Skip to main content

Halo, Desember!

Merasakan jatuh cinta, lalu patah hati. Merasakan bagaimana harus bertahan dan mengendalikan diri sendiri. Merasakan rasanya jauh dari teman-teman terdekat, lalu menemukan sahabat-sahabat baru. Merasakan bagaimana rasanya berjuang sendiri, lalu merasakan juga rasanya didukung oleh orang-orang yang di luar perkiraan. Merasakan bagaimana rasanya ditolak, lalu ada yang memeluk dengan tangan terbuka. Merasakan bagaimana rasanya dibohongi, lalu dihujani dengan kejujuran dari banyak orang. Merasakan sakitnya jatuh karena ditinggal, lalu ada saja yang kembali mengulurkan tangannya untuk mengangkat kembali tubuh ini. Merasakan bagaimana jatuh cinta lagi, patah hati lagi, jatuh cinta lagi, dan patah lagi. Merasakan luka di hati, lalu ada yang membalut luka itu sehingga tidak tersisa kepahitan. Merasakan bagaimana menjauh dari Tuhan, lalu kembali ditarik supaya mendekkat. Tapi dalam segala perkara, aku tidak pernah dibiarkan-Nya sampai tergeletak.

Terima kasih, Bapa Sorgawi telah mengantarkan aku sampai bulan Desember ini. Biarlah semua itu terjadi, menjadi pembelajaran bagiku dan menguatkan aku lebih lagi. :))

Comments

Popular posts from this blog

Kamu Kan Perempuan, Seharusnya Kamu....

Pernah mendengar seseorang mengucapkan kalimat seperti itu di depanmu? Saya, sih, sering. Mulai dikomentari dari segi penampilan dan keahlian, tapi juga dari pilihan musik dan masih banyak lagi. Banyak perempuan di luar sana yang mengeluh merasa didikte oleh laki-laki dengan kalimat ini, tapi entah mengapa saya merasa kalimat ini dilontarkan lebih banyak oleh sesama perempuan. Hal ini menjadi miris buat saya. Bukannya saling memberi dukungan, terkadang sesama perempuan justru saling menghakimi. Penghakiman itu biasanya dimulai dengan kalimat, "Kamu kan perempuan, seharusnya kamu..." 1. "...berpakaian rapi." Saya termasuk perempuan yang suka berpenampilan rapi, tapi kadang juga suka mengikuti mood. Jadi ketika saya ingin tampil rapi, saya bisa saja mengenakan rok span, blouse, serta clog shoes ke kantor. Namun kalau sedang ingin tampil kasual dan malas tampil rapi, saya biasanya memakai kaos, jeans, dan sneakers . Suatu hari saya pernah berpenampil...

4 Perubahan Sebelum Menginjak 27 Tahun

Ketika umur saya sebentar lagi menginjak angka 27 tahun, mungkin saya adalah orang yang paling menghayati lagunya Taylor Swift, yang berjudul "22". Bukan karena saya nge-fans sama Ms. Swift, tapi saya merasa saya berhenti bertumbuh secara mental di umur 22.....atau 24 tahun lah paling mentok. Bahkan salah satu dosen saya pernah bilang kalau saya berhenti bertumbuh di umur 8 tahun. ( Yes, it was you, Pak. Huft.) Saya enggak pernah merasa bertambah dewasa, padahal umur sudah hampir kepala TIGA. Namun ternyata itu enggak sepenuhnya benar, karena ternyata setelah bertemu dengan teman saya, ada beberapa hal yang saya sadari telah berubah di diri saya seturut dengan bertambahnya umur. Setelah disimpulkan, saya bisa menyebutkan 4 perubahan pola pikir di dalam diri Audrey Gabriella, yang paling saya sadari. Banyak memaklumi keadaan Bisa dibilang saya orang yang agak kaku kalau soal aturan dan prinsip. Saya bisa merasa terganggu kalau prinsip yang saya anut enggak diterapka...

my taurus-mate, Mellysa Anastasya Legi.

Saya gak tau gimana ceritanya kami berdua bisa begitu mirip secara kelakuan dan cara berpikirnya. Saya gak ngerti kenapa teman saya ini walau cantik luar biasa tapi kelakuannya sama aja cacatnya sama saya. Saya gak ngerti. Tapi yang saya ngerti, kami sama-sama MUREEEEE... :D