19.8.17

Kamu Kan Perempuan, Seharusnya Kamu....



Pernah mendengar seseorang mengucapkan kalimat seperti itu di depanmu? Saya, sih, sering. Mulai dikomentari dari segi penampilan dan keahlian, tapi juga dari pilihan musik dan masih banyak lagi.

Banyak perempuan di luar sana yang mengeluh merasa didikte oleh laki-laki dengan kalimat ini, tapi entah mengapa saya merasa kalimat ini dilontarkan lebih banyak oleh sesama perempuan. Hal ini menjadi miris buat saya. Bukannya saling memberi dukungan, terkadang sesama perempuan justru saling menghakimi.

Penghakiman itu biasanya dimulai dengan kalimat,

"Kamu kan perempuan, seharusnya kamu..."

1. "...berpakaian rapi."

Saya termasuk perempuan yang suka berpenampilan rapi, tapi kadang juga suka mengikuti mood. Jadi ketika saya ingin tampil rapi, saya bisa saja mengenakan rok span, blouse, serta clog shoes ke kantor. Namun kalau sedang ingin tampil kasual dan malas tampil rapi, saya biasanya memakai kaos, jeans, dan sneakers.

Suatu hari saya pernah berpenampiln cuek seperti ini dan langsung disambut dengan kalimat, "Kok, tumben tomboi amat. Kayak kemarin-kemarin, dong, rapi, cewek banget gitu."

Biasanya, sih, saya jawab saja dengan "lagi pengin pakai kaos," atau "lagi malas dandan."


Saya berpakaian rapi karena saya suka. Saya berpakaian feminin karena suka. Saya pakai high heels karena saya suka. Bukan karena saya perempuan.


2. "...jago dandan."

Baru saja terjadi belakangan ini, yaitu ketika saya, mamah, dan ompung sedang mampir ke toko kecantikan untuk membeli hairspray buat si Ompung. Singkat cerita, si Ompung jadi seru ngobrol soal hobi berdandannya dari Ia masih muda hingga sekarang berumur 82 tahun.

Di satu saat, mamah nyeletuk dan bilang, "Ya mau gimana juga, yang namanya perempuan itu harus bisa tampil rapi, cantik, harus bisa dandan, lah." Sudah dipastikan saya akan menjawab, "Kata siapaaa?" Namun beliau tidak membalas lagi dan bertanya kembali kepada saya sesudah selesai belanja.

"Kenapa kamu jawab gitu?"
"Ya, memang kata siapa perempuan harus bisa dandan, harus tampil rapi? Itu kan kata masyarakat."

Banyak perempuan di luar sana yang tidak suka berdandan. Lalu apa itu tidak menjadikan mereka perempuan? Dan apakah yang jago dandan jadi lebih bernilai dari pada yang lain? Saya rasa tidak.


3. "...bisa masak."

Saya sendiri baru mulai suka masak setelah bekerja. Bahkan ketika kuliah dan harus kost, memasak jarang menjadi pilihan untuk bertahan hidup. Saya lebih memilih untuk beli makanan di luar. Kenapa? Repot.

Memasak itu memakan waktu, butuh persiapan banyak, dan setelah jadi, cucian setumpuk!

Lalu yang menjadi kegelisahan saya, kenapa harus perempuan yang bisa memasak? Seakan-akan kalau laki-laki tidak bisa masak itu adalah hal yang lumrah. Memangnya yang butuh makan perempuan doang?

Jadi kalau buat saya, lagi-lagi, memasak bukan ranahnya perempuan saja. Coba lihat, berapa banyak koki handal di dunia ini yang berjenis kelamin laki-laki?


4. "...suka beberes dan kamarnya enggak berantakan."

Ini yang sering dikeluhnya mamah saya. Kamar saya memang tidak pernah rapi dan pasti ada saja spot berantakannya. Kenapa? Ya, malas aja beberes kamar di hari Sabtu atau Minggu. Penginnya kemulan di kasur, menikmati hari libur.

Kalimat "anak perempuan kok kamarnya berantakan banget, sih," sudah jadi makanan sehari-hari saya dari masih remaja. Sedangkan kamar adik laki-laki saya, yang serupa dengan pondokan baru kena taifun, tidak pernah dikomentari dengan kalimat yang sejenis.

Padahal bukannya kalau ditelisik dari segi kebersihan dan kesehatan, laki-laki dan perempuan itu sama saja, ya? Sama-sama harus rapi dan bersih?


5. "...tampil feminin."


Saya ingat mamah saya selalu bercerita kalau dari kecil saya suka minta dibelikan baju bertemakan princess. Gaun merah muda dengan rok mengembang dan tidak ketinggalan puffed sleeves. Dari kecil saya memang suka baju yang centil, walaupun kelakuan saya cenderung tomboi.

Hal itu terbawa sampai sekarang. Meski sudah pakai baju 'cewek', ketawa saya masih menggelegar, bercandaan saya sering tak senonoh, dan duduk masih suka serampangan, yang kalau dinilai oleh sebagian orang, tidak feminin.

Tapi bagaimana seseorang bersikap dan berpenampilan, harusnya tidak dibatasi dengan gender tertentu. Hanya karena saya perempuan, apakah saya harus suka warna pink karena warna ini dinilai feminin? Seakan-akan kalau sukanya warna hitam jadi tidak perempuan banget.

Hal ini juga berpengaruh terhadap banyak laki-laki, yang enggan memakai warna-warna cerah sperti pink, kuning, atau ungu, karena buat mereka itu adalah warnanya perempuan. Sejak kapan warna mengenal gender?


6. "...kalem."


Dari semua sifat yang digolongkan perempuan banget, mungkin kalem adalah sifat yang tidak saya miliki. Saya mah anaknya centil, petakilan, cerewet, dan berbagai sifat ekstrovert lainnya. Saya cuma kalem kalau ada di lingkungan baru yang belum saya kenal sama sekali.

Apakah saya menjadi kurang perempuan karena saya tidak kalem? Saya rasa tidak.

Banyak teman laki-laki saya yang jauh lebih kalem dari saya dan itu tidak membuat mereka menjadi kurang laki-laki.


7. "...suka senyum."

Nasib punya RBF alias resting bitch face, selalu disangka lagi bete padahal saya lagi bengong dan pikiran kosong.

Seseorang bahkan pernah melontarkan kalimat, "Ya ampun, Drey, kamu kok cantik-cantik mukanya jutek banget? Senyum, dong! Anak perempuan masa cemberut?" di saat saya lagi bengong.

Seakan. Perempuan. Tidak. Boleh. Merasa. Kesal.

Saya tersenyum ketika saya ingin tersenyum dan ada hal yang membuat saya bahagia. Lagi pula, kenapa kalau perempuan tidak tersenyum dibilang jutek, tapi kalau laki-laki dibilang cool? Yang lebih aneh, kalau laki-laki yang ramah senyum, dibilangnya centil. Serba salah.


8. "...nggak suka musik gogonjrengan."

Salah satu teman persekutuan saya pernah terlihat shocked ketika saya ajak buat nonton Barasuara yang kebetulan saat itu sedang manggung di Bintaro. Kalau ada yang belum tahu Barasuara, kalian musti dengar sekarang juga! *fangirling*



Kenapa dia kaget? Karena dia tidak mengira saya suka jenis musik seperti ini. Jadi ketika dia lihat saya berjoget dengan asyiknya, dia tertegun. Belum lagi ketika saya berteriak dan mendendangkan lagu.

Setelah selesai dan ia masih diam, saya tanya, "Kenapa? Enggak nyangka saya suka musik kayak gitu, ya?" dan ia cuma bisa mengangguk. Saya sih tidak menyalahkan dia, tapi memang konsep yang dibentuk oleh masyarakat, perempuan itu wajarnya lemah lembut, sampai ke selera musiknya juga. Lalu apa kabar Nicky Astria?


9. "...jangan pintar-pintar amat."

HAHAHAHAHAHAAAA!!! Saya cuma bisa ketawa ketika ada orang yang bilang begini. Bukan, bukan marah, tapi lebih kasihan.

Dulu saya pernah dekat dengan laki-laki yang melontarkan kalimat sejenis itu. Dia bilang, "Ngapain, sih, Drey, kamu kepikiran lanjut sekolah lagi? Buat apa? Toh, ujung-ujungnya akan di rumah juga kalau habis nikah, ngurus anak dan suami."

Pernyataan dia langsung saya sanggah dengan, "That's why you will never be my husband," dan saya sudah tidak berhubungan lagi dengannya. Ngapain? Buang-buang waktu, tenaga, dan emosi.

Saya sudah lelah dengan penyataan kalau jadi perempuan itu enggak usah pintar-pintar amat, nanti laki-laki enggak ada yang mau. Kok cetek banget ya pikirannya? Saya jadi mikir, apa laki-laki segitu insecure-nya dengan perempuan pintar? Bukannya jadi terpicu untuk tidak kalah pintar, malah menyalahkan perempuan. Cuma laki-laki yang malas dan pengecut yang menganggap perempuan pintar itu menakutkan.

Punya pasangan yang pintar itu enak, tahu, bisa jadi sumber ilmu pengetahuan dan tempat bertukar pikiran. Lagi pula, apa pun jenis kelaminnya, menjadi pintar itu pilihan utama.


10. "...jangan keasyikan kerja, nanti lupa nikah."

Saya simpan ini di nomor terakhir karena sepertinya ini yang paling sering diserukan oleh tetua-tetua di keluarga maupun lingkungan lainnya. Buat saya, ini paling sering dilontarkan oleh tante-tante di lingkungan gereja saya. Apalagi ketika tahu kalau umur saya sebentar lagi 30 tahun. 

Buat sebagian orang, perempuan yang suka bekerja itu ambisius dan sibuk, sehingga melupakan oh-so-called kodrat perempuan, yaitu menikah. Buat saya, kodrat saya sebagai perempuan itu hanyalah menstruasi. Sisanya adalah pilihan, termasuk menikah dan memiliki anak. Memilih untuk tidak menikah dan tidak memiliki anak pun tidak mengurangi nilai seseorang menjadi perempuan.

Ada alasan saya untuk tetap asyik bekerja, yaitu menjadi perempuan yang semakin mandiri, menambah pengalaman, dan mencukupi kebutuhan pribadi saya sehari-hari. Di umur yang sudah 28 tahun gini aja saya masih hidup di rumah orang tua. Lalu apakah saya jadi lupa untuk menikah?

Menikah belum pernah jadi prioritas saya dalam hidup. Ingin, tapi bukan prioritas. Jadi kalau dibilang lupa, sih, ya enggak juga. Tapi memang belum ada yang bisa dijadikan pasangan hidup dan belum menjadi prioritas saja. 


Lalu dari sekian banyak poin yang saya sebutkan, apa kalimat yang paling sering kamu dengar? Atau ada kalimat lainnya yang kamu dapat? 

Saya yakin masih banyak, seperti perempuan seharusnya berpakaian sopan dan tertutup karena akan membuat nafsu birahi laki-laki membuncah, atau perempuan seharusnya nurut aja kalau dibilangin ini-itu dan tidak usah membantah, dan sebagainya.

Menjadi seorang perempuan itu memang tidak mudah. Banyak harapan dan dikte yang ditaruh oleh masyarakat patriakis untuk perempuan, bahkan sejak perempuan itu lahir. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah akan ikut dengan "aturan-aturan" tersebut atau memilih untuk menjalani yang membuat kita nyaman.


14.4.17

Doa di Jumat Agung

Ketika mulut ini lebih banyak mengeluh,
mengeluarkan dusta, dan berkata-kata kasar

Ketika telinga ini lebih suka ditutup
saat ada yang mengatakan kebenaran

Ketika mata ini lebih memilih untuk tidak melihat
apa yang Engkau telah berikan selama ini

Ketika tangan dan kaki ini lebih sering
melalukan hal yang mendukakan hati-Mu

Ketika pikiran ini lebih suka berpikir
seturut akal pikiranku sendiri

Ketika hati ini lebih mencintai dunia
dari pada mencintai Engkau

Ketika diri ini dari waktu ke waktu
merasa lebih hebat dari ciptaan-Mu yang lain

Ampuni aku, Tuhan.

16.9.16

Sesederhana Itu

Ini bukan tentang saya ingin tahu tentang kamu. Ini bukan tentang saya menyelidiki apa yang kamu sedang lakukan atau gemari. Ini bukan tentang masa lalu. Saya sudah masa bodoh dengan semuanya itu, saya menanggalkan ego saya dan memulai sesuatu yang baru.

Ini bukan tentang, "Hei, aku benci dia, aku tidak mau tahu apa pun tentangnya!". Ini juga bukan tentang, "Hei, dia sudah tidak punya pengaruh apa-apa, jadi tidak masalah kalau saya tahu apa yang sedang ia lakukan!" Ini sekedar dulu saya terluka dan sekarang masa penyembuhannya. Ini sekedar proses menuju sehat.

Kata ibu saya, kalau ingin sembuh kita harus mau minum obat yang disuruh oleh dokter. Obat manis atau pahit, tidak peduli yang penting lekas sembuh. Kejam? Tidaaaak, ini hanya masalah kebiasaan. Telan saja pil pahitnya, lama-lama tidak akan pahit lagi.

Ini sekedar tentang saya yang telah siap akan celotehan pintar kamu lagi. Ya benar, saya mengagumi cara berpikir kamu (saya kan pernah bilang kamu itu orang hebat, kamu pintar, kamu salah satu inspirasi saya dan saya kagum). Waktu itu saya lelah karena saya belum sadar bahwa melihat celotehan kamu dengannya adalah berkat Tuhan buat saya. Dia mau saya jadi perempuan yang tahan banting. Dia mau saya kembali fokus dan sadar bahwa yang memberi saya kebahagian bukan manusia, tetapi Dia yang menciptakan saya. Iya, dulu saya sempat lupa, pikiran saya sempat berkabut dan mendua. Saya lupa kalau saya harus mencintau Tuhan melebihi apa pun.

Saat ini, Ia kembali menampar saya, menyadarkan bahwa saya bukan satu-satunya yang menderita di dunia ini (sekali lagi). Jadi, kali ini saya memutuskan untuk peduli atau tidak, tetap hidup dengan segala celotehan kamu sendiri atau dengan siapa pun itu. Mencoba hidup beriringan, tapi bukan berarti menyatu.  Mencoba untuk menghadapi, bukan menghindari. Sesederhana itu...

Apakah ini tentang pembelaan? Terserah.

12.7.16

Kamar Mandi



Jam 00.01.

Aku masih berdiri diam di dalam kamar mandi. Tak sehelai benang pun kuusahakan untuk membalut tubuh telanjang ini. Dingin. Kebetulan hujan baru saja reda dari mampirnya ia ke tanah sejak tadi sore. Walau begitu, tetap saja kubiarkan tubuhku meresapi semua kesejukan yang jarang dirasakannya. Tadinya aku hendak membersihkan tubuhku, tapi seperti ada yang menahan inginku.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikan abu

Sepenggal lirik dari lagu "Aku Ingin" yang dinyanyikan oleh AriReda mengalun pelan dari telepon selulerku yang memang sengaja kubawa ke dalam kamar mandi. Salah satu kebiasaanku, mendengarkan lagu ketika mandi. Mungkin karena aku tidak suka suasana kamar mandi yang sepi. Lalu kulihat layar telepon selulerku menyala. Ada pesan masuk. Oh, kamu.

"Sedang apa?" tanyamu.

"Berdiri saja di kamar mandi."

"Buat apa? Sudah malam, lekas istirahat."

"Sebentar lagi. Rasanya ingin mandi, tapi malas karena pasti dingin."

"Kenapa mandi jam segini? Sudah pasti dingin."

"Tubuhku kotor. Harus dibersihkan..."

"Ya sudah, lekas mandi. Semakin malam, akan semakin dingin."

Sejenak kuperhatikan saja isi pesanmu. Kalau aku mengaku bahwa pesan terakhirmu membuat senyumku mengembang, apakah itu akan membuat kamu melayang? Senyumku mengembang karena ternyata kalimat pendek yang terdiri dari sembilan kata itu bisa membuatku merasa lebih hangat.

Jangan bangga dulu, karena memang menjadi tugasmu untuk membuatku tersenyum. Tidak harus selalu dan sering, karena yang terlalu sering akan menjadi biasa. Setelah biasa, lalu jadi tak bermakna.

"Iya," jawabku singkat.

Kuletakkan kembali telepon seluler di atas tutup kloset, lalu aku melanjutkan diamku di kamar mandi ini sambil menunggu keinginan untuk memutar keran air. Sayang, keinginan itu lama sekali datangnya...

1.7.16

Samara

Percayakah kamu kalau Tuhan dapat bekerja dengan cara yang sangat istimewa?

Semuanya diawali ketika saya berulang tahun ke-27 bulan April lalu. Buat saya saat itu, beranjak ke umur 27 tahun merupakan sesuatu yang...menakutkan. Saya merasa belum banyak mencapai sesuatu yang besar dalam hidup, padahal sebenarnya keinginan banyak sekali. 27 tahun. Teman-teman seumuran saya sudah banyak yang memiliki penghasilan besar, karir yang mapan, bahkan keluarga kecil dengan pasangan mereka. Ketika saya melihat semua itu dan melihat diri sendiri, saya mulai bertanya pada diri sendiri, "Lo ngapain aja, sih, selama ini? Kerjaan gini-gini aja, penghasilan macam fresh graduate, belum mandiri sepenuhnya pula." Pikiran-pikiran seperti itu terus menghantui dan berhasil membuat ulang tahun saya menjadi hari paling menyedihkan seumur hidup saya.

Sepanjang hari itu saya menghabiskan waktu bersama keluarga dan semua terlihat menyenangkan. Terlihat. Sesampainya di rumah, saya langsung masuk ke kamar dan menangis sejadi-jadinya.Yang saya rasa cuma segala tekanan yang ada di pikiran saya itu akhirnya keluar dalam bentuk tangisan. Setelah puas menangis dan bercerita kepada sahabat saya, saya langsung tidur dan hari itu berlalu begitu saja.

Lalu beberapa minggu kemudian, berangkatlah saya ke Kalimantan Barat dengan rombongan pelayanan bersama teman-teman persekutuan kecil. Di sana kami akan tinggal di Desa Air Durian, Kecamatan Air Upas. Ini pertama kalinya saya ikut dalam rombongan pelayanan dan saya enggak tahu seperti apa medan yang akan saya hadapi. Dari awal ibu saya sudah mewanti-wanti kalau saya harus siap untuk kondisi yang terburuk. Ia bercerita kalau ia pernah dapat tempat pelayanan yang fasilitas airnya sulit dan sekalinya ada air, warna airnya kuning. Perlu kalian tahu, saya ini sosok yang manja dan gampang merasa jijik. Bahkan saya pernah beres-beres kamar kostan teman yang berantakan karena saya takut enggak bisa duduk dengan tenang.

Singkat cerita saya sampai di Desa Air Durian ini pukul setengah tujuh malam setelah menempuh perjalanan dengan pesawat selama 4 jam (Jakarta - Pangkalabuun) dan 6 jam perjalanan dari Pangkalanbuun sampai Air Durian dengan mobil travel. Jalanan yang ditempuh juga bukan jalanan aspal yang mulus, tetapi jalanan tanah yang becek dan rusak, lengkap dengan lubang yang besar-besar. Belum lagi kami harus melewati kebun kelapa sawit yang tiada ujungnya. Rasa lelah, bosan, dan kantuk semuanya jadi satu. Mau tidur pun tidak akan bisa, karena ketika hampir lelap, tiba-tiba mobil harus menghajar jalanan berlubang itu dengan ganasnya.

Pemandangan sepanjang Pangkalanbuun,
sebelum masuk ke kebun kelapa sawit.

Jalanan yang tidak pernah mulus, selalu berlubang.

Karena sudah malam, ketika sampai di rumah yang akan kami huni selama seminggu, saya belum bisa mereka seperti apa suasana desa yang saya tinggali ini. Yang saya tahu pasti adalah di sana babi itu dipelihara layaknya anjing atau kucing di Jakarta. Mereka dibiarkan lepas di jalanan dan bisa dengan patuh akan kembali ke kandang kalau dipanggil. Aneh.

Untuk pengalaman pelayanan pertama saya dengan tim pelayanan ini, saya akan ceritakan di tulisan berikutnya. Singkat cerita saya mengalami banyak perubahan sikap setelah ikut ke Kalimantan. Salah satu pengalaman yang saya enggak bisa lupa di sana adalah ketika saya enggak dapat sinyal selama 6 hari. Tetapi hal tersebut bukannya membuat saya merana, melainkan saya merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Buat saya yang setiap hari rajin update berita dan posting ini itu di media sosial, harusnya saya merasa ketinggalan, tapi enggak juga. Justru saya jadi merasa bisa sepenuhnya fokus dengan kegiatan pelayanan ini. Kalau bingung enggak tahu mau ngapain lagi, saya ambil sikap doa saja. I tried to build more connection to Him. Hal tersebut enggak sia-sia, sih. Saya mulai sadar ketika saya mencoba membuka hati dan telinga untuk mendengar lebih, jawaban akan kegusaran hati pasti sayup-sayup mulai terdengar.

Sepulang dari Kalimantan, saya kembali mengingat pergumulan saya dan mulai merenung. "Apa yang salah dengan saya?" Saya teringat dengan orang-orang di Air Upas yang bisa dibilang hidupnya sederhana dan apa-apa terbatas, tetapi mereka bahagia. Mereka enggak bisa merasakan kecanggihan teknologi seperti saya, tetapi mereka baik-baik saja. Lalu terpikir satu hal tentang bersyukur. Ketika saya merasa hidup saya kurang ini dan itu, saya lupa kalau Tuhan Yesus sudah memberikan banyak hal dalam hidup saya; keluarga yang selalu ada, sahabat yang siap mendengarkan, pekerjaan yang tidak banyak menuntut waktu pribadi saya, dan masih banyak lagi. Saya pun berpikir tentang rencana sekolah memasak ke Perancis yang awalnya saya rancang, jangan-jangan itu salah satu bentuk pelarian saya akan ketidakpuasan dengan keadaan saya yang sekarang. Bukannya berusaha memperbaiki, malah ingin kabur. Membuka lembaran baru ternyata tidak semudah itu.

Justru lembaran baru itu mulai terbuka ketika saya sadar saya harus menyerahkan semuanya kembali ke Tuhan Yesus. Balik lagi ke ucapan "manusia boleh berencana, tapi biarlah rencana Tuhan juga yang terjadi." Saya juga punya keyakinan kalau di dalam Tuhan tidak ada rancangan kecelakaan, sehingga apapun masalah yang saya hadapi pasti ada buahnya dan buahnya pasti indah. Enggak mudah menyerahkan mimpi dan keinginan yang kita punya, apalagi harus berlapang dada kalau sekiranya itu tidak akan terwujud. Ada rasa takut untuk melepaskan keinginan daging, tapi saya pikir ada hal lain yang lebih penting untuk dijalani. Kembali lagi ke masalah prestasi hidup di umur 27 tahun, sekarang saya bisa bilang, "Terserah Tuhan Yesus saja saya mau ditaruh di mana. Perancis, Jakarta, atau pedalaman sekali pun, terserah. Yang penting, apa pun yang saya lakukan nanti, berguna buat Engkau, Bapa."

Tuhan Yesus memberkati kita semua. :)

26.3.16

4 Perubahan Sebelum Menginjak 27 Tahun

Ketika umur saya sebentar lagi menginjak angka 27 tahun, mungkin saya adalah orang yang paling menghayati lagunya Taylor Swift, yang berjudul "22". Bukan karena saya nge-fans sama Ms. Swift, tapi saya merasa saya berhenti bertumbuh secara mental di umur 22.....atau 24 tahun lah paling mentok. Bahkan salah satu dosen saya pernah bilang kalau saya berhenti bertumbuh di umur 8 tahun. (Yes, it was you, Pak. Huft.)

Saya enggak pernah merasa bertambah dewasa, padahal umur sudah hampir kepala TIGA. Namun ternyata itu enggak sepenuhnya benar, karena ternyata setelah bertemu dengan teman saya, ada beberapa hal yang saya sadari telah berubah di diri saya seturut dengan bertambahnya umur. Setelah disimpulkan, saya bisa menyebutkan 4 perubahan pola pikir di dalam diri Audrey Gabriella, yang paling saya sadari.

Banyak memaklumi keadaan
Bisa dibilang saya orang yang agak kaku kalau soal aturan dan prinsip. Saya bisa merasa terganggu kalau prinsip yang saya anut enggak diterapkan oleh orang lain. Contohnya, saya enggak suka melihat ada orang yang pakai sepatu sneakers yang bagian belakangnya diinjak. Saya bisa aja ngomel, "Kok diinjek, sih? Sayang banget jadi rusak sepatunya." Padahal mungkin saja itu sesuatu yang nyaman buat orang tersebut. Hal ini berubah seiring berjalannya waktu. Saya mulai bisa melihat kalau apa yang biasa buat saya, belum tentu biasa buat orang lain, dan ITU ENGGAK MASALAH. Saya jadi bisa memaklumi kalau orang melakukan kesalahan, yang mungkin saat itu dia enggak merasa bikin salah. Ya sudah, maklumi saja.

Dan hal ini berpengaruh ke sifat saya, yang jadi lebih santai. Waktu saya ke Jogja dan Solo beberapa waktu lalu, kami sempat enggak menemukan tempat makanan yang enak. Belum lagi supir kami enggak banyak tahu tempat makan yang cocok di lidah. Saya curiga, bukan karena makanannya enggak enak, tapi memang lidahnya enggak cocok aja dengan masakan jawa yang cenderung manis. Tapi ya dari pada ngedumel, saya sih makan aja, karena menurut saya wajar saja ada perbedaan. Namanya juga beda daerah. 


Coffe shop di Solo, Yellow Truck Coffee, yang ternyata
ada di Bandung, Depok dan tempat lainnya juga.

Lebih pemaaf
Pada dasarnya saya memang mudah memaafkan orang, tapi kalau sedang kesal dengan orang itu, kadang saya suka mengungkit kesalahannya yang terdahulu. Lama-lama ada rasa mengganjal di dalam diri saya dan saya merasa lelah. Lelah karena sadar kalau sebal dengan seseorang terus-terusan, energi saya seperti terkuras, tersedot habis. Jadi dari pada saya bikin diri sendiri capek, lebih baik saya memaafkan orang dengan tulus saja. Balik lagi ke soal memaklumi tadi. Saya jadi memaklumi kalau enggak ada orang yang bebas dari kesalahan.  

Enggak pusing soal j.o.d.o.h.
Di antara teman-teman saya, mungkin saya yang paling santai kalau ditanya soal pasangan hidup. Mungkin karena pernikahan sendiri sudah enggak jadi prioritas utama kali, ya? Malah sekarang saya bingung kenapa dulu pernah kepikiran untuk menikah muda. Makin ke sini, saya makin melihat kalau menikah itu banyak banget yang harus dipikirin. Beberapa alasannya sudah pernah saya tulis di "Kapan nikah? Kapan-kapan." Saya mau menikah, tapi mungkin belum dekat-dekat ini. Masih banyak yang mau dikejar. Karena menikah di umur yang pas menurut masyarakat pun enggak sepenuhnya menjamin kalau kita akan bahagia. Banyak kasus teman yang menikah muda dan waktu ketemu malah bercerita kalau ternyata menikah itu enggak sepenuhnya berjalan mulus-mulus aja kayak pantat bayi. Ada yang menyesal, ada yang....ya sudah deh, jalanin saja.

Hal ini bikin saya sadar kalau mungkin Tuhan belum mengijinkan saya bertemu si pasangan hidup ini karena enggak mau nantinya saya mengeluhkan betapa sulitnya menikah. Jadi ya sekarang sih saya santai-santai aja kalau ditanya "mana pacarnya?" atau "kapan nikah?" Oh satu lagi alasan kenapa saya enggak pusing soal jodoh. Being single feels great and I enjoy it that much. Baru kali ini saya enggak sirik liat teman punya pacar atau suami. Lalu di umur segini, saya makin males mencari-cari sosok baru buat dikenal dari awal lagi. Nanti dulu, deh.

Suka ngumpul dengan jumlah sedikit
Semboyan "the more, the merrier" enggak pernah jadi pedoman hidup saya. Saya dari dulu itu selalu pilih-pilih teman. Sombong, ya? Ya biarin, deh. Tapi bukan maksudnya sombong, sih. Hanya saja saya lebih suka mempertahankan lingkar pertemanan saya dalam ukuran yang kecil. Hal ini lama-lama berpengaruh kalau saya lagi pengin ketemu teman.

Kalau dulu waktu jaman kuliah, saya pasti penginnya ke mana-mana bareng satu geng. Enggak harus semuanya ikut, tapi banyak lah. Minimal kalau kumpul ada 4-5 orang. Tapi semakin ke sini, saya jadi lebih suka untuk punya quality time barang satu atau dua orang teman aja. Tapi tetap senang juga kalau kumpul banyakan, enggak nolak. Mungkin saya adalah orang yang paling jarang gembar-gembor, "aku sama si ini lagi di sini. Gabung, yuk!" Misalnya saya sudah janjian dengan seorang teman, saya enggak akan atau jarang ngajak orang lain buat ikutan. Kecuali teman saya yang menawarkan diri untuk ngajak yang lain. Ya silahkan. Sering juga teman jadi bertanya,"lo ngajak si ini juga, enggak?" atau "kok enggak ngajak-ngajak, sih?" dan biasanya saya cuma bisa bales dengan salah tingkah. Kenapa, ya? Mungkin mengajak orang untuk ketemuan itu....bukan bidang saya, karena saya sendiri sering menolak ajakan ketemu. Alasannya? Mager. He-he-he.

Ada yang merasakan hal-hal serupa juga enggak, sih? Apa saya aja yang lebay? :')

13.3.16

3 Jawaban tentang Status

"Kita itu sebenarnya gimana, sih?"


Kalimat itu terdengar familiar? Buat saya, sih, iya. Kadang saya yang melontarkan kalimat tersebut, kadang orang lain yang mengucapkannya. Biasanya kalimat tersebut diucapkan kalau kita sedang minta kejelasan status dalam suatu hubungan. Hubungan yang sangat dekat layaknya pasangan, tapi tidak ada status yang "resmi", apakah kita memang pacaran atau tidak. Ada beberapa pilihan jawaban yang bisa kita pilih, antara lain:

1. "Bisa dibilang kita pacaran."

Kalau lawan jenis yang kita tanya memberikan jawaban demikian, pasti hati kita langsung berbunga-bunga. Akhirnya tidak ada lagi hari-hari yang akan kita lalui dengan menebak-nebak bagaimana sebenarnya hubungan ini. Semuanya sudah jelas, bahwa perasaan dan pandangan kalian akan hubungan ini sama. Selamat!


2. "Kita teman baik, kan?"

Apa yang kita rasakan ketika mendengar kalimat ini? Ya. Dunia rasanya runtuh. Berlebihan? Saya rasa tidak. Mengetahui kalau orang yang kita suka tidak memiliki perasaan yang sama dengan kita itu pasti rasanya sakit dan menyebalkan. Pasti ada suara di kepala kita yang meneriakan, "JADI SELAMA INI GUE CUMA DIANGGAP TEMAN?" Di saat seperti ini, tanpa ragu, balikan badan dan move on-lah.


3. "Sebenarnya aku sayang sama kamu, tapi aku enggak mau kehilangan kamu sebagai teman."

Nah, ini jawaban yang biasa didapatkan oleh kita yang sudah dekat dengan sang sahabat dan mulai merasakan adanya perbedaan keintiman dalam pertemanan. Kalau soal perasaan sayang, enggak perlu diragukan lagi, kita pasti saling sayang. Hanya saja, terkadang terjadi perbedaan prioritas di antaranya. Yang satu enggak keberatan untuk menjalin hubungan lebih dari teman, sedangkan yang lain ragu untuk meneruskan lebih jauh karena sudah terlanjur nyaman dengan pertemanan ini. Sehingga, kebanyakan dari mereka takut kalau terlanjur pacaran, lalu (amit-amit) putus, pasti hubungan mereka enggak seperti waktu masih sahabatan. Enggak seasyik dulu lagi.

Buat kamu yang dihadapkan dengan jawaban seperti ini, jangan sedih dulu, karena ini bukan akhir dari segalanya. Mungkin sang sahabat memang benar-benar menghargai pertemanan ini sebegitu pentingnya, sehingga ia takut kehilangan kita. Kita sendiri pasti enggak mau kan punya hubungan yang canggung kalau-kalau ke depannya nanti ada sesuatu yang buruk terjadi? Kecuali kita sudah siap mental menerima kemungkinan terburuk sekali pun. Misalnya, kalau nanti putus, terus kita masih mau sahabatan, kita wajib ngerti jika suatu hari nanti sahabat kita punya gebetan baru. Cemburu? Wajar aja, kok, karena pernah ada cerita di antara kalian. Tapi ya seperti sudah dibilang sebelumnya, telan saja cemburumu bulat-bulat. Pahit? Itu sudah resikonya.

Ketika kita ada di situasi seperti ini, ada baiknya kita menerima saja jawaban sang sahabat. Kelihatannya mungkin seperti enggak memperjuangkan, sih, tapi yang selalu saya tanamkan di diri sendiri adalah kalau salah satu pihak udah ragu dengan perasaannya, hubungan itu enggak akan berjalan dengan baik. Mendayung perahu saja lebih baik berdua, karena kalau mendayung sendirian, akan jadi capek sendiri. Jangan ragu untuk mundur, kalau sahabat kita sudah ragu untuk maju.



Jadi, jawaban mana yang sering kamu dapatkan? :)