ngalor-ngidul dan bercanda enggak keruan.

Saat itu juga saya langsung berdoa supaya Tuhan berkenan melembutkan hatinya, memaafkan saya, dan mau memulai semuanya dari awal lagi. Mungkin saya masih dilihat bersalah olehnya. Pagi ini jadi momen paling emosional karena ini menjadi reminder kalau diri saya sendiri masih sering jadi Audrey yang egoistis. Ya semoga dengan bertambahnya umur kemerdekaan negara Indonesia, semakin merdeka juga rakyatnya dari sifat egois untuk berkuasa atas satu sama lain. Sampai bertemu di umurmu yang ke-70, Indonesia!


16.5.14

You're Not Ugly

Suatu hari teman saya tiba-tiba bertanya "Gimana caranya supaya saya bisa punya rasa percaya diri yang kuat kayak kamu?" Pada saat itu, saya bingung banget harus jawab apa. Karena saya sendiri sampai detik itu enggak tahu bagaimana saya sampai bisa punya rasa percaya diri yang tinggi, bahkan ketinggian kata sebagian orang. Jujur, saya kadang memandang diri saya sendiri rendah. Dari kecil saya memiliki tubuh yang gemuk dan orang tua saya pun sering menegur saya karena sampai umur 25 ini saya masih juga gemuk. Rambut saya keriting dan saya menganggap itu sebagai halangan untuk tampil cantik mempesona layaknya bintang iklan. Kulit saya walaupun dapat dibilang putih, tapi mudah terbakar dan warnanya bukan menjadi eksotis, tapi dekil. Saya pun berbadan pendek (152 cm) dan enggak jarang saya diledekin bantet sama teman-teman saya. Wajah saya? Saya sih enggak menganggap wajah saya cantik. Bahkan teman cowok saya ada yang dengan terang-terangan bilang saya itu jelek. Itu baru dari segi fisik.

Kalau dari segi kepribadian, saya sering melihat diri saya sebagai orang yang pemalas dan suka menunda-nunda pekerjaan. Belum lagi sifat saya yang enggak kompetitif sehingga moto "dia bisa, saya juga harus bisa" pun enggak menempel di pikiran saya. Saya orangnya ceplas-ceplos, sampai kadang enggak sadar sering menyakiti teman saya. Dan kalau kita mau sebutkan apa lagi kekurangan saya, saya yakin tulisan ini enggak akan ada hentinya karena banyaaaaak sekali yang harus disebutkan.

Lalu, dengan kekurangan yang setumpuk itu, bagaimana bisa saya memiliki rasa percaya diri yang tinggi? I see myself from a better perspective. Ketika saya berada di antara teman-teman saya yang cantik, tubuhnya langsing, dan populer di kalangan cowok, saya sempat minder karena saya enggak seperti mereka. Lalu saya mulai mencari, apa sih yang bikin saya punya nilai lebih dibanding mereka? I am smart. Saya enggak bosan-bosannya meyakinkan diri saya kalau saya ini pintar dan membuat orang lain mengakui saya ini pintar. I have talents. Walaupun saya enggak memiliki paras yang cantik bak model, saya punya segudang bakat. I sing, dance, paint, write, and  make good jokes.  Hal-hal tersebut yang bikin saya percaya bawa diri saya enggak pantas dipandang rendah.

Seperti yang saya bilang di atas, pernah kok ada cowok yang bilang "lo kok jelek banget sih?" Saya enggak tahu itu cuma bercanda atau enggak, tapi hati saya terlanjur hancur. Cewek mana sih yang enggak sedih kalau dibilang jelek, apalagi sama cowok. Alih-alih sedih berlarut-larut, saya justru menjawab dia dengan kalimat, "emang lo ganteng banget ya sampai bisa bilang gue jelek? Guess what? even though I'm not that pretty, I have brain." Kuncinya cuma satu, saya enggak membiarkan orang lain memandang saya dengan rendah. I see myself as a capable woman, an unbeatable fun girl.

By telling yourself that you are ugly, you're just letting other people tell you are ugly. By putting yourself in the bottom, you're just letting other people step on you. Still wanna see yourself as an ugly person? I don't think so.

4.5.14

Movie Review: Delicacy (2011)

Sutradara: David Foenkinos, Stephane Foenkinos
Pemain: Audrey Tatou, Francois Damiens
Genre: Romantic-comedy

Udah sebulan terakhir ini pengin banget nonton film Perancis. Tapi karena enggak tahu film yang bagus apa, jadinya tertunda terus. Sampai tadi malam ketika lagi Saturdate sama temen kantor saya, Nana, kami memutuskan untuk pergi ke festival Europe on Screen 2014. Setelah memilih-milih film yang kira-kira bagus, akhirnya kami pilih film Delicacy yang diputar di Goethe Institute, Menteng. Awalnya milih film ini karena yang main Audrey Tatou dan lokasinya enggak jauh.

Pas dibilang film ini ber-genre romantis, saya dan Nana agak takut jatuh bosan karena lagi malas nonton yang menye-menye bikin mewek. Tapi ternyata kami salah. Film ini....menyenangkan. Saya rasa semua orang yang juga menonton film ini akan setuju.

Film ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Nathalie yang baru saja menikah dengan kekasihnya dan lagi bahagia-bahagianya. Tapi terjadi musibah,  suaminya meninggal tiba-tiba karena kecelakan, tertabrak mobil ketika jogging pagi. Nathalie berduka begitu dalam dan ia menutup dirinya dari banyak orang, termasuk orangtuanya, karena membutuhkan waktu sendiri. Namun ia tidak bisa tertekan selamanya dan memutuskan untuk menjalani hidupnya. Setelah 3 tahun, Nathalie akhirnya memiliki karir yang bagus dan stabil, tapi hatinya tetap sendiri. Sampai suatu saat ia tanpa sadar mencium rekan kerjanya, Markus. Markus sendiri bukan laki-laki yang populer di kantornya. Bahkan bisa dibilang ia orang yang invisible, no one pays attention to him. Nathalie awalnya merasa ini hanya selingan dan kesalah pahaman. Namun apa daya, kebaikan dan hati Markus yang tulus, dan selera humor yang bagus, menggelitik hati Nathalie.

Yang saya paling suka dari film ini adalah dialognya yang bagus dan mengalir natural banget. Biasanya film romance comedy dialognya cenderung enteng, bahkan cheesy. But not this one, this one has tons of good dialogues. Salah satunya ketika Markus berusaha untuk enggak jatuh cinta sama Nathalie dan selalu memalingkan wajahnya kalau ada Nathalie.

"You cannot keep your neck that way. You'll get a neck ache!"
"It's better than get a heartache!"

Well, that one is gold! Kenapa saya bilang dialognya jenius? Karena kita bisa dengar dialog atau percakapan seperti itu  sehari-hari. Kalau kita termasuk orang yang suka dengan genre rom-com, this is a must seen movie. Yang membuat film ini terasa nyata adalah tokoh utama cowok yang enggak setampat artis Hollywood, yang memang biasanya kita temuka (lagi) di hari-hari biasa kita. Enggak selamanya pemeran laki-laki harus tampan untuk bikin si tokoh perempuannya jatuh cinta. Dia bisa saja cowok biasa, yang enggak pernah kepikiran bakal jadi tokoh utama, lalu...boom! He's the one. 


And overall, for me it's a 4 out of 5!

23.4.14

Jakarta itu Keras

Selain penis, ternyata ada juga yang bisa keras, yaitu Jakarta. Kalau ada yang bilang “Ah, itu bisa-bisaan orang yang tinggal di Ibu Kota aja. Enggak sekeras itu, kok,” tandanya dia enggak pernah tinggal lebih dari setahun di Jakarta.
Dua hari yang lalu, seperti biasa saya menikmati saat-saat morning walk dari stasiun menuju kantor. Biasanya jalan pagi ini aman dan tentram (walaupun matahari dan asap knalpotnya enggak santai), tapi kali ini ada yang berbeda. Ketika melewati jembatan Tosari, saya melihat kejadian pencopetan dengan mata kepala saya sendiri. Saya yang sebelumnya enggak pernah lihat kejadian orang dicopet secara langsung jadi agak bengong. Prosesnya cepat banget dan modusnya kebaca. Ada 4 bapak-bapak (yang sepertinya umur 50an dan sudah beranak istri), yang satu akting menjatuhkan barang dan yang satu lagi bertugas mengambil dompet di saku belakang si korban. Yang dua lagi sepertinya bertugas mengalihkan perhatian orang-orang. Rasanya ingin berteriak “copeeeet!” tapi saya takut diikuti dan jadi korban selanjutnya karena setiap hari lewat sana.
Mungkin kejadian ini juga terjadi di kota-kota lainnya. Ini hanya cerita kecil soal pencopetan di Tosari (yang kerap terjadi, ya). Belum lagi kalau kita naik Kopaja 19. Jangan harap bisa duduk manis dan tenang. Mata harus awas dan tas harus terus dikepit di depan. Jangan coba-coba menaruh dompet atau handphone di kantong celana atau kemeja. Turun dari bus, kita bisa pulang dengan kantong kosong.
Mengerikan? Iya. Jakarta keras. Jakarta membuat kita sebagai warganya (atau orang yang biasa bekerja di Jakarta) jadi harus selalu waspada, menjadi insecure. Bahkan bisa merasa lebih insecure dibanding pacar yang masih akrab sama mantan. Saya sendiri enggak bisa jalan dengan tenang kalau lagi menuju kantor, karena enggak jarang ada cewek yang tasnya disamber oleh pengendara motor. Jakarta membuat warganya jadi penuh rasa curiga. Makanya enggak heran kalau orang Jakarta datang ke kota lain akan dicap sombong dan jutek. Saya mengalaminya waktu kuliah di Jatinangor dulu. This city makes us this way. Tapi walaupun terdengar mengerikan, saya sih masih merasa nyaman tinggal di Jakarta. It has everything, like EVERYTHING here (include the insecurities). Mungkin saya akan menghabiskan hidup saya di Jakarta yang keras ini, tapi bisa juga tidak. Kalau ada yang mengajak untuk tinggal di Bali, saya mau, sih. Ha-ha-ha.
p.s. dampak dari melihat pencopetan itu adalah…..mood saya jadi jelek seharian. Eh, enggak seharian, sih. Setelah makan siang mood saya sudah ceria lagi. Perutnya kenyang, sob.

24.2.14

Banyak Perubahan

Usia blog ini ternyata hampir mencapai 6 tahun. Hmm..lumayan sudah lama juga ya saya menulis di sini dan alamatnya enggak berubah-ubah dari dulu. So, what's happening here?

Changes
I change a lot. I grow up. Banyak perubahan yang saya alami selama enam tahun. Ketika pertama kali menulis, umur saya masih 19 tahun. Sekarang? Bulan April nanti saya genap berumur 25 tahun, seperempat abad sudah. Hehehe, I'm in the middle of my 20s. Tadi sempat baca postingan awal-awal dan.....saya terlihat masih anak-anak sekali. Lucu aja ngelihat betapa ekspresifnya saya dalam menulis. Font yang warna-warni dan ukurannya berbeda-beda untuk menekan beberapa kata atau kalimat. Lalu saya melihat postingan sejak tahun 2011. Rasanya ingin ketawa karena saya berubah banget. Cara nulisnya hampir seperti ini. Hanya bermain 'bold' dan 'italic'. Cara berceritanya juga beda. Dulu saya selalu menggebu-gebu kalau nulis (bahkan saya bisa ngebayangin kalau saya nulis sambil lompat-lompat. Ugh.), tapi kalau sekarang, meskipun tetap curhat sedih, senang, dan lain-lain, seperti saya menulis dengan lebih terkontrol.

(Kayaknya) enggak cinta melulu
Dulu buat saya masalah percintaan itu sama pentingnya dengan masalah kelaparan dunia. Namanya juga masih labil ya (sekarang juga masih colongan sih labilnya), jadi maklumin, please. Kalau saya kehilangan cowok, rasanya dunia saya pun berakhir. Tulisan saya yang berjudul 'Sang Penari' pun jadi salah satu buahnya. Emang benar kata orang banyak, patah hati bisa membuahkan karya yang baik. Well, I'm not saying that short story is good, but it was an improvement in my writing.
Lalu dengan berjalannya 6 tahun ini, saya semakin sadar kalau persoalan cinta enggak jadi yang utama. Masih ada tentang keluarga, kuliah, dan sekarang pekerjaan. Saya jadi lebih aware sama sekitar. Saya jadi lebih suka update soal kehidupan sehari-hari atau opini-opini yang terlintas di pikiran saya. Hmmm....

Jarang posting
Ini dosa terbesar saya sih kalau soal nge-blog. Saya semakin jarang posting di sini. Mungkin ini juga akibat saya punya akun sosial media yang lain, kayak Twitter, Path, Instagram, dan Tumblr. Saya jadi lebih sering nulis di sana dan akhirnya blogspot saya malah keteteran. Maafkan. Tapi sesekali saya pasti sempetin nge-post kok. Kan sudah jadi resolusi buat tahun ini. Mungkin seminggu sekali atau dua kali? He-he-he.

Mungkin buat saya 3 perubahan yang signifikan ini sih yang jadi sorotan utamanya. Karena itu yang paling terlihat. Hhmmm..kita tunggu 4 bulan ke depan, apa ada perubahan yang lainnya? :D

xoxo,
gabriella.

3.1.14

Jealousy


Berawal dari rasa ingin memiliki.

Seperti yang sudah pernah saya bilang, saya tipe orang yang cemburuan. Cih, sok banget memang. Saya bisa cepat ngambek kalau tahu orang yang saya sayang jalan sama perempuan lain (ya iya, lah. menurut lo aja.).Tapi enggak cuma sama teman perempuan saja, kadang saya cemburu kalau dia lagi main terlalu sering dengan teman-temannya. Rasanya pikiran saya berkata, "kok elo sama mereka terus sih? Sama gue-nya kapan?" Padahal kalau dipikir-pikir, waktu yang kami luangkan cukup banyak. Ditambah si orang ini (seperti yang pernah saya ceritakan juga) ramah banget sama perempuan. Banget. My jealousy evil meets its contender. Tapi ada yang saya ingin ceritakan dan sepertinya ini pelajaran buat saya.

Saya pernah ngobrol sama salah satu sahabat saya, Kenny. Kami membahas konsep pacaran dan memiliki. Kami berdua sama-sama sepakat tentang konsep pacaran itu aneh. Kok bisa ya seseorang punya keinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan milik dia sepenuhnya? Tapi bukan berarti kami berdua belum pernah punya pacar, ya. We've been there. Dan setelah pacaran yang terakhir, saya makin sadar, sebenarnya pacaran itu ya....cuma status. Status kalau kamu lagi dekat dengan lawan jenis dan kamu enggak membuka hati untuk orang lain lagi masuk. Oh iya, selama pacaran kamu seperti punya kewajiban untuk memberi kabar, mengingatkan ini-itu, membagi pikiran kamu untuknya, dan lain sebagainya. Makanya kalau orang nanya, "kenapa lo enggak pacaran aja sih, drey?", sebenarnya saya bingung mau jawab apa. Di satu sisi, iya, saya ingin banget 'memiliki' dia dan melakukan semua kegiatan yang dulu pernah saya lakukan ketika pacaran, tapi di sisi lain saya takut. Saya takut berubah jadi Audrey yang lebih mengindahkan status daripada kebersamaan itu sendiri. Tapi kalau ditanya, "kamu mau pacaran?", pasti saya iya-kan. Enggak tahu, makin lama kok saya semakin labil. Malu sebenarnya sama umur.

Okay, balik lagi ke masalah cemburu. I get jealous easily. Tapi melihat teman saya yang cemburu dan benar-benar memperlihatkan hal tersebut di depan umum (baca: sosial media)..... sangat tidak menyenangkan. Ingin saya tanggapi dengan kalimat "plis deh kak, you don't even know him that well...", tapi nanti saya dikirimi santet. Enggak mau. Hidup saya udah cukup berwarna tanpa ditambah kecaman dari orang lain. Terus, saya juga sebenarnya sebal dengan istilah "cemburu itu tanda sayang". I mean, whaaat?! Saya sih enggak merasa kalau saya sayang sama orang ini ketika saya cemburu. Saya merasa jadi orang yang paling egois dan menyebalkan. Saya sadar kok kalau lagi jadi 'The Evil Audrey' dan untungnya, orang ini termasuk yang santai kalau saya bilang "aku gak suka, iya cemburu maksudnya.." Jadi saya bisa malu sendiri kalau lagi cemburu. Makanya akhir-akhir ini saya lagi diuji banget untuk enggak jadi cemburuan, karena ternyata melelahkan dan memalukan. It shows my insecurities and my fear of losing something. Padahal selama ini saya selalu memegang prinsip kalau sesuatu memang milik kita, pasti akan selalu kembali ke kita.

Oh iya, tadi saya ketemu quotes yang bagus dari Neruda (menurut lo kapan Neruda enggak bagus, nyet?). It's simple, yet soooo...touchy! 

“I want
To do with you what spring does with the cherry trees.” 
- Pablo Neruda, Twenty Love Poems and a Song of Despair

Love and kisses,

Gabriella.

p.s. Saya capek ditanya kapan punya pacar. Rasanya pengen bilang "enggak usah tanya kapan. lo punya yang pantes buat gue, gak?"