27.12.13

He's precious. He's my best friend.

Okay, setelah menulis soal kehidupan saya beberapa belakangan, saya akan memenuhi janji untuk cerita soal percintaan saya. Sebenarnya enggak penting juga buat dibaca. Saya takut jadi kayak anak ABG yang kebanyakan curhat. But whatever, this is my blog anyway.

Bohong kalau selama beberapa bulan ini saya enggak punya cerita cinta untuk dibagi. Singkatnya hati saya sudah sepenuhnya sembuh dari yang sebelumnya. Benar-benar sembuh (walaupun butuh waktu kurang lebih 2 tahun, ya. terima kasih, Tuhan!) sampai saya sudah enggak bisa mengungkit-ungkit hal buruk lagi tentang yang lalu. Kalau boleh jujur, saya orang yang butuh pemicu untuk bisa sepenuhnya sembuh.

Anggaplah dia pendamping saya untuk melepaskan yang lama. Seorang sahabat yang namanya enggak perlu saya sebut (karena sebenarnya saya takut dia malu. Ha-ha-ha.), selalu ada setiap saya butuh. Kami baru akrab sejak bulan September dan semakin dekat sejak nonton konser bareng. He's a great companion to me. Orang mungkin melihat kami sebagai sepasang muda-mudi yang lagi PDKT, tapi enggak kok. Kami benar-benar cuma suka jalan bareng, ngobrol bareng, ketawa bareng, dan menghabiskan waktu bareng. Kami sangat dekat sampai saya suka panik kalau dia enggak nyariin saya (tapi gengsi, jadi sok cool aja. Syalalalaa~).

Sampai suatu hari saya sadar kalau persahabatan ini bukan lagi berwujud friendship karena saya menginginkan hal yang lain dari dia. Saya orang yang posesif, jadi saya enggak suka berbagi. Sedangkan dia orang yang baik kepada siapa saja, termasuk teman-teman perempuannya. Well, I'm a jealous creature after all. Jadi akhir-akhir ini saya suka marah dan kesal sendiri. Aneh. Kayak ABG kurang gizi. Dia sadar dan curiga kalau saya sebenarnya cemburu dengan kedekatannya dengan teman-temannya tersebut dan saya dibuatnya mengaku. Sialan memang. Belakangan ini kami suka keceplosan memanggil satu sama lain dengan panggilan 'sayang', dan akhirnya jadi sayang beneran. Tapi kami enggak pacaran karena masih takut dengan konsep pacaran. Aneh ya? Jadi, sejauh ini kami cuma dekat layaknya sahabat, tapi juga memiliki layaknya pasangan. Saya sih cuma bisa berdoa supaya kalau kami bosan satu sama lain, kami tetap berteman dan bisa menemukan pasangan yang lebih baik lagi. Melalu dia, saya diajarkan untuk sabar (bangeeeet...) dan lebih dekat dengan Tuhan (untuk membawanya dalam doa).

He's one of those people that is precious to me. Dan 2 minggu ke depan kami enggak akan ketemu karena dia akan liburan keliling Eropa bareng keluarganya. Sialan, saya enggak tahu nanti rasa kangen saya bakal seperti apa.

Love and kisses,

Gabriella.

p.s. Sorry if I use 'sialan' too much. It fits my feelings right now. Sialan.

Life Updates Here and There

Setelah beberapa bulan absen menulis di blog ini (walaupun udah janji untuk kembali rajin menulis di sini), akhirnya saya memutuskan untuk menulis hari ini. Hi-hi-hi. Banyak banget yang mau saya ceritakan, dari kehidupan saya setelah lulus kuliah, percintaan, teman-teman baru, pekerjaan, hobi, dan selera musik yang gonta-ganti terus. Mulai dari mana ya?

After college life
Setelah lulus kuliah Januari 2013 dan di wisuda bulan Mei 2013 lalu, akhirnya saya bertemu dengan yang namanya 'berjuang hidup sesungguhnya'. Bukan berarti kemarin saya enggak berjuang sih, tapi untuk kali ini saya benar-benar harus bekerja untuk menghasilkan uang. Ngomong-ngomong soal bekerja, saya sekarang bekerja di salah satu majalan remaja tertua di Indonesia, yaitu majalah KaWanku (dan saya masih enggak tahu kenapa huruf 'W'-nya harus kapital). Saya jadi reporter di sini. Banyak orang yang nanya kenapa memilih untuk jadi reporter padahal kan saya lulusan Sastra Inggris. Biasanya....biasanya lulusan SaSing itu kan kerjanya di kedubes, kemenlu, dan ke-ke-ke yang lain. Mereka juga bertanya "emang bahasa Inggrisnya kepakai?" Saya sih cuma bisa mengulum senyum aja. Saya enggak perlu capek-capek menjawab pertanyaan mereka satu per satu. Yang pasti saya suka pekerjaan saya sekarang dan sejauh ini belum menunjukkan titik-titik kejenuhan (kecuali keinginan untuk punya suami kaya raya supaya saya bisa bekerja dari rumah saja dan jadi sosialita).

Teman-teman baru
Lingkungan pekerjaan baru pasti membuat saya punya teman-teman baru juga. Mereka teman-teman kantor saya juga sih. Orangnya asik-asik, sama gilanya dengan teman-teman saya waktu SMA dan kuliah. He-he-he. Saya juga senang kalau di lingkungan kerja saya enggak kenal sama yang namanya senioritas. Jadi lebih gampang sih kalau mau berkomunikasi dan melempar ide-ide baru. Oh iya, di sini saya juga dapat teman curhat dan teman ngomong sompral, namanya Nana. Iya, mukanya emang polos dan cengo, tapi otaknya sama brengseknya sama saya.

Anak yang hilang kembali lagi
Tentang paduan suara. Dulu sebelum kuliah saya sempat aktif di paduan suara gereja, paduan suara Immanuel. Tapi setelah kuliah di luar kota, otomatis kegiatan padus saya terhenti dong. Menurut saya itu salah satu 3,5 tahun yang lumayan menyiksa karena saya rindu paduan suara. Walaupun sedikit terobati dengan kegiatan padus mahasiswa di kampus (yang cuma berjalan setahun) dan vocal group di komunitas fakultas, tetap saja saya rindu menyanyi rutin di gereja. Kerinduan saya untuk menyanyi di paduan suara gereja akhirnya terpuaskan setelah lulus dan kembali aktif di gereja. Dan kali ini saya ada di paduan suara yang lain, yaitu paduan suara Ashira. Saya suka di paduan suara ini karena orang-orangnya berjiwa muda dan seru sekali. Bukan berarti padus sebelumnya enggak menyenangkan, saya juga suka di sana. Di paduan suara ini saya punya cerita yang enggak akan saya temukan di tempat lain.

One Direction, Lorde, Ariana Grande, Tom Odell, dan antek-anteknya
Semenjak bekerja, otomatis saya jadi punya kewajiban untuk tahau berita-berita ter-update untuk remaja, termasuk soal musik. Nah, menurut perkembangan jaman, anak-anak ABG jaman sekarang lagi suka banget sama boyband yang nge-hitz banget. Siapa lagi kalo bukan One Direction, boyband beranggotakan 5 cowok (yang menurut mereka) kece. Jujur aja, saya anti-1D awalnya dan boseeeeen banget denger berita yang isinya mereka melulu. Tapi emang dasar enggak boleh terlalu benci sama orang kali ya, saya kemakan omongan saya sendiri. Saya jadi suka sama mereka layaknya ABG-ABG ini dan nyatanya saya nulis ini sambil dengerin album mereka yang 'Take Me Home'. Musik mereka enak juga ternyata. Mungkin dulu saya enggak suka karena they are everywhere, jadi udah eneg duluan. Jadi, ya gitu deh...
Lalu di sini juga saya tahu seorang musisi cewek yang JENIUS bernama Lorde (baca: lord). She's amazing. her voice, music, attitude, talent, EVERYTHING!! I love her so much. Kalau selama ini kalian cuma dengerin lagu dia yang 'Royals', kalian wajib tengok lagu dia yang '400 Lux'. Menurut saya sih itu yang paling enak. tapi 'Love Club' juga enggak kalah enak.. He-he-he.
Penyanyi favorit saya tahun ini juga menambah. Salah satunya adalah si cantik Ariana Grande. Enggak usah ditanya kenapa, coba dengerin aja albumnya yang 'Yours Truly'. Flawless. Kalau kalian termasuk orang yang tumbuh di jamannya Mariah Carey, pasti suka dengan dia. Suaranya setipe tapi lebih asik kalau menurut saya. Her pitch is perfect. 
Kalau untuk musisi laki-laki, saya punya idola baru dari Inggris. He's Tom Odell. Mungkin dari tiga penyanyi sebelumnya, musik dia yang paling saya banget. Saya suka album-nya secara keseluruhan, terutama di lagi 'Grow Old with Me', 'Sense', dan 'Supposed To Be'. Saya tenggelam di dalamnya. Kalau soal jenis musik, dia brit-pop banget tapi dengan sentuhan piano dan suaranya yang unik, musiknya jadi asik banget.

Jadi sekian sedikit update-an dari saya selama berbulan-bulan. Oh iya, tadi kan saya janji buat cerita tentang percintaan, tapi enggak di sini. Karena sepertinya butuh ruang sendiri untuk yang satu itu (dan yang pasti ujung-ujungnya cuuuuuuuuurhat). Semoga enggak bosan ya. Semoga enggak eneg juga sama tulisan saya.

Love and kisses,

Gabriella

21.10.13

Berdebu

*ambil kemoceng*
*bersih-bersih debu di blog*

Haaaah...sudah lama sekali enggak menulis di sini. Sampai merasa blog ini terbengkalai. Soalnya akhir-akhir ini saya lebih banyak menulis di nengaudrey.tumblr.com. Monggo kalau ada yang mau menengok blog saya yang satu itu. Lebih banyak kebodohan-kebodohan saya terekam dan tertulis di sana. Mungkin ke depannya saya akan sesekali menulis di sini lagi. Let's see....


*lanjut bersih-bersih*

30.5.13

Bullying

Kalian tahu yang namanya bullying? Atau malah pernah merasakan bullying? Bullying adalah tindakan dimana satu pihak menindas atau mengintimidasi pihak yang lain, oleh yang powerful terhadap yang powerless. Masa-masa bullying biasanya dialami ketika kita sekolah. Saya punya cerita sendiri tentang bullying ini. It was started in junior high school...

Mungkin masa-masa SD atau sekolah dasar merupakan masa yang paling blur buat sata, tapi bukan berarti tidak menyenangkan. Saya menjalani sekolah dasar di sekolah katolik. Sadar gak sih kalau waktu SD kita sama sekali gak peduli dengan yang namanya senioritas? Kayaknya kenal dengan kata itu saja tidak. Dulu sih yang saya pedulikan hanya bagaimana caranya hari itu main-main seru bareng teman sekelas. Kalaupun ada konflik, paling masalah sepele dengan teman sekelas atau teman seangkatan tapi beda kelas atau teman satu jemputan. Sempit ya? Saya gak tau ini hanya terjadi sama saya saja atau kebanyakan orang merasakan hal yang sama. Saya, atau kita, gak peduli dengan yang namanya senior, junior, atau apapun itu. Semua anak dilihat dengan sama.

Masuk ke masa SMP. Ada perasaan aneh ketika memasuki fase baru dalam hidup. Sempat juga bertanya-tanya, "akan seseru apa ya nanti SMP?" karena saya akan pindah sekolah dan bertemu teman-teman baru. Sekolah baru saya adalah sekolah yang memiliki sekolah TK-SD-SMP yang berada di satu area. Jadi biasanya yang dulu sekolah di SD itu, kebanyakan akan masuk ke SMP itu juga. Boleh dibilang saya akan menjadi anak yang benar-benar baru. Hari pertama masuk sekolah adalah masa orientasi siswa atau biasanya disebut MOS. Pertama kali mau masuk kelas, di depan pintu masuk sudah ada segerombolan anak perempuan dengan seragam putih biru. Anak kelas 1 masih harus pakai seragam putih merah kala itu, jadi saya tahu kalau mereka adalah kakak kelas. Perasaan khawatir jelas ada karena wajah yang mereka tampilkan...tidak ramah. Saya memasuki kelas dengan takut-takut dan ternyata kelas masih sepi. Namanya juga masih pagi, keinginan untuk buang air kecil pun muncul dan kalau mau ke kamar mandi otomatis harus melewati gerombolan anak kelas 3 tadi. Saya takut, tapi dari pada saya ngompol, lebih baik nekat dan anggap saja angin lalu. Ternyata mereka tidak mau dianggap angin lalu. Kata "permisi" itu tidak cukup bagi mereka.

"Eh elo, kalau lewat kakak kelas itu nyapa dong. Lewat-lewat aja, gak sopan banget.."

Kalimat yang terlontar dari (yang kelihatannya adalah) si ketua geng berhasil memuat bulu kuduk saya merinding. Bagaimana tidak..saya tidak kenal mereka, wajah mereka tidak ramah, mereka lebih tua dari saya, dan mereka menegur saya dengan nada yang ketus. Lalu sebelum masuk kelas, mereka memanggil saya lagi dan bilang, "Eh, nanti bilang ya sama temen-temen lo yang lain, jangan lupa nyapa kakak kelas kalau lagi jalan.." dan saya cuma bisa mengangguk mengiyakan. I was cupu back then, gak berani melawan. Predikat "anak baru jadi iya aja' selalu jadi pembelaan saya ketika ada yang menyuruh saya untuk melawan.

Kelas 1 SMP boleh dibilang pertama kalinya saya kenal dengan yang namanya perploncoan di sekolah. Dulu saya tidak tahu kalau tekanan dari senior dan sindiran merupakan salah satu bentuk bullying. Buat saya "oh itu hal yang wajar, kan saya junior.." Dan bukan saya saja yang mengalami bullying di sekolah, teman-teman yang lain juga mengalaminya, dan sebagian besar anak perempuan. Hal itu jadi pertanyaan saya sekarang, "Kenapa yang lebih banyak mengalami penindasan dan yang menindas adalah anak perempuan?"


Oh iya, satu lagi, saya bukan hanya merasakan penindasan oleh senior, tetapi juga dari teman seangkatan saya. Penindasan sosial dimana sebagian besar anak perempuan yang "berkuasa" di angkatan saya menjauhi dan menyebarkan cerita buruk tentang saya. Rasanya? Gak enak.

Pikiran saya saat itu cuma mendoakan agar anak-anak kelas 3 itu cepat lulus dari sekolah ini dan gak muncul-muncul lagi. Jadi saya dan yang lainnya terbebas dari tekanan mereka. Saya sudah siap untuk naik ke kelas 2 dan bersekolah dengan damai. Namun saya salah......

Masuk tahun kedua di SMP membuat saya berpikir semua akan baik-baik saja. Saya pikir saya akan bebas dari tekanan senior. Namun seakan starus sosial mengatakan "A..a..a...tunggu dulu. Siapa bilang kamu boleh tenang?" Kelas 2 SMP itulah masa dimana perploncoan terasa lebih brengsek dari sebelumnya. Kelas 3 yang sekarang seakan sudah menanti-nanti untuk melabrak angkatan saya. Dulu tidak bisa karena masih ada angkatan sebelumnya, yang walaupun suka menekan tetapi juga berperan "melindungi" kami. Saya juga bingung bagaimana cara menjelaskannya. Mungkin kalau dengan kalimat langsung akan berbunyi demikian...

"Lo jangan sentuh anak kelas satu itu karena mereka masih 'jatah' kami. Awas aja berani macem-macem.."

Serem ya? Sebegitu berkuasanya anak kelas 3. Saya ingat saya pernah dipanggil oleh anak kelas 3 waktu saya kelas 2. Mereka bilang saya gak sopan dan tatapan mata saya nyolot. Saya bingung karena menurut saya muka saya biasa saja karena dari dulu memang sudah begini. Dan sepertinya dulu wajah saya bukan masalah bagi sekitar. Lalu mereka menyuruh saya untuk gak 'nyolot' lagi. Kali ini saya tidak mau diam saja, saya melawan. Saya capek kalau harus iya-iya saya ke mereka. Saya bilang, "menurut gue muka gue biasa aja karena dari dulu begini adanya. Mungkin kalian aja yang over sensitive.." dan BAAAAM!! muka mereka pucat pasi. I felt like a winner that day.

Ada kepuasan tersendiri bisa menjawab tudingan mereka. Meskipun setelah saya harus menanggung beban dipelototin dan disindir setiap lewat depan mereka. Tapi itu tidak bertahan lama karena entah bagaimana prosesnya saya dan teman-teman berdamai dengan mereka.

Masuk tahun ketiga. Tahun ini bisa dibilang saya hampir punya segalanya. Saya punya teman-teman satu geng yang merupakan pentolan di sekolah, saya kesayangan guru-guru di sekolah karena perilaku baik saya, dan saya aktif di kegiatan ekstrakurikuler yang populer di sekolah. Satu lagi, saya dekat dengan junior-junior saya. Apalah yang dibutuhkan seorang anak SMP selain kepopuleran? Dulu mana mikir tentang nanti mau jadi apa walaupun sudah punya cita-cita. Yang penting saya dikenal oleh banyak orang, meskipun saya bukan 'ketua geng'. Memikirkan hal itu, saya jadi geli sendiri. Dulu saya pikir saya hebat, tapi ternyata tidak.

 
Awalnya saya memutuskan untuk tidak melakukan aksi bullying terhadap junior saya karena saya tahu rasanya gak enak. Tapi berada di lingkungan 'teratas' membuat saya mau gak mau harus membuktikan sesuatu. Bodohnya, saya malah jadi salah satu the bullies. Hal ini karena ada salah satu junior kelas satu yang buat kami 'nyolot'. Kalau diingat-ingat, saya emang pantas tertawa. Menertawakan diri sendiri tepatnya. Saya seperti balas dendam terhadap anak ini. Pikir saya "saya dulu ditindas karena saya nyolot, kenapa saya gak berlaku hal yang sama?". Bodoh, bodoh sekali. Saya merasa harus menunjukkan kekuasaan saya atas junior-junior ini, menunjukkan siapa senior mereka. Dan kalau diingat-ingat, itu bukan hal yang membanggakan. Tapi puji Tuhan, Dia masih sayang sama saya dan bikin saya sadar kalau itu bukan hal yang seharusnya saya lakukan. Masa SMP saya berakhir dengan damai karena akhirnya saya tetap jadi kakak kelas yang baik. Sebenarnya ada hal yang jadi ganjalan di hati saya, yaitu apakah anak yang saya bully masih menyimpan dendam sama saya... :(

Saya juga merasa menyesal kalau ketika kuliah ada yang merasa di bully ketika masa orientasi mahasiswa. Walaupun maksud saya bukan untuk mem-bully, tapi saya gak tau tanggapan orang bagaimana. Yang pasti kalau ada pun, saya menyesal. Rasanya tulisan kali ini selain sharing tentang pengalaman bullying saya, saya juga seperti melakukan pengakuan dosa.

Last thing, being bullied is awful and bullying other people is the most awful action ever.

xoxo, gabriella

19.3.13

Tulus..

Kenapa ya berkali-kali saya diingatkan lagi tentang 'ketulusan'? Mungkin selama ini saya masih dinilai kurang tulus. Beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengan salah satu dosen saya dan teman pustakawan saya lewat media sosial. Saya mengeluh, sampai ingin menangis karena merasakan berbagai tekanan. Sebenarnya bukan tekanan juga, tapi ketika kamu disarankan untuk melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahan besar dan bergengsi, sedangkan hati kamu tidak ingin, menurut saya itu sudah merupakan tekanan.
Alasan gaji besar, jaminan kesehatan, dan besarnya fasilitas kantor, tidak membuat saya jadi tergiur. Untuk sekarang saya lebih ingin menggali keinginan saya. Saya ingin menulis. Saya ingin menari. Saya ingin apapun selain bekerja di perusahaan minyak atau penerbangan.
Saya takut nanti saya hanya bekerja untuk uang, bukan memenuhi hasrat saya. Apa jadinya kalau saya bekerja, memiliki uang banyak, namun hati saya hampa? Mungkin terdengar naif, tapi untuk sekarang itulah keinginan saya. Bekerja untuk memenuhi hasrat. Saya ingin bekerja dengan tulus.Ingin sekali.

28.1.13

Kepada Engkau Sang Penebus


Kepada Engkau Sang Penebus, 
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Hari ini tidak akan sebahagia ini kalau bukan karena Engkau mengijinkan semuanya terjadi. Hari ini aku kembali dari kampus dengan gelar sarjana. Terima kasih, Bapa.
Aku lemah, namun Engkau menguatkan. Aku ragu, namun Engkau meyakinkan. Aku berkekurangan, namun Engkau mencukupkan semuanya. Terima kasih, Bapa. 
Terima kasih seribu… 

26.1.13

Berpikir Ulang

Audrey: Mah, nanti kira-kira kalau aku punya anak, mamah bakal mau bantuin aku ngurus mereka ga?
Mamah: Ha? Maksudnya ngurus?
Audrey: Ya, kalau misalnya aku ada keperluan apa gitu, aku titipnya ke mamah..
Mamah: Ya boleh aja, asal kamu bawa baby-sitter aja. Jadi mamah bukan ngejagain anak kamu, tapi nemenin anak kamu main. Yang ngurus lain-lainnya tetep baby-sitter dia.
Audrey: Oh gitu?
Mamah: Iya lah. Mamah mah ya kak tugasnya sudah selesai ngurus kamu sama Joshua. Kalau harus ngurus anak kamu lagi, kapan mamah sama papah istirahatnya? Itu sekarang udah jadi tugas kamu buat jadi ibu. Nanti kalau kamu sama Joshua sudah berkeluarga, kerjaan mamah papah mah senang-senang, jalan-jalan ke luar negeri berdua..

Percakapan sederhana lainnya antara saya dengan Ibu Aigrim, mamah saya. Saya pernah berpikir, mudah kali ya untuk jadi ibu jaman sekarang. Kalau kamu punya anak, apalagi pengalaman anak pertama, kamu bisa bergantung sama orang tua kamu untuk mengurus si anak. Saya melihat banyak kejadian seperti ini dimana si anak perempuan menitipkan bayinya kepada si ibu, sementara ia bekerja atau (yang parahnya) jalan-jalan bersama teman-temannya. Hal ini memang terjadi di salah satu kenalan saya, dan ini merupakan hal yang serius.

Ia menikah di usia yang boleh dibilang muda, 22 tahun, dan kami anggap ia akan baik-baik saja karena ia menikahi seorang pria yang mapan. Ia memiliki anak di usianya yang ke-23, dan semenjak itu ia sering bolak-balik ke rumah orang tuanya untuk menitipkan anak laki-lakinya tersebut. Ia memberikan uang, susu, makanan, dan lain sebagainya. Ia bilang, "kurang apa lagi?". Suatu hari si ibu seperti sudah lelah dan memutuskan untuk tidak meneriman "jasa penitipan" lagi dari si anak perempuan. Ia lelah, ia merasa sudah terlalu banyak mengurus, karena sesungguhnya ia masih punya tanggungan mengurus 2 anak kandung lainnya.

Kejadian ini dan percakapan di atas seakan membuat potongan mozaik yang tadinya terpecah belah menjadi satu kembali. Memberi peringatan juga bagi saya, kalau sudah siap untuk berkeluarga, tandanya saya harus siap untuk lepas dari ikatan keluarga yang lama. Bangun rumah yang baru, lalu pindah. Tapi bukan berarti memutuskan ikatan keluarga, karena itu tidak akan bisa. Kalau sudah menikah, kebergantungan saya bukan lagi kepada ayah dan ibu saya, tapi kepada keluarga saya yang baru, yaitu suami. Pada awalnya mereka tidak akan menolak permintaan kamu, tapi hati siapa yang tahu? :)

Your parents have had enough, you cannot burden them anymore. Think about it.

18.1.13

Sepucuk Surat Cinta untuk Bilqi



When peace like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou hast taught me to say,
It is well, it is well, with my soul

                                        
                                          -Horatio Spafford

Ketika mendengar begitu banyak berita tentang sakitmu, hati ini rasanya seperti dihantam beribu pukulan. Sakit. Lalu dalam sekejap begitu banyak ingatan tentang kamu muncul ke permukaan. Tapi satu yang paling menonjol di pikiran ini, yaitu pipi kamu, Bil. Ha ha, iya Bilqi, pipi kamu yang begitu tembam pasti yang jadi kenangan semua orang. Pipi yang sering menjadi target usil semua orang. Kamu orangnya baik, Bil, baik sekali. Senyum tidak pernah pergi dari wajah kamu, selalu mengembang tiada lelah. Kamu itu kesayangan semua teman kamu, Bilqi. 

Malam ini, ketika hendak bersiap untuk tidur, berita itu akhirnya sampai juga. Kamu sudah berjalan jauh. Berjalan ke tempat dimana kami teman-temanmu sudah tidak dapat menggapai kamu dengan tangan telanjang. Rasa sedih melanda, kaget, marah, semua campur aduk. Kami kehilangan kamu, Bilqi. Seorang yang kami yakini sebagai pejuang tangguh, yang tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Kami sayang kamu, Bil, dan doa untukmu tidak mungkin terhenti dari mulut kami. 

Puji Tuhan, sakitmu sudah tidak terasa lagi kan, sayang? Kamu pasti sudah merasa jauh lebih enak sekarang. Selamat jalan, Bilqisti Qiyamul Haq. Kesayangan kami, sahabat kami, semoga senyum kamu tetap mengembang dan pipi kamu tetap menggemaskan. Kami mengasihi kamu, tetapi kamu adalah milik-Nya. :)

"Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." (Galatia 6:9)

7.1.13

Uh...SNAP!



Saya kemarin malam habis baca-baca bahan skripsi saya. Judulnya "Feminist Thought" karya Rosemarie Putnam Tong. Dari judulnya pasti ketebak kan bukunya tentang apa? Iya, tentang kajian feminisme yang nyerempet-nyerempet skripsi saya. Awalnya saya santai-santai saja membaca tulisan-tulisannya yang banyak membahas Freud tentang psikoanalisis maskulinitas dan femininitas. Tapi ketika sudah masuk pembahasan tentang Oedipus complex, saya merinding. Saya sudah pernah membaca sebelumnya tulisan Freud tentang seksualitas, tapi mungkin karena ini dijabarkan dalam bahasa Indonesia, jadi efeknya lebih "ngena". Di sana dijabarkan bagaimana proses terbentuknya maskulinitas pada anak laki-laki dan femininitas pada anak perempuan, dari mereka bayi sampai dewasa.

Ada satu yang menyentil saya. Dikatakan cinta pertama seorang bayi itu adalah ibu mereka. Namun seiring dengan berjalannya waktu, semakin dewasa dan mengerti, si anak akan tahu kalau mereka tidak dapat memiliki ibunya, karena ia sudah dimiliki oleh ayah mereka. Untuk anak laki-laki, ia akan mencari kompensasi yaitu ke saudara perempuannya. Pada kasus anak perempuan, karena ia tadinya beralih ke ayahnya (untuk memuaskan hasrat seksualnya) maka ia akan mencari sosok ayah di dalam laki-laki lain, entah itu abangnya atau laki-laki lain.

Perhatian saya tertuju pada istilah "abang". Saya anak sulung perempuan di keluarga dan memiliki satu adik laki-laki. Dulu ketika masih duduk di bangku SMA, saya dekat dengan teman yang sudah saya anggap abang saya sendiri. Namun sayangnya, perasaan sayang saya tidak bersambut karena dia benar-benar cuma menganggap saya adik. Sedih. Tapi yang jadi fokus saya adalah, saya baru sadar kalau selama ini kedekatan saya sama laki-laki itu sebenarnya dalam tahap dimana saya mencari orang yang bisa ngemong saya sebagai pengganti ayah saya. Makanya gak heran sih kalau ada anak perempuan yang mencari pasangan "Saya mau suami yang seperti ayah saya".

Merinding karena semua yang diungkapkan oleh Freud kebanyakan benar dan masuk akal, walaupun jadi memperlihatkan bagaimana perempuan itu mahluk yang lemah dan minor sekali. Banyak yang menentang juga karena tidak mau dipandang lemah. Kalau saya secara pribadi sih antara peduli dan tidak, karena akhir-akhir ini saya belum mau peduli dulu dengan pendapat orang lain. Jadi memandang dari luar saja.