Skip to main content

Cinta Bersemi Kembali

Kamu tahu rasanya cinta yang bersemi kembali?

Rasanya seperti ketika kamu berada di tengah musim kemarau yang panjang, lalu tiba-tiba hujan turun. Ia tidak turun dalam deras, tapi perlahan jatuh dalam gerimis. Pertama ia jatuh di atas ubun-ubunmu, lalu perlahan membasahi rambut yang hitam legam. Butiran-butiran berikutnya mulai jatuh ke atas kulitmu, mulai dari wajah, lalu turun ke leher, melewati tulang selangkamu, dan akhirnya menyambahi dadamu.

Ia tidak tergesa-gesa dan memaksa, karena ia ingin kamu menikmati setiap tetesannya. Walaupun mungkin ada rasa kesal karena penampilanmu bisa menjadi kuyu karenanya, tapi kamu tidak bisa memungkiri kalau kau rindu padanya. Belum lagi sensasi petrikor yang ia buat setelah ia merebahkan diri di tanah gersang itu. Ah, nikmat. Kau bisa menghabiskan waktu yang lama hanya untuk berdiam diri mengamati ia membuat tanah itu bisa bernapas lagi. Mungkin bau kopi di pagi hari bisa kalah nikmat bila dibandingkan dengan bau hujan ini.

Genangan-genangan air yang ia buat juga cukup menyenangkan untuk kamu ajak bermain. Mungkin akan membuat kakimu sedikit kotor, tapi kotor itu bisa terlupakan ketika basah telah menimbulkan rasa nyaman. Membayangkannya saja bisa membuatmu berdesah rindu. Yang sekarang bisa kamu harapkan adalah agar sang hujan bukan hanya datang untuk sejenak, tapi untuk beberapa bulan ke depan. Tapi jikalau itu memungkinkan, mungkin sang hujan bisa datang sesekali. Sekedar untuk menyejukkan, sekedar untuk melepas rindu.

Comments

Popular posts from this blog

Kamu Kan Perempuan, Seharusnya Kamu....

Pernah mendengar seseorang mengucapkan kalimat seperti itu di depanmu? Saya, sih, sering. Mulai dikomentari dari segi penampilan dan keahlian, tapi juga dari pilihan musik dan masih banyak lagi. Banyak perempuan di luar sana yang mengeluh merasa didikte oleh laki-laki dengan kalimat ini, tapi entah mengapa saya merasa kalimat ini dilontarkan lebih banyak oleh sesama perempuan. Hal ini menjadi miris buat saya. Bukannya saling memberi dukungan, terkadang sesama perempuan justru saling menghakimi. Penghakiman itu biasanya dimulai dengan kalimat, "Kamu kan perempuan, seharusnya kamu..." 1. "...berpakaian rapi." Saya termasuk perempuan yang suka berpenampilan rapi, tapi kadang juga suka mengikuti mood. Jadi ketika saya ingin tampil rapi, saya bisa saja mengenakan rok span, blouse, serta clog shoes ke kantor. Namun kalau sedang ingin tampil kasual dan malas tampil rapi, saya biasanya memakai kaos, jeans, dan sneakers . Suatu hari saya pernah berpenampil...

4 Perubahan Sebelum Menginjak 27 Tahun

Ketika umur saya sebentar lagi menginjak angka 27 tahun, mungkin saya adalah orang yang paling menghayati lagunya Taylor Swift, yang berjudul "22". Bukan karena saya nge-fans sama Ms. Swift, tapi saya merasa saya berhenti bertumbuh secara mental di umur 22.....atau 24 tahun lah paling mentok. Bahkan salah satu dosen saya pernah bilang kalau saya berhenti bertumbuh di umur 8 tahun. ( Yes, it was you, Pak. Huft.) Saya enggak pernah merasa bertambah dewasa, padahal umur sudah hampir kepala TIGA. Namun ternyata itu enggak sepenuhnya benar, karena ternyata setelah bertemu dengan teman saya, ada beberapa hal yang saya sadari telah berubah di diri saya seturut dengan bertambahnya umur. Setelah disimpulkan, saya bisa menyebutkan 4 perubahan pola pikir di dalam diri Audrey Gabriella, yang paling saya sadari. Banyak memaklumi keadaan Bisa dibilang saya orang yang agak kaku kalau soal aturan dan prinsip. Saya bisa merasa terganggu kalau prinsip yang saya anut enggak diterapka...

Jakarta itu Keras

Selain penis, ternyata ada juga yang bisa keras, yaitu Jakarta. Kalau ada yang bilang “Ah, itu bisa-bisaan orang yang tinggal di Ibu Kota aja. Enggak sekeras itu, kok,” tandanya dia enggak pernah tinggal lebih dari setahun di Jakarta. Dua hari yang lalu, seperti biasa saya menikmati saat-saat morning walk dari stasiun menuju kantor. Biasanya jalan pagi ini aman dan tentram (walaupun matahari dan asap knalpotnya enggak santai), tapi kali ini ada yang berbeda. Ketika melewati jembatan Tosari, saya melihat kejadian pencopetan dengan mata kepala saya sendiri. Saya yang sebelumnya enggak pernah lihat kejadian orang dicopet secara langsung jadi agak bengong. Prosesnya cepat banget dan modusnya kebaca. Ada 4 bapak-bapak (yang sepertinya umur 50an dan sudah beranak istri), yang satu akting menjatuhkan barang dan yang satu lagi bertugas mengambil dompet di saku belakang si korban. Yang dua lagi sepertinya bertugas mengalihkan perhatian orang-orang. Rasanya ingin berteriak “copeeeet!” tapi sa...